Wahyu Keprajan Pangeran Sambernyawa di Astana Mengadeg, Desa Girilayu

Sejarah selalu bersama setiap kehidupan manusia, dari awal sampai akhirnya kita akan menjadi sejarah. Yang kelam yang indah yang sedih yang bahagia semua diterjemahkan dalam berbagai rangkaian cerita indah kehidupan. Desa Girilayu, yang memang berada jauh dari hiruk pikuk perkotaan menyimpan berbagai pertanyaan. Siapakah yang pertama kali datang di Desa Girilayu, siapakah yang pertama kali memperkenalkan batik kepada warga Desa Girilayu.

Raden Mas Said, Mangkunegara I, yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Sambernyawa, julukan yang diberikan oleh Nicolaas Hartingh. Karena Mangkunegara I selalu membawa kematian bagi para musuhnya, julukan yang membuat merinding serdadu Belanda. Lebih dari 250 peperangan yang sudah dilalui Pangeran Sambernyawa, selalu membawaha hasil gemilang.

tiji tibèh, mati siji, mati kabèh, mukti siji, mukti kabèh (gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua)

Tiga pertempuran dahsyat terjadi pada periode 1752-1757.Ia dikenal sebagai panglima perang yang berhasil membina pasukan yang militan. Dari sinilah ia dijuluki “Pangeran Sambernyawa”, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai penyebar maut. Kehebatan Mangkunegoro dalam strategi perang bukan hanya dipuji pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Tak kurang dari Gubernur Direktur Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Mangkunegoro. “Pangeran yang satu ini sudah sejak mudanya terbiasa dengan perang dan menghadapi kesulitan. Sehingga tidak mau bergabung dengan Belanda dan keterampilan perangnya diperoleh selama pengembaraan di daerah pedalaman”

Target Mataram yang utuh dan tidak terbagi gagal dipertahankan tetapi Mataram yang muda dan utuh berhasil diperjuangkan karena kemudian menjelma menjadi Mangkunegaran (mengikuti nama putra mahkota Mataram yaitu Mangkunegara). Mataram yang muda berada berada ditangan raja sedang mataram yang muda berada ditangan putra mahkota.

Dalam percaturan politik Jawa mau tidak mau dua keraton lain dan belanda harus menerima Mangkunegaran sebagai neraca keseimbangan poltik. Meski posisi diatas kertas kedudukan Mangkunegaran di posisikan sebagai yang di bawah kerajaan karena status kadipaten (sesuai wilayah putra mahkota kerajaan) akan tetapi defacto politik tidak hanya show dan pamer kemegahan semata.Politik dan kekuasaan adalah perwahyuan yang harus dijaga sekaligus kecerdasan dan skill dalam permainan. Barang siapa tidak mampu dalam permainan itu sejarah tetap akan mencatat prestasi masing masing kerajaan

Astana Mengadeg adalah tempat dimana Raden Mas Said mendapatkan wahyu keprajan untuk mendirikan Mangkunegaran. Menurut sesepuh, konon tempat dimana Raden Mas Said mendapatkan wahyu keprajan adalah di Tugu Tri Dharma yang berada di Astana Mengadeg, Desa Girilayu.

Mungkin dari sedikit sejarah itu kita bisa melihat bahwa sejarah Desa Girilayu, secara langsung atau tidak langsung ada cerita Raden Mas Said. Dan mungkin juga sejarah Desa Batik Girilayu juga berasal dari warisan sejarah Pangeran Sambernyawa, Raja Mangkunegara I.

Terima Kasih Sudah Berkunjung

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Astana Mengadeg, Girilayu, dan Giribangun, Tujuan Menarik Wisata Ziarah - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *