Batik Tulis Klasik, Semakin Antik Semakin Rumit Motifnya

Selamat petang pengunjung setia Prajnaparamita Indonesian Batik di seluruh dunia, penduduk bumi yang ganteng dan cantik, alien planet lain, dan penduduk dunia lain yang sedang mainan smartphone. You know lah, kita tetap membahas batik, jangan bahas jodoh yee, hahaha.

Kembali lagi, kita membahas yang batik tulis yang klasik-klasik. Seperti barang antik lainnya, batik tulis Indonesia juga begitu, semakin memiliki harga yang tinggi apabila memiliki usia lebih dari 50 tahun, terutama di tangan para kolektor.

Mengapa begitu?

Seperti yang kita ketahui, batik tulis terutama yang klasik memiliki teknik pewarnaan alam yang notabene semakin awet dan semakin membuat motifnya terlihat kuno. Dengan perawatan yang semestinya, kualitas motif yang digambarkan pada kain akan semakin terlihat lebih menonjol.

Uniknya motif batik tersebut tidak luntur dan tidak merusak warna lain yang ada dalam sebuah motif batik tersebut. Misanya salah satu koleksi kami Semenan Sido Asih, atau motif yang sudah diakui UNESCO yaitu Udan Liris.

Meskipun sekarang sedikit banyak sudah dibuat kembali dengan teknik yang lebih modern, namun kedua batik itu tidak kalah apabila disandingkan dengan batik kontemporer zaman sekarang. Malah semakin menunjukkan sebuah citra klasik yang menarik para kolektor batik untuk dijadikan koleksi.

Motif Semenan Sido Asih ini masih memiliki warna yang tajam dan dengan wangi khas kain batik yang beradu dengan harumnya setiap tetesan malam.

Apa yang membedakan dengan batik kontemporer?

Tentu saja banyak berbeda, dari segi geometris lebih memiliki aspek simetris dan bentuk yang rapi, meskipun dengan motif pengulangan. Dibandingkan dengan motif kontemporer batik tulis yang meskipun memiliki geometri pengulangan yang serupa, namun pasti terdapat banyak perbedaan antara motif dalam satu kain batik tersebut.

Para pembatik klasik memiliki ketekunan dan ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan generasi sekarang ini. Dalam pengerjaan motif batik, seorang maestro batik mampu membuat isen-isen pada motif menjadi lebih bervariasi yang penuh kreatifitas.

Tidak jarang pembatik kontemporer memilih batik yang memiliki motif lebih simple, karena lebih cepat dijual dan lebih memiliki pasar yang luas. Daripada batik klasik yang memang memiliki pasar kolektor, museum atau pecinta batik tulis sejati.

Selain harganya yang sangat mahal, batik tulis klasik rasanya eman-eman apabila dibuat menjadi baju atau dress batik lainnya. Dengan adanya museum batik, maka batik tulis memiliki tempat yang sebenarnya, untuk dikenang generasi selanjutnya dimana batik tulis semakin bersejarah.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *