Cara Memakai Kain Batik Untuk Dodot Pengantin Wanita Jawa Solo Basahan

Terima Kasih para pengunjung setia Indonesian Batik yang sangat kami sayangi dan kami banggakan. Lahh, berasa pidato upacara bendera. Terima kasih banyak masih setia membaca update informasi tentang batik indonesia.

Ohhh iyaaaa, fanpage kita di facebook sudah mendapatkan gray badge dari facebook loh, lalala yeyeye. Untuk itu kita akan mengadakan acara makan-makan di rumah masing-masing..setuju yaa…:D

Hari ini apa yang kita bahas yaa, mmm. Kita akan membahas bagaimana cara memakai dodot untuk mempelai wanita yang menikah dengan adat jawa dan busana Solo Basahan. Pemakaian dodot ini cukup sulit jadi harus sedikit butuh kesabaran untuk memakainya.

Sudah dibahas tentang dodot sebelumnya disini. Langsung saja kita ikuti step by stepnya, siapkan popcorn dulu.

Busana Solo Basahan berupa dodot atau kampuh dengan pola batik warna gelap bermotif alas-alasan (binatang dan tumbuhan hutan). Seiring berjalanya waktu, pilihan motif dan corak warna dodot semakin beragam namun pilihan motif kain dodot tetap berpegang pada filosofi derajat mulia yang layak dikenakan pasangan pengantin.

Busana Pengantin Solo Basahan mempelai wanita berupa kemben sebagai penutup dada, kain dodot atau kampuh dengan motif alas-alasan ( tumbuhan hutan ), kain cinde warna sekar abrit ( merah ) dengan panjang 3,5 m, udet semacam selendang kecil bercorak cinde, yang fungsinya untuk sabuk atau ikat pinggang. Panjang udet kira-kira 2,5 m dan lebarnya 1,25 m. Stagen semacam ikat pinggang yang terbuat dari kain tenun, dan panjangnya lebih dari 5 m.

Rangkaian bunga seperti, rajut melati, tibo dodo, sintingan, keket, buntal dengan panjang kurang lebih 1,5 m berupa rangkaian dedaunan dan bunga-bunga bermakna sebagai penolak bala serta memakai roncean melati bawang sebungkul, masing-masing empat bungkul dan ujungnya diberi bunga kantil.

Seperangkat perhiasan yang digunakan pengantin putri yaitu satu cunduk jungkat, dua centung, sembilan cunduk mentul dengan motif alas-alasan , sempyok gelung, suweng / giwang krumpul, kalung, gelang tretes sepasang, cincin dan dua bros, geplep gelung bergambar garuda.

  • Pertama, sebelum memakaikan dodot, terlebih dahulu kita harus memakai kain cinde yang panjangnya kira-kira 3,5 meter.1
  • Kemudian, kain cinde dililitkan seperti saat memakaikan kain biasa, tetapi disisakan panjangnya 1,4 meter.
  • Sisa kain ditarik kebawah dan dibuat wiru yang rapi sampai kebawah kemudian sisanya dimasukkan antara kedua kaki dan ditarik kebelakang. Sehingga terlihat terlepas atau nglewer dibawah, dan inilah yang dinamakan seredan.
  • Pinggang diikat dengan setagen dan ditutup dengan streples atau kemben.2

Sebelum dodot dibelitkan, maka harus diukur lebih dahulu panjang kain dan disesuaikan dengan tinggi pengantin.

3

  • Cara mengukur, lipatan dodot dibalik ( brom didalam , kemudian ujung lipatan dodot yang tanpa blenggen ( gombyok ) diambil dan diukur dari bawah lutut sampai ke ketiak, kemudian batas ini dilipat memanjang kurang lebih 2 meter. Ujung lipatan ini ditempelkan dibawah ketiak kanan dan dipeniti.4
  • Bagian dodot yang bawah dibalik keatas, diambil sered/ pinggirannya dan dijadikan satu dengan ujung yang dipeniti tadi. Lipatan ini diteruskan memanjang sama dengan lipatan dibawahnya.5
  • Sisa lipatan dodot diambil dan dilipat keatas dan dipeniti dari dalam kemudian dibawa kearah bawah payudara dan sisanya dibelitkan melalui belakang dilanjutkan kerah depan menuju pangkal dodot dan dijadikan satu dengan ujungya.
  • Sisa kain dibelitkan kebawah kiri payudara, sampai disini sered harus ditutup dengan lipatan diatasnya dan ditarik dirapikan dan diteruskan menuju arah pinggang kanan, ditempelkan dengan peniti.
  • Periksa pinggiran dodot bagian bawah, pinggiran ini harus rata letaknya dan tingginya harus sama dengan ujung yang dalam.
  • Sisa kain ditarik keatas dan sambil mewiru dijadikan satu genggaman kemudian dikaitkan ditangan kanan pengantin.
  • Dari bawah tangan pengantin ini wiru diatur rapi sebesar 3 jari menuju bawah.
  • Wiru diatur rapi dan dijepit dengan jepit bebek, sehingga bagian perut pengantin kelihatan rapi tidak ada lipatan-lipatanya.
  • Kemudian ujung dodot yang ada blenggennya ( gombyok ) diambil dan diwiru selebar ¾ jengkal sampai habis. Pada waktu membuat wiru blenggen harus berada disebelah kanan, brom berada diluar.
  • Pangkal wiru dimasukkan ke tangan pengantin ( mepet perut ), wiru masih tetap dipegang rapat.6
  • Kemudian udet ditali dibagian muka tengah. Sisanya dibentuk pita, ujung udet menjuntai ke bawah, jangan sampai melebihi pinggir dodot.7
  • Kemudian dipasangkan januran slepe dengan jarak kurang lebih 1 ibu jari dibawah udet.
  • Kemudian sisa wiru yang dipegang oleh pengantin dilepas dan dibuat contok, pangkal contok berbentuk seperti kerucut.
  • Cara membuat contok, sisa wiru yang memanjang dilingkarkan ke belakang di atas pantat pengantin menuju ke pinggang kiri sebelah muka, di lekatkan dengan peniti, dan sisa contok menjuntai ke bawah dan dirapikan, panjangnya jangan sampai melebihi dodot sebelah bawah. Kelebihan contok ini dinamakan kunco.8
  • Buntal dipasang di atas blenggen belakang dan kedua ujungnya berada di depan di kanan kirinya slepe batokan. Jarak antara slepe batokan dengan buntal kira-kira 4 jari.9
  • Memasang perhiasan. Bross dipasang dipangkal kunco dan ditengah dada, memasang kalung, subang, gelang, cincin.10
  • Memakai selop.

Bagaimana? Rumit sekali bukan memakai dodot untuk solo basahan. Tetapi setelah selesai, busana pernikahan ini menjadi sangat mewah dan elegan seperti pernikahan keraton atau kerajaan zaman dahulu loh.

Untuk lebih lengkapnya kalian bisa memilih perias yang memahami lebih banyak mengenai pemakaian dodot agar hasilnya lebih sempurna seperti yang kalian inginkan.

“Menikahlah sebelum menikah itu dilarang..Eh”

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Special Thanks :

weddingku.com

Eni Juniastuti, S.Pd

Yuswati, Dra, M.Pd

Asi Tritanti, S.Pd

Posted in Fashion Batik, Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , .

2 Comments

  1. Pingback: Patung Loro Blonyo sebagai Visualisasi Cinta dalam Sejarah dan Seni Budaya Jawa - Indonesian Batik

  2. Pingback: Pemakaian Batik untuk Blangkon, Lambang Ketentraman Hati Manusia - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *