Batik Klasik Semen Rama dalam Konsep Kosmologi Budaya Jawa Kuno

Batik klasik dalam konsep kosmologi budaya Jawa kuno. Sebagai salah satu ragam hias budaya Indonesia, Batik Klasik Semen Rama adalah salah satu yang memiliki filosofi tersendiri dalam kehidupan manusia Jawa. Seperti juga budaya wayang kulit yang juga memiliki berbagai falsafah kehidupan umat manusia.

Guna memahami sebuah hasil budaya termasuk kesenian, maka dipandang perlu untuk mengenal dan memahami berbagai aspek yang melatarbelakangi kemunculan dan berkembangnya keberadaan sebuah hasil budaya tersebut.

Demikian pula jika kita ingin memahami tentang seluk-beluk seni batik pedalaman, sudah barang tentu kita perlu memahami pandangan maupun konsepsi dasar budaya masyarakat Jawa pedalaman itu sendiri sebagai penyokongnya.

Pandangan masyarakat Jawa mengenai kosmologi, menjelaskan hubungan di antara mikro-makro-metakosmos yang didasari oleh pemikiran budaya mistis Indonesia pada umumnya. Makrokosmos mendudukkan diri manusia sebagai bagian dari alam semesta.

 

Ia harus menyadari kedudukannya dalam jagad raya. Menurut pemahaman ini, maka korelasi antara alam, manusia, dan pencipta-Nya merupakan satu kesatuan yang utuh, sehingga manusia wajib menjaga harmoni kehidupan, menjaga kelestarian alam, dan (manembah/manunggal) dengan Sang Khalik, yang juga disebut sebagai Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Sang Hyang Akarya Jagad.

Dalam masyarakat tradisional Jawa pedalaman yang berada di wilayah keraton seperti di Yogyakarta, prinsip mengenai kharismatik sebagai bentuk kekuasaan dan pengaruh berpangkal pada konsep kekuasaan yang keramat. Pandangan tersebut mengarah kepada pemahaman, bahwa kekuasaan raja dianggap sebagai sesuatu yang sakral, sehingga rakyat mengakui kelebihan-kelebihan dari seorang raja dengan konsekuensi selalu tunduk dan patuh terhadap segala peraturan, norma, dan larangan yang ditentukan oleh raja tersebut.

Latar belakang perspektif pemahaman tersebut menyatakan, bahwa raja merupakan pemusatan kekuasaan kosmis dan raja merupakan figur yang memusatkan suatu takaran kekuatan kosmis yang besar. Kekuatan ini sering digambarkan sebagai sebuah lensa yang memusatkan cahaya matahari ke bumi.

Apabila kesaktian seorang raja semakin tinggi, maka keadaan akan semakin tenang dan sejahtera. Sebaliknya, apabila gejala alam tidak bersahabat, banyak bencana, dan kondisinya tidak aman dan tenteram, maka dapat diartikan sebagai kemunduran kesaktian seorang raja sebagai penguasa, yang berarti pula kemampuannya surut, bahkan lepas dari pusat kekuatan adikodrati.

Konsep kuno mengenai kekuasaan raja di wilayah Asia Tenggara termasuk di Indonesia, memandang kerajaan-kerajaan sebagai wujud mikrokosmos, dengan raja sebagai pelaku utama yang bertugas mempertahankan keserasian antara mikrokosmos dan makrokosmos (jagad raya).

Konsep pemerintahan raja-raja di Jawa ini mengacu pada konsep Devaraja. Dengan mengacu sistem ini jelas sekali bila sistem kenegaraannya bersifat absolut. Hanya saja ketika Belanda mulai berkuasa, absolutismenya menjadi semu (pseudo-absolutisme), karena sejak Kerajaan Mataram Islam pecah menjadi dua berdasarkan perjanjian Giyanti, yaitu menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1755, pengangkatan atau penobatan seorang raja harus mendapat pengesahan dari Gubernur Jenderal Belanda.

Dengan demikian, maka kebesaran raja hanya di hadapan masyarakat Jawa sendiri, sedangkan di hadapan Belanda para raja harus menyatakan tunduk. Dalam konsepsi kerajaan Jawa dikenal dengan sebuah doktrin yang disebut keagungbinatharaan. Menurut konsep ini, raja berkuasa secara absolut, namun harus diimbangi dengan kewajiban moral yang besar bagi kesejahteraan rakyatnya.

Salah satu tugas raja adalah njaga tata tentreming praja (menjaga supaya masyarakat teratur agar ketentraman dan kesejahteraan terpelihara). Kekuasaan yang absolut diperuntukkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat yang diperintah oleh raja tersebut.

Raja juga dituntut untuk menjunjung tinggi kewajibannya memberikan keadilan, kebijaksanaan, bimbingan, dan suri tauladan. Sebaliknya, rakyat juga mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakannya (ngemban dhawuh dalem). Dengan demikian, hubungan antara raja dan rakyat berlaku prinsip yang disebut jumbuhing atau pamoring kawula-Gusti.

Dari penjelasan tersebut, maka pengertian mengenai latar belakang konsep budaya dan kepercayaan dalam masyarakat Jawa pedalaman sudah barang tentu juga ikut berkontribusi dan memiliki andil dalam mempengaruhi keberadaan seni batik sebagai salah satu produk budaya yang dihasilkan.

Konsep yang mendalam tentang pola pikir masyarakat Jawa di masa lampau itu, lebih lanjut mengilhami semua visualisasi karya seni, khususnya seni ornamen yang di dalam eksistensinya menjadi sarat dengan maksud dan simbolis tertentu dalam hubungannya dengan sangkan paraning dumadi.

Seni batik sebagai salah satu produk budaya adiluhung Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak terlepas dari faktor-faktor tersebut di atas, sehingga berkorelasi positif dalam penyajiannya, baik dari aspek visualisasi dari unsur-unsur ragam hias yang termuat, maupun makna yang terkandung di dalamnya.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa ragam hias batik klasik semèn mengacu pada ragam hias yang berunsur dasar alam. Visualisasinya dalam bentuk stilisasi memiliki nilai filsafati, yang meliputi kehidupan di udara, kehidupan di darat, dan kehidupan di air.

Berdasarkan paham triloka/tribuana, yaitu faham dari falsafah kebudayaan Hindu-Jawa, maka unsur-unsur kehidupan tersebut kemudian dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu alam atas (niskala), alam tengah (niskala-sakala), dan alam bawah (sakala). Hal ini nampak pada tata susun ragam hias yang termuat seolah terlukis dari atas yang memposisikan unsur ragam hias pohon hayat menjadi sentral, yang dikelilingi oleh unsur-unsur ragam hias yang lain sebagai penghubung atau sebagai jagad tengah (niskala-sakala).

Posisinya kemudian merupakan penyeimbang atau penghubung antara alam semesta atau jagad bawah (sakala) yang menuju ke-Esaan (niskala). Apabila dikaitkan dengan konsep mandala merupakan sebuah konsep hubungan interaksi yang membentuk satu kesatuan dan keseimbangan kosmos.

Panjang sekali pembahasan mengenai konsepsi budaya Jawa kita ya. Memang sangat luas budaya Jawa yang adiluhur, semoga dengan adanya artikel ini menambah kecintaan kita terhadap segala budaya Indonesia.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *