Trend Fashion Masyarakat Jawa Sebelum Kedatangan Bangsa Eropa

Mungkin beberapa dari kalian, membahas sejarah adalah sesuatu yang membosankan. Tetapi ketika kita berusaha menjawab sebuah pertanyaan “bagaimana kehidupan masyarakat zaman dulu?”. Kami merasa perlu kembali melewati mesin waktu, kemudian menceritakan kehidupan pada lini masa yang tidak kita alami.

Sebelum masuknya budaya barat ke nusantara, dominasi fashion Hindu-Budha dengan terusan memanjang tanpa dijahit. Pengaruh Hindu-Budha tersebut menggunakan kain terusan tanpa dijahit atau yang biasa disebut sebagai kain panjang yang menutupi tubuh para wanita ataupun pinggang para pria.

Hal ini berkaitan dengan ideologi bahwa kain panjang yang tidak dipotong merupakan sebuah hal yang melambangkan kesucian dan bagi masyarakat Jawa hal tersebut merupakan lambang kesakralan. Masyarakat Jawa lebih menyukai kain yang diwiru daripada kain yang dijahit.

Ketika pengaruh Islam mulai masuk ke ranah sosial masyarakat, maka trend fashion juga berubah sesuai pengaruh Islam. Seperti penggunaan sorban atau iket seperti orang Turki, kemudian penggunaan celana panjang dan tertutup.

Ketika Islam datang, model pakaian di Jawa mengalami perubahan yang sangat signifikan. Pakaian yang pada awalnya terbuka pada bagian dada, kemudian disempurnakan sesuai norma-norma keislaman. Sarung atau kain panjang yang tadinya dililitkan disekitar pinggang kemudian diangkat lebih tinggi untuk menutupi dada. Selain dengan cara di atas, kaum perempuan Jawa juga menambahkan satu pakaian lagi yang dililitkan secara ketat di sekitar dada

Mengenai deskripsi awal bangsa Eropa tentang kostum-kostum di Jawa, sering didapati bahwa para pria berdada terbuka. Akan tetapi, tidak semua orang orang Jawa selalu membiarkan dada mereka tidak tertutup.

Dalam puisi lama Siwaratrikalpa (abad kelima belas) terdapat suatu deskripsi tentang seorang pemburu yang berburu mengenakan jas pemburu berwarna biru tua. Namun demikian, kaum bangsawan setidaknya membiarkan sebagian dari dada mereka terbuka.

Menurut tata cara berpakaian di istana biasanya seorang pangeran mengenakan dua macam benda dalam berpakaian yaitu wastra atau kampuh, dodot dan sebuah sabuk. Wastra dililitkan disekeliling bagian bawah tubuh, sementara sabuk adalah sebuah selempang yang dikenakan di sekeliling pinggang. Dalam lingkaran kerajaan, tradisi tidak menutup dada bagi pria memiliki fungsi spesifik yaitu cara untuk memperlihatkan penghormatan dan kepatuhan.

Dibandingkan zaman sekarang sudah pasti sangat berbeda. Karena kita bisa melihat langsung trend fashion yang ada di zaman ini. Sementara kita tidak bisa melihat trend fashion pada zaman dahulu, jauh sebelum kita dilahirkan.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Fashion Batik, Indonesian Article and tagged , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *