Selamat Hari Kartini 2018, Batik Bermotif Parang Bukti Ketangguhan Kartini

Heeiii, Selamat Hari Kartini 2018 para perempuan Indonesia. Salam hangat dari kami Prajnaparamita Indonesian Batik. Hari ini adalah hari yang menjadi bukti emansipasi wanita yang juga diperjuangkan oleh salah satu perempuan Indonesia yaitu Raden Ajeng Kartini.

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879, meninggal di Rembang, Hindia Belanda, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.

Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.

Sebagai perempuan Jawa pada umumnya, Kartini terikat dengan berbagai adat Jawa yang mengharuskan perempuan mangikuti aturan adat tersebut, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Oleh karena itu setelah beliau menikah, beliau mendirikan sekolah perempuan bumiputera untuk memberikan harapan pada perempuan Nusantara yang lebih memiliki pendidikan dan memiliki pandangan yang luas.

Pada zaman kartini, penggunaan batik masih menjadi sebuah adat pakaian tersendiri setelah kemben, terutama karena pengaruh Hindia-Belanda. Namun pemakaian batik sebagai paduan kebaya masih tetap dipertahankan untuk mengikuti nilai dan norma adat Jawa pada masanya.

Dan dari berbagai foto lama, dapat kita lihat bahwa seorang Kartini banyak memakai motif batik parang sebagai paduan kebayanya. Mungkin bagi orang awam, motif ini terlihat biasa saja, tetapi faktanya bahwa banyak filosofi yang terkandung dalam batik bermotif parang tersebut.

Sengaja, hari ini kita akan membahas motif batik parang yang dalam berbagai sumber foto banyak ditemukan beliau menggunakan batik yang bermotif parang. Batik bermotif parang sendiri bermakna seorang prajurit atau seorang ksatria yang mampu memberikan pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu, motif parang yang dipakai Ibu Kita Kartini memberikan sebuah paradigma bahwa beliau adalah seorang pemberani, dan seorang yang memiliki cita-cita yang tinggi. Perempuan pada masa Kartini memang hanya memiliki tugas dapur, kasur dan sumur, artinya bahwa perempuan pada masa itu hanya bertugas memasak di dapur, melayani suami di kasur, dan pekerjaan perempuan pada umumnya.

Dalam motif batik parang tersebut mengungkapkan bahwa pemakainya diharapkan memiliki keberanian dan ketangguhan untuk menjalani kehidupan. Dan sekaligus mampu menjadi contoh yang baik bagi masyarakat.

Semoga dengan peringatan Hari Kartini 2018 ini tetap menjadi titik tolak bagi perempuan Indonesia untuk tetap menjadi perempuan inspiratif dan bermanfaat bagi dunia.

Selamat Hari Kartini, Terima Kasih Kartini

Salam Hangat Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Batik Indonesia : Parang Bukti Ketangguhan Kartini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *