Gadis Manis Pelukis Batik, Jantungku Padam di Langit Jingga Kotamu [Bagian I]

3 Agustus 1949

Hari itu Aku belum selesai menghitung jumlah bintang yang bertebaran, menambah jam bekerjaku. Kami cukup tahu bahwa Belanda masih ingin tidur di Indonesia, Agresi Militer II. Membosankan bertemu mereka lagi, karena aku bakal kalah tinggi sama mereka. Ditambah mereka terlihat gagah dan berkulit putih. Dibandingkan denganku, gosong terpapar sinar matahari, butuh waktu lama memutihkannya.

Aku, anggota pasukan Sub Wehrkreise [SWK] 106 Arjuna, seperti namaku, Arjuna. Masih 19 tahun, masih muda sedikit gosong. Dilarang ibuku ketika Aku mau perang.

“Kau akan kena tembak kompeni nanti kalau ikut perang” kata ibuku.

“Peluru pun takut kepada doamu. Bu, aku pamit” jawabku sekenanya.

Benar kami mau perang nanti 7 Agustus 1949, di Solo. Aku tidak pernah menyebut diriku sendiri tentara, tidak terlalu pantas untuk tubuh yang kering karena kurang singkong. Tetapi beberapa pemuda seusiaku, bahkan lebih muda, memiliki badan yang lebih disebut tentara.

“Sebelum tanggal 7 kau mau apa ?” tanya Said, anggota paling muda diantara 106.

“Mau ketemu Ajeng di Mangkunegaran” singkatku

“Ajeng, gadis yang suka membatik itu, kah?

“Iya, mau aku ajak menikah nanti habis perang” ujarku

“Tak bisa, kalu langkahi dulu mayatku..ha..ha..ha” sahutnya sembari menghisap rokok curian dari gudang Belanda

“Kalau begitu, si Ayu buat aku kau boleh?”

“Mau mati kau, ya sudah lanjut saja sama itu siapa tadi kau bilang…” selorohnya pergi

Ayu adalah kekasih Said, ah, pegal aku mengeja namanya. Badannya gempal dengan rambut tipis, lebih pendek dariku. Dia yang paling beringas ketika berperang, tahu temannya mati sama Belanda, dibersihkan semua itu pasukan Belanda.

  Kami menuju Jembatan Cluringan, berburu penjajah. Kami hanya mendapatkan 1 bren dan 2 LE di Cluringan, bonus tentara Belanda yang akhirnya sakit jiwa. Lumayan sebelum tanggal 7, pemanasan.

Komandan SWK 106 Arjuna, Mayor Akhmadi mengeluarkan surat Perintah Siasat, tentang serangan besar-besaran ke dalam kota, pada 7 Agustus 1949. Segera setelah itu Letnan Kolonel Slamet Riyadi kembali ke markas komandonya dan mengeluarkan Surat Perintah, tertanggal 8 Agustus 1949, berisi perintah mengadakan serangan perpisahan tanggal 10 Agustus 1949, menjelang dilaksanakannya gencatan senjata tanggal 11 Agustus 1949.

Aku sempatkan menulis, puisi, entahlah, keluar sendiri seperti memaksa tanganku menghitami kertas tulis lusuh. Kalian mau baca? Jangan tanya artinya, aku sendiri tak tahu.

Aku membisu di setiap sudut

Entah siapa yang berperang dalam kepalaku

Deru nadi selongsong darah menjerit di setiap detaknya

Sudah aku tebarkan sajadah rindu di hadapku, untukMu

Sudah aku kikis habis jiwa renta yang aku rebah di bahuku

UntukMu, aku berperang untuk pulang

[3 Agustus 1949]

4 Agustus 1949

Pada Maret 1949 aku melihatnya, iya, tadi aku bilang Ajeng. Gadis Jawa yang menepis segala mitos bahwa bidadari itu tidak ada. Entah mengapa Aku dilahirkan berada di konstelasi galaksi Bima Sakti bersama dengannya. Memiliki lesung pipi tipis, senyum yang cenderung galak ingin menikam setiap lelaki yang mendekatinya. Aku pun juga, penakut.

Sejak saat itu aku selalu suka ke Mangkunegaran, entah tugas jaga atau sweeping kompeni. Aku mau ditikam lagi olehnya, ditikam oleh senyumannya. Tapi aku bahkan tidak tahu bagaimana berkenalan, apalagi membuatnya tersenyum.

Aku tidak tahu tentang Ajeng, dia anak siapa, ataukah alien dari planet venus. Aku serba tidak tahu. Melamun saja aku bisa. Membuat puisi untuknya kemudian, mengakhiri sore itu dengan senja.

Daun biru membawa rindu yang merdu

Bulan sabit di kaki bukit Margoyudan

Orang datang, lalu pergi lagi

Lalu lalang, lalu sembunyi

Katanya jangan berisik

Tidak ketemu Belanda aku bilang

Tidak ketemu Ajeng juga aku bilang

, berbisik

Biar tidak didengar

Cuma aku dan kau saja

Namaku Arjuna, rindu yang aku punya

Maukah kau, rindu?

Sedikit, biar aku senang

[4 Agustus 1949]

5 Agustus 1949

“Kau dapat tugas ke Mangkunegaran, kesukaan kau bukan?” teriak Said di barak

“Sama siapa? Kau lagi kah?” langsung aku sergap dengan pertanyaan

“Tentu saja, tak aman kau pergi sendiri, bisa tak balik kau nanti”

“Oke”

Pagi yang baik kau buka temanku, baru saja aku ingin ke Mangkunegaran, sudah datang kau membawa yang kuinginkan. Patroli ke area Mangkunegaran, biasa, bersama si gempal yang terkadang membuatku ingin tertawa setiap kali dia berbicara.

Seharusnya ini hanyalah patroli biasa, tetapi entah, degup jantungku serasa tidak karuan. Seperti tidak kerasan tinggal di tubuhku. Sialan.

Setelah 2 sten siap aku bawa, baju yang sama, tidak pernah aku cuci, takut bendera Indonesia di bahuku ikut luntur ketika aku cuci. Aku tak mau.

“Kau tidak lupa bawa amunisi kan?” Said menodongku dengan sten

“Jangankan amunisi, cinta saja aku bawa buat Ajeng”

“Sialan. Aku jadikan pacar kalau kau perempuan Jun”

“Setan kau”

Seharian di Mangkunegaran aku tidak patroli kompeni. Tidak urusan, pikirku. Aku mau mencari Ajeng, aku buatkan dia surat, tak perlu kau tahu surat itu. Tanya sama Ajeng nanti.

Menjelang sore tidak aku temukan, biasanya dia berada di depan gawangan batiknya, atau sekedar berjalan di lingkungan keraton Mangkunegaran.

16.35, sudah hampir selesai patroli aku tidak menemukannya. Ah, padahal sudah aku persiapkan semua, mulai dari salam pembuka sampai salam penutup.

“sssst, ada Londo [Belanda]” tiba-tiba Said menarikku ke belakang pintu gudang tua.

“bunuh” singkatku

“Jangan, ada Ajeng, wanita Kau”

Aku diam, gemetar, ada perlu apa kompeni dengan Ajeng. Pikiranku semakin tidak karuan. Sten aku siapkan, hal buruk pasti terjadi sama Ajeng. Aku tak mau.

Benar, 3 orang kompeni di depan gerbang Mangkunegaran. Ada Ajeng juga di depan mereka. Semakin ingin segera tahu apa yang mereka mau. Salah satu dari mereka menodongkan senjata ke hadapan Ajeng, aku sudah tidak sabar lagi, aku mau menuju dia.

“Jangan, mati kau nanti” sergah Said

“Aku harus…” sebelum Aku membantah, bicaraku dipotong Said lagi

“Aku pancing itu Londo keluar, kau bawa Ajeng pergi, terserah, aku tunggu kau di Balapan” bisiknya

Aku hanya mengangguk, tapi tidak tahu yang harus aku lakukan. Said terus berlari menuju seberang jalan dan ketika dibelakang gedung, terdengar suara tembakan, aku yakin itu dia. Ketiga kompeni itu kemudian mengejar suara tembakan itu, meninggalkan Ajeng.

Seketika aku berlari menuju gerbang.

“Kamu tidak apa?” tanyaku

“Apa pedulimu?” Ajeng balik bertanya

“Aku dari 106, patroli di sini, memastikan kamu tidak mati ditembak kompeni”

“Aku tidak apa, pergilah” jawabnya galak

“Aku antar kamu ke rumah, tidak udah membantah, daripada besok aku tidak bisa melihatmu lagi” teriakku

Dia kemudian berdiri, aku ikuti dari belakang, mengantarnya pulang, entah tujuanku apa saat itu, yang jelas aku ingin tahu lebih banyak tentang dia.

“Kau sering terlihat di sini, termasuk ketika Aku membatik, apa mau kau?” tanya Ajeng tiba-tiba

“patroli” jawabku singkat

“bohong kau”

“Aku mencarimu, mau belajar membatik..” jawabku polos

“hahaha..alasan yang lugu” Ajeng tertawa

“Aku mau Kau” teriakku ketika rumahnya sudah dekat

“Aku sudah tahu, teman Kau yang bilang padaku”

Aku terperangah, tidak tahu harus berkata apa lagi, mulutku kaku terkunci, baru kali ini jantungku tidak pada tempatnya, bahkan mengalahkan deru mortir ketika perang.

“Bilang pada teman Kau, Aku juga mau” tutup dia sembari menuju pulang ke rumah kecil di sudut jalan

Aku tidak tahu maksudnya, yang jelas aku masih bingung, dalam berbagai hal. Senang dalam jutaan hal, aku bisa berbicara dengannya. Lebih baik aku segera menuju Balapan, Said pasti marah aku tinggalkan pacaran dengan kompeni

6 Agustus 1949

Kami berpindah menuju Sanggrahan untuk mengatur rencana serangan besok, besok kita berperang untuk kemerdekaan. Terlihat Said meringis ketika berjalan, dipapah kedua teman kami di 106.

“Kau kena tembak kompeni?” aku tanya

“Londo tidak bisa membunuhku kapten, tenang saja, yang penting kau bisa ketemu Ajeng”

“Bangsat itu kompeni, aku cari dia sekarang” marahku

“Sudah mati mereka kena santet si Dewa”

“Sialan, kau tak bilang kena tembak” aku masih dengan muka yang serius

“gimana kau sama Ajeng, dilempar canting kah kau?” tanya Said tiba-tiba

“Dia menyuruhku bilang ke temanku kalau dia juga mau, aku tak ngerti apa maksudnya, teman yang mana pun Aku tak tahu…”

“Huahaha..Bodoh kau itu,  kau tak punya teman selain Aku, Ajeng mau sama kau, sana kejar sebelum dilamar londo” masih sambil meringis menahan luka tembakan kompeni kemarin

“Aku utang satu peluru sama Kau, jangan mati besok pas perang sebelum Aku..” teriakku

“Siap…” senyumnya yang tajam menambah keyakinanku.

Karena sebelum itu kami pernah mengungsi di Mangkunegaran untuk sekedar beristirahat, lelah diburu pasukan kompeni. Seorang abdi dalem keraton membawakan singkong kepada kami, bersama anak perempuannya, dialah Ajeng. Gadis yang masih menjadi mitos keberadaannya.

Sore itu tidak ada yang ribut untuk perang selain Aku tadi pagi. Memilih untuk sekedar bercanda dengan pemuda-pemuda yang lain. Mereka memilih mengosongkan hati untuk orang yang disayang, memilih menghilangkan segala perasaan agar besok menjadi sejarah bagi kami. Kecuali aku.

Batin serta pikiranku tidak berhenti memikirkan Ajeng, dalam berbagai hal aku menjadi lemah. Tidak seperti biasanya yang selalu kosong tanpa perasaan apapun. Ditambah kata-kata yang seakan memintaku untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul tidak beraturan.

Persiapan perang besok sudah selesai, perintah dari Mayor Akhmadi sudah dijalankan. Tinggal besok kita eksekusi. Sehabis briefing dengan pasukan inti 106 kami akan segera istirahat.

Ah, biarlah, aku simpan perasaanku untuk besok. Aku lebur dalam langit keemasan sore itu, menunggu matahari tenggelam, bersama sebuah puisi.

Ada jingga di ujung senja seperempat

Dan matahari yang menguning

Burung pulang menyapu angin

Melelahkan semua makhluk di kota yang sama

Perempuan tertunduk lesu setiap rotasi bumi

Lelaki yang menyerah kepada mimpinya

Tanpa meninggalkan setiap inci kubikel gedung

Aku adalah kekasih yang tidak menghiraukan pagi

Tetapi merasakan senja

Senja yang sama di kota ini

Setiap hari hanya itu saja yang mampu terbeli

Lagu cinta kehidupan yang fana

Penuh fatamorgana

[6 Agustus 1949]

7 Agustus 1949

Setelah singgah sebentar di langgar kecil tempat kami biasa mengadu kepada Tuhan, kami berangkat. Hari ini kami harus mempertahankan kemerdekaan. Kami akan terus berjuang, dengan tanpa alasan apapun.

Pukul 06.00, pasukan kami berangkat, mulai menyusup ke dalam kota. Pada hari tersebut pasukan SWK 106 Arjuna telah menyusup dahulu dan mulai menguasai kampung-kampung dalam kota Solo. Ketika waktu ditetapkan telah tiba pasukan TNI yang telah masuk kota menyerang dari semua penjuru, memaksa tentara kompeni terkonsentrasi di markas-markas mereka. Serangan itu meliputi markas komando KL 402 Jebres, sebuah pos di Jurug, Jagalan, kompleks BPM-Balapan, serta markas artileri medan di Banjarsari.

Aku berusaha melupakan Ajeng untuk sementara, tetapi semakin Aku mencoba melupakan, semakin Aku ingat senyumnya. Bagaimanapun, dia sudah berada dalam neuron otak kiri milikku. Jadi aku memutuskan, membawa pikiranku bersama Ajeng, berperang.

Pasukan kami bergerak cepat, menuju setiap pos untuk mengepung pasukan kompeni. Setidaknya jangan sampai di 106 ada korban, lebih baik tidak ada. Dengan beberapa bren dan sten curian kemaren kami mulai menguasai pos para penjajah. Memaksa mereka untuk mundur ke garis pertahanan.

Kami menguasai Jagalan untuk beberapa saat, tidak terlihat perlawanan berarti dari pihak Belanda. Sekitar 1 jam bergantian berjaga menunggu apabila ada tentara bantuan Belanda yang datang dari Semarang. Ternyata pasukan itu juga dihadang di Salatiga, mempermudah perjuangan kami tentunya.

“Jun, Kau makan dulu, dibawakan makan sama Siwi di belakang gedung” teriak Said membangunkan lamunanku.

“Nanti, Kau dulu makan, jangan sampai Kau mati, aku belum balas budi” balasku tengil

“Kalau aku mati, paling kau yang menangis, aku tak tega liat Ajeng nangis liat Kau makin kurus” sergahnya

“Ah, sialan, beraninya bawa wanita…Agus, tolong jaga dulu, Aku makan..”

“siap..” Agus menyahut mantap

15.38, kami masih bertahan di Jagalan, pikiranku benar-benar cemas. Memikirkan Ajeng, keadaan Solo yang semakin tidak menentu membuat khawatir. Tampaknya Said mengerti keadaanku, entah bagaimana, dia selalu mengerti mauku. Setelah Isya nanti kita akan berpindah ke Mangkunegaran, melihat situasi. Sekaligus mencari Ajeng. Aku rindu.

8 orang dari 106 masih utuh. Mantap menuju Mangkunegaran. Kami menepi di sebuah gudang tua, lampu penerangan jalan begitu terang. Membuat kami terlihat seperti siluet yang berjalan di tengah gelap.

Keadaan sangat mencekam.

“Ada Londo patroli di sekitar mangkunegaran, pecahkan lampu jalan, kita habisi nanti, ambil alih mangkunegaran” setengah berbisik Aku memberi komando.

“siap..” sahut mereka lirih

“Aku sama anak-anak inspeksi dulu, kamu cari Ajeng, kalau ketemu, carikan tempat aman, hati-hati” gantian Said memerintahku

“Asem, aku kena, aku nginjak..” teriak Dewa tiba-tiba

“Nginjak ranjau Kau?” tanya Said khawatir

“Bukan ndan, nginjak tai kucing..asem tenan..” jawab Dewa enteng

woo..lha dasar kambing bertelur..”

Aku mulai berkeliling alun-alun Mangkunegaran, tempat dimana Ajeng sering berada disitu. Tidak ketemu. Aku menuju belakang keraton, tidak ketemu. Semakin tidak karuan perasaanku. Ada seorang anak kecil yang bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, aku mendekatinya.

“Kamu tahu dimana yang lain Dek?” tanyaku lirih

“dibawa londo mas..kulo disuruh sembunyi” jawabnya gemetar

“Ajeng juga?” tanyaku lagi cepat

“semua mas, nggak tahu mbak Ajeng”

Setelah aku ungsikan keluar dari keraton, aku kembali ke pasukan. Aku kalut, tidak tahu harus bagaimana apabila Ajeng dibawa penjajah. Di saat itu juga aku harus mencari Ajeng, sampai ketemu. Apabila dibawa pasukan Belanda, maka akan aku habisi semua.

11.29, Aku mulai menyisir setiap pos yang ada di Solo, sementara agar 106 bisa beristirahat aku tinggalkan mereka di Jebres. Perasaanku yang tidak karuan, ditambah setiap sudut Solo sekarang adalah tempat yang berbahaya, sekejap saja lengah makan mati taruhannya.

Hujan menangisi setiap jiwa yang gugur di Solo hari itu, deras, tidak beraturan. Aku masih belum menemukan Ajeng. Ketika beristirahat, tiba-tiba sebuah laras panjang menempel di pelipisku. Tampaknya ini akhir hidupku, harusnya aku sempat menuliskan puisi ini untukmu…

Hujan kelam sedang berbahagia malam ini

Langit gelap bumi juga

Hanya pendar lilin yang kadang terang

Merayuku untuk tidur lebih cepat

Aku tak mau

Aku mau berteman dengan hujan

Mengusap kabut menggiring angin

Rumahmu disana tak terlihat

Aku bawakan cahaya dari sini

Tapi mati kena hujan

Aku tak takut gelap

Aku lebih takut tanpa kau

Barangkali aku takut jangkrik

Aku lebih takut tanpa kau

Tidurlah disana dengan hangat

Aku jaga kalian

Dengan doa tanpa suara

[7 Agustus 1949]

belum sempat Aku berdoa untuk terakhir kalinya..

“darr…”

[to be continued]

 

Note:

This Story is 50% fiction, 50 % reality.

The Picture for Ajeng Illustration is Dian Sastro Wardoyo.

Thank You For Reading

Posted in Story and tagged , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *