Dewi Dresanala, Cinta Sepanas Api Amarah Batara Brahma [Bagian I]

Mendung menggelayut manja di atas langit khayangan Daksinageni senja itu. Di bawah rindangnya pohon pinus dan beberapa akasia berdiri tegak memayungi sebuah rumah limasan. Dengan gebyok yang hanya terbuka separuh, terlihat lorong memanjang tanpa batas. Halaman depan penuh dengan bunga pinus berjatuhan dan aroma melati yang mekar semerbak mewangi. Khayangan tempat tinggal Batara Brahma sang Dewa Api.

Ranting kecil berputar-putar riang kemudian berhenti, dihentikan kedua tangan dengan jari yang lentik. Dewi Dresanala, pemilik tangan itu tersenyum, di antara lesung pipi yang mendalam. Rambut hitam legam yang setengah terurai itu menari berusaha menutupi kecantikannya. Kemudian hanya bisa disapukan ke belakang telinga sang dewi.

Di genggaman kirinya selendang sutra khas para dewi khayangan yang dipadukan dengan motif parang curigo. Begitu lembut pandangan itu membuat para emban menghentikan pekerjaannya lalu seakan larut dalam suasana menguning senja candik kala. Meskipun para emban dan abdi tahu akan ada sesuatu yang buruk terjadi.

Selagi senja menghilang, sebuah kobaran api datang dan meledak di halaman khayangan Daksinageni. Dresanala tidak terkejut, hanya beberapa emban mengelus dada mereka karena terkejut. Ledakan itu adalah tanda kedatangan Batara Brahma.

Namun ada sesuatu yang lain, Batara Brahma menatap Dresanala dengan pandangan merah menyala. Api seperti tidak mau diam di sekitarnya, seperti amarah yang begitu tertahan. Rambut hitam dengan mahkota memerah dan lidah api yang terus menerus berlarian.

Dalam sekejap Dresanala bersimpuh menyatukan kedua tangannya untuk memberikan sungkem kepada ayahandanya, Batara Brahma.

“Dresanala menghaturkan sembah kepada Romo Batara Brahma..” ucapnya lirih lembut penuh kasih sayang.

Namun bukan pangestu yang biasa dia dapatkan seperti biasa, melainkan sebuah tamparan keras ke pipi. Membuat senyum di lesung pipinya memudar, yang kemudian dia tutupi dengan kedua tangannya, menahan perih. Rambutnya legam terurai menutup sebelah wajah ayunya.

mengapa romo menampar Dresanala, apa salah Dresanala romo..?” bisiknya dengan mata berkaca-kaca

Batara Brahma belum mau menjawab pertanyaan itu, matanya masih tajam terbakar amarah. Bahkan sedetik kemudian menghentakkan kaki ke dalam tanah sehingga seluruh khayangan bergetar hebat. Para emban yang sedari tadi mengintip dari jendela dapur terkejut. Tidak seperti biasa Batara Brahma sebegitu marahnya.

“kau telah membuat malu romo di seluruh khayangan Dresanala..” teriak Batara Brahma menggeram dan marah.

“kau telah membuat malu Daksinageni karena berhubungan dengan trah manusia bernama Arjuna dan bahkan mengandung anak darah keturunan Arjuna”

“Duh Ngger, muka romo seperti di injak-injak olehmu Dresanala, kau akan dijodohkan dengan putra Batara Guru, Dewasrani, berani-beraninya berhubungan dengan Arjuna trah manusia..” tutup Batara Brahma dengan berkacak pinggang

Dewi Dresanala bagaikan terkena bara api amarah Batara Brahma, cintanya yang selama ini berusaha ditutupi akhirnya terungkap oleh romonya sendiri. Mengelak pun hanya akan menambah rumit permasalahan ini, baginya sudah tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Termasuk kandungannya yang berusia 7 bulan, dengan Arjuna.

“mohon ampun beribu ampun romo, putrimu memilih cinta kepada Arjuna, bukan Dewasrani” tegas Dewi Dresanala sembari menatap mata sang romo.

“kurang ajar, anak tidak tahu diri..” tangan kanan sang Brahma melayang menuju pipi kiri Dresanala.

“anak itu harus digugurkan, Brahma tidak akan memiliki keturunan trah manusia” pungkas sang Batara dengan menggeram marah.

Dresanala yang air matanya mulai meleleh bangkit berdiri, mengusap luluh air mata yang ditahan, dan perih yang mengiris hati sang Dewi. Bagaimanapun dia harus menyelamatkan anaknya, dengan cara apapun, bahkan mati muksa yang harus ditempuh.

“kalau romo ingin menghabisi jabang bayi ini, maka romo juga harus menghabisi darah daging romo sendiri, Dresanala” dengan yakin seolah menantang sang romo Batara Brahma.

“sudah tidak sayang nyawamu sendiri Ngger, romo kirim kalian berdua muksa tanpa sisa” sembari mengeluarkan ajian di tangan kanannya.

Amarah Brahma mendidihkan seluruh darah yang mengalir, sudah hilang kasih sayang dan membuatnya mengeluarkan ajian pamungkas kepada sang putri. Bagi Dresanala sendiri, meskipun tahu dirinya bersalah, namun tidak ada yang perlu disesali, semua adalah kehendak Sang Hyang Wenang. Maka dengan taruhan nyawa sekalipun pasti akan dituruti Dresanala.

Dengan kepalan tangan yang membara dan berapi-api mengarah kepada perut Dewi Dresanala. Dewi Dresanala hanya bisa pasrah menutup mata apabila ini akhirnya. Suara ajian itu begitu keras seperti jeritan amarah yang tidak tertahan Batara Brahma.

Namun, belum sampai kepalan tangan sang Brahma, tiba-tiba cahaya keemasan seperti candrakala menyilaukan mata membuat ajian itu meledak sebelum sampai ke tujuan. Membuat Batara Brahma terpental ke belakang, sisa ajian itu merobohkan beberapa pohon yang berada di sebelah kanan khayangan Daksinageni.

Ajian itu seperti mengarah sendiri menuju sang pemilik ajian, Batara Brahma. Belum selesai tertegun, Dewi Dresanala segera memegang kandungannya dengan kedua tangan. Meskipun tidak tahu apa yang terjadi, dia tahu harus segera pergi, menjauh dari amarah Batara Brahma yang sudah tidak dapat di tahan lagi amarahnya.

Dengan menghentakkan kakinya ke tanah, Dewi Dresanala mencoba terbang menjauh dari khayangan Daksinageni, tempat ia besar dan dilahirkan. Rambutnya terurai beriringan dengan selendangnya, air mata yang meleleh berjatuhan mengiringi sang Dewi pergi. Para emban hanya berdoa semoga setiap langkah Dresanala adalah pilihan yang benar.

Batara Brahma yang tidak bisa terima dengan kepergian Dresanala merapal ajian yang membuat bola api besar menuju arah Dresanala. Suara api yang mengamuk dan menjerit-jerit dilemparkan dengan sekuat tenaga seperti dikirimkan tanpa ampun.

Kali ini tidak ada yang bisa menahan ajian itu, meskipun sekuat tenaga Dresanala mengelak, ajian itu tetap akan mengenainya. Maka hanya menoleh ke belakang ke arah mata Batara Brahma, senyum kecilnya seperti berkata terima kasih untuk kasih sayang sang romo.

Bola api itu meledak di udara, ledakan yang maha dahsyat, layaknya suara guruh petir yang memekakkan telinga. Dresanala yang melayang tidak mengelak, tubuhnya terombang-ambing jatuh seperti selendang yang diterbangkan angin. Kedua tangannya masih memegang kandungannya, berharap sang jabang bayi tidak terkena ajian sang romo.

Melihat sang anak melayang jatuh, Batara Brahma menyesal bukan kepalang, hanya demi kehormatan sebagai Batara, harus menghabisi riangnya Dresanala menuju pati yang sebenarnya tidak diinginkan Batara Brahma.

“Duh Ngger, maafkan romo, Daksinageni berduka Ngger, romo hanya menuruti kemauan Batara Guru Ngger..” sembari sedakep menundukkan kepala menyadari kekeliruannya.

Senja candrakala menghilang dalam gelap mengiringi jatuhnya Dresanala, bidadari dengan rambut tergerai milik Arjuna. Dalam cintanya yang dalam, tidak ingin kehilangan sang jabang bayi, meninggalkan Daksinageni.

Dresanala yang leyang melayang jatuh sekejap disambar cahaya seterang komet secepat bintang jatuh. Cahaya putih yang menyilaukan mata.

Apakah cahaya itu atau Siapakah dibalik cahaya itu?

[to be continued]

-prajnaparamita-

Image : pradnyaparamita [@mitaluvthemoon]

Posted in Story, Wayang Kulit and tagged , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *