Explore Batik Tulis Indonesia, Rahasia dan Filosofi Warna Wedel (hitam) Batik Pedalaman

Selamat datang kembali di Prajnaparamita Indonesian Batik. Salam hangat dari kami, semoga kalian semua selalu dalam lindunganNya. Kali ini kita akan Explore Batik Tulis Indonesia tentang filosofi motif warna Sogan (merah Kecoklatan) batik pedalaman. Batik pedalaman adalah batik yang berkembang di wilayah pedalaman, cenderung jauh dari pesisir pantai dan mendapatkan pengaruh dari kebudayaan keraton dan kerajaan.

Dalam motif klasik batik tulis pasti tidak meninggalkan warna hitam sebagai salah satu warna yang dominan untuk pewarnaan batik. Warna hitam menambah pola pada batik menjadi lebih gelap dan tidak mencolok. Sehingga apabila dipakai akan memunculkan aura yang tenang dan sejuk.

Warna biru atau wedel diidentikkan juga sebagai warna hitam yang melambangkan watak angkara murka, serakah, ingin menguasai segalanya (nafsu lauwamah). Akan tetapi apabila dapat dikendalikan (diracut), maka warna hitam ini akan melambangkan sifat keabadian, kematangan, dan mumpuni (sanggup dan mampu melakukan segala hal).

Tanah mempunyai warna dasar hitam dan tempatnya di bawah menjadi tempat para kawula dan orang-orang biasa sebagai perlambang hidup dan kehidupan yang menggambarkan keadaan di bumi, juga melambangkan arah mata angin utara, di mana hari berakhir dalam kegelapan yang mendalam dan sunyi. Unsur warna hitam juga melambangkan akhir dari kehidupan manusia yang kembali ke alam baka menghadap Tuhan sang pencipta

Dari uraian dan penjabaran mengenai makna dari unsur-unsur ragam hias pokok pada batik klasik dan warna yang diterapkan, maka ragam hias batik klasik secara garis besar dapat dimaknai sebagai sebuah pandangan dan kesadaran akan hakekat keseimbangan, keselarasan, dan keharmonisan antara mikrokosmos dengan makrokosmos, yaitu hubungan antara manusia dengan alam semesta.

Sebagai penggambaran dari pertumbuhan, maka ragam hias batik klasik juga dapat dimaknai sebagai sebuah simbol representasi unsur-unsur alam, perwatakan jagad, kesuburan, dan kemakmuran. Dipahami sebagai proses pertumbuhan dan kelanjutan abadi, maka ragam hias ini dapat dikonotasikan sebagai sebuah proses regenerasi atau pembaharuan secara berkesinambungan.

Dapat pula ditarik suatu pemahaman yang utuh dan menyeluruh, bahwa ragam hias batik klasik intinya mengungkapkan atau merepresentasikan akan adanya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sebagai sumber asal mula kehidupan, pusat kekuatan, sumber kebenaran yang hakiki, dan abadi. Hal ini merupakan sebuah bentuk kesadaran dalam diri manusia akan hakekat kehadiran dirinya di dunia ini.

Bangsa Indonesia begitu beruntung diwariskan berbagai motif batik dan berbagai filosofinya, mulai dari bentuk motif sampai warna semua memiliki filosofi yang menuntun jalan kehidupan manusia di dunia. Selain itu, batik tulis klasik juga memiliki nilai historis tersendiri karena dibuat pada zaman yang tidak semodern sekarang ini.

Semoga batik tulis tetap berjaya dan berkembang menuju ke arah yang lebih baik lagi, sedikit banyak kita sebagai generasi selanjutnya harus bisa tetap melestarikan budaya batik.

Dari kami untuk Indonesia. Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *