Batik News : Seru, Antusiasme Warga Austria Ketika Membatik

Wina – Batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi komunitas internasional. Tanpa terkecuali masyarakat Austria yang mendapat kesempatan untuk belajar membatik.

Puluhan masyarakat Austria antusias mempelajari teknik dasar pembuatan Batik dalam sebuah workshop yang diselenggarakan oleh KBRI Wina bekerja sama dengan Modul University di Wina, Selasa (6/3/2018). KBRI Dilansir dari keterangan pers KBRI Wina, workshop dibuka resmi oleh Wakil Kepala Perwakilan RI di Wina, Witjaksono Adji, dan diikuti oleh mahasiswa dan tenaga pengajar dari Modul University, pengurus dan anggota Lembaga Persahabatan Indonesia, serta para pecinta seni budaya Indonesia di Austria.

Dalam sambutannya, Wakil Kepala Perwakilan RI antara lain menjelaskan bahwa penyelenggaraan workshop Batik ini merupakan salah satu upaya Pemerintah RI untuk mempromosikan industri Batik Indonesia, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai luhur seni budaya Indonesia, kepada publik luas di Austria. Lebih jauh, Witjaksono Adji juga menjelaskan bahwa sejak tahun 2009 teknik membuat Batik telah terdaftar sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia untuk kategori Tak Benda yang diakui oleh UNESCO.

Workshop yang berlangsung selama dua jam tersebut diisi dengan presentasi dari Lisa Niedermayr, seorang pakar tekstil dari Academy of Fine Arts Vienna dan Dr. Jani Kuhnt Saptodewo, mantan kurator Weltmuseum Vienna. Dalam paparannya, Lisa Niedermayr menjelaskan soal proses pembuatan karya seni tekstil dan kerajinan tangan di Austria yang menggunakan bahan pewarna tradisional dari tumbuhan yang menghasilkan warna biru Indigo. Diungkapkan pula berbagai pola-pola tekstil yang menjadi ciri khas beberapa daerah di Austria, seperti Burgenland dan Bad Leonfelden, dengan keindahan alam sekitar wilayah tersebut sebagai sumber inspirasinya.

Sementara itu Dr. Jani Kuhnt Saptodewo menjelaskan mengenai filosofi Batik, serta sejarah koleksi ratusan Batik kuno yang dimiliki Weltmuseum. Dr. Saptodewo menyebutkan bahwa Batik tiba di Austria sejak tahun 1858. Saat itu, kerajaan Austro-Hungaria telah mengirimkan wakilnya untuk melakukan ekspedisi keliling dunia. Wakil kerajaan Austro-Hungarian kemudian tiba di Batavia pada Mei 1858 dan sempat bertemu dengan penguasa daerah
Cianjur dan Bandung. Dalam pertemuan tersebut, delegasi Kerajaan Austro-Hungaria lantas dihadiahi sejumlah benda-benda berharga, termasuk beberapa kain Batik yang saat ini menghiasi Gallery of Indonesia di Weltmuseum.

Setelah mendapatkan penjelasan singkat mengenai Batik, para peserta kemudian melakukan praktek membuat batik yang dipandu oleh Yosfiarso, seorang seniman Batik asal Yogyakarta yang saat ini bermukim di Klagenfurt, Austria. Para peserta terlihat sangat serius menjalani tahap-tahap proses pembuatan batik mulai dari pembuatan pola dengan lilin cair, pewarnaan, pengeringan, hingga fiksasi. Meski baru pertama kali melihat canting, para peserta tampak sangat percaya diri dalam menggunakan alat membatik tradisional tersebut.

“Jadi kita akan membuat kain seindah itu?”, tanya Michael Stauber, salah satu pengurus Modul University, dengan nada antusias sambil menunjuk sebuah kain Batik tulis yang dipamerkan di ruangan workshop. Antusiasme staf dan mahasiswa Modul University kian memuncak saat mereka mulai bisa melihat hasil pewarnaan dimana masing-masing pola Batik mulai terlihat jelas pada kain yang digunakan. “Ini adalah sebuah masterpiece”, kata salah satu peserta dengan gembira saat melihat hasil Batiknya.

Source

Posted in Batik News and tagged , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *