Perkembangan Industri Batik Masyarakat Surakarta Setelah Tahun 1900

Sementara proses industrialisasi berkembang pesat di Eropa, Indonesia pada zaman kolonial juga mendapatkan pengaruh tidak langsung dari industrialisasi tersebut. Industri pakaian, terutama batik, menjadi kegiatan industri yang banyak dikerjakan oleh kaum perempuan pada zaman tersebut.

Produksi batik pada awal-awal akhir abad ke-19 dan memasuki abad ke-20 telah menunjukkan diri sebagai industri yang cukup besar baik secara kualitas produksi maupun penyerapan tenaga kerja dengan munculnya pusat industri batik di daerah Laweyan dan memunculkan saudagar-saudagar batik yang terkenal.

Menurut data produktifitas batik di Laweyan pada 3 bulan keadaan ramai bisa mencapai 32.400 potong dengan produksi sampai 360 potong per hari. Pengerjaan batik baik cap maupun tulis masih dikerjakan dengan tangan meskipun proses industrialisasi telah masuk ke dalam pengusaha batik besar di Laweyan.

Produksi pakaian di Surakarta sendiri telah berkembang dengan adanya industri batik dengan komoditas berupa kain batik dengan pemasaran yang cukup luas meliputi pulau Jawa di luar pulau Jawa. Penggunaan kain batik sebagai bahan pakaian dilakukan oleh berbagai golongan masyarakat dari tingkat strata sosial yang terendah hingga golongan raja dan bangsawan, yang membedakan hanya kualitas kain dan corak yang telah diatur oleh penguasa lokal Surakarta.

Bahkan pada awal abad ke-20 masyarakat Belanda yang tinggal di Surakarta juga telah ikut menggunakan kain batik dan kebaya sebagai pakaian sehari-hari dan biasanya yang banyak menggunakan adalah kaum perempuan.

Perkembangan fashion (mode) pada awal abad ke-20 yang didukung oleh modernisasi dalam industri pakaian membawa perubahan-perubahan dalam hal jenis pakaian yang akan dipakai baik dalam dimensi tempat maupun waktu. Pengaruh ini dibawa oleh bangsa barat dengan memasukkan unsur-unsur pemakaian pakaian dengan mode dan waktu tertentu.

Setiap waktu dan acara-acara resmi, masyarakat Surakarta mulai mengganti mode pakaian disesuaikan dengan aturan-aturan barat. Dari berbagai sumber terutama rekaman foto, pakaian yang dikenakan oleh masyarakat di Surakarta pada awal abad ke-20 tampil dalam dua model yaitu jenis pakaian tradisional dan pakaian modern.

Pakaian modern yang mengacu pada pemakaian pakaian model Eropa seperti jas, dasi dan sepatu. Sedangkan pakaian pribumi adalah batik dan jarik. Meskipun beberapa pribumi yang dekat dengan pemerintah Belanda kerap kali mengkombinasikan pakaian modern dengan batik mereka.

Perkembangan batik mencoba memasuki dunia pakaian modern yang dibawa bangsa Eropa terutama zaman kolonial Belanda menuju Indonesia. Dengan adanya perkembangan tersebut, batik berada pada zaman keemasan di samping perkembangan industri kolonial Belanda.

Dari sinilah perkembangan batik yang seterusnya mengalami pasang surut karena perubahan pemerintahan yang ada di Nusantara Indonesia ini. Semoga ketika zaman semakin maju, maka batik juga tetap mendapatkan hati sebagai fashion tradisional asli Indonesia.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Sejarah dan Falsafah Kehidupan dari Indahnya Tulisan Huruf Jawa Kuno - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *