Batik Indonesia Jawa Hokokai, Romantisme Pengaruh Jepang dan Batik Pedalaman

Selamat Siang para pencinta Batik Indonesia, bagaimana akhir pekannya? Semoga lancar dan tetap semangat menjalani kehidupan sehari-hari. Kali ini masih membahas tentang batik Jawa Hokokai, setelah sebelumnya kami merasa masih banyak yang perlu dibahas. Semoga paling tidak artikel-artikel kami bisa menambah wawasan kita tentang baegitu banyaknya motif batik dan budaya batik Indonesia yang beraneka ragam.

Istilah “Hokokai” merupakan nama sebuah organisasi yang membantu berbagai kegiatan Jepang dan bekerjasama dengan orang-orang pribumi, serta memiliki tujuan untuk menciptakan kemakmuran di Asia. Salah satu kegiatan organisasi Hokokai adalah memberikan apresiasi terhadap orang-orang pribumi dengan memberikan batik Hokokai, sebagai ucapan terima kasih atas jasa kepada Jepang pada saat itu. Batik Jawa Hokokai ini merupakan produk batik yang muncul pada masa pendudukan Jepang di Pekalongan. Wujud visual dari batik Hokokai terlihat perpaduan yang harmonis dari bentuk-bentuk garis geometris, yang disusun sedemikian rupa dengan penataan dua pola yang berbeda dalam selembar kain.

Sistem penataan pola sedemikian rupa disebut dengan wastra atau lebih dikenal dengan pola batik pagi-sore. Pola ini merupakan pola pembuatan batik pada kain panjang yang dapat difungsikan untuk dua kesempatan pemakaian pada satu kain. Adapun biasanya sisi kain yang berlatar gelap biasa dikenakan untuk kesempatan pada malam hari, sedangkan satu sisi yang berlatar terang digunakan pada pagi hari

Pola ini tampilan visual yaitu dua komposisi motif dan tata warna yang berbeda, dimana masing-masing menempati sebidang trapesium yang sisi miringnya berhadapan terbalik dalam selembar kain. Pada kedua bagian sisi dipertemukan di tengah-tengah bagian mendatar kain, membentuk potongan miring. Bagian yang berwarna gelap digunakan pada malam hari dan bagian yang berwarna cerah digunakan untuk siang hari, masing-masing bagian berisi sebuah komposisi motif dan warna batik.

 Ciri fisik lain yang terdapat dalam kain batik Jawa Hokokai adalah penampilan garapan detail motif, dan isen yang halus, lembut dan rumit, serta tata warna ganda. Batik Jawa Hokokai berasal dari Pekalongan yang merupakan daerah pesisir utara pulau Jawa, akan tetapi asal mula batik merupakan hasil kebudayaan daerah Pedalaman (Keraton). Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa budaya keratonlah yang mempengaruhi budaya daerah pesisir. Hal ini dapat dilihat dari produk batik yang dihasilkan khususnya pada batik Jawa Hokokai. Jika dilihat dari pola pola di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulkan bahwa pola latar batik Jawa Hokokai adalah pola ceplok, parang, dan lung-lungan. Pola-pola tersebut pada dasarnya berasal dari pola Pedalaman/Keraton. Pola parang dan lereng adalah pola yang tersusun menurut garis miring atau garis diagonal. Polanya terdiri dari satu atau lebih ragam hia yang tersusun membentuk garis sejajar dengan sudut kemiringan 45 derajat. Pada pola parang umumnya terdapat hiasan berbentuk belah ketupat yang disebut mlinjon sedang pola parang yang tidak ada hiasan mlinjon adalah pola lereng. Pola lereng ini termasuk dalam pola geometris. Hampir semua Batik Jawa Hokokai memakai latar belakang yang sangat detail seperti motif parang, ceplok, dan kawung.

Sebagian Batik Jawa Hokokai ada yang menggunakan susumoyo yaitu motif yang dimulai dari salah satu pojok dan menyebar ke tepitepi kain tetapi tidak bersambung dengan motif serupa dari pojok yang berlawanan. Batik Jawa Hokokai menggunakan latar belakang yang penuh dan detail yang digabungkan dengan bunga-bungaan dalam warna-warni yang cerah. Gaya adalah bentuk yang konstan atau tetap yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok, baik dalam unsur-unsur, kualitas, maupun ekspresinya.

Pada dasarnya gaya dapat diterapkan atau dipergunakan sebagai ciri pada semua bentuk kegiatan seseorang atau masyarakat. Bagi ahli sejarah seni rupa, gaya merupakan objek yang bersifat pokok dalam penelitian atau pengamatan karya seni, dalam penelitianya gaya digunakan pula sebagai kriteria dalam pendataan karya seni yang asli, dan sebagai “arti” dalam melacak hubungan antara “arti” dan kaitannya di antara mazhab-mazhab dalam seni.

Perkembangan seni rupa Indonesia terutama pada bidang seni lukis juga mengalami masa-masa klasik dan romantik, tampak adanya pernyataan yang sama bahwasanya gaya klasik lebih bersifat sederhana tetapi tampak adanya unsur kekuatan yang tegas dan kokoh yang melambangkan keperkasaan. Adapun aliran romantik jelas sekali ditandai oleh komposisi warna-warna yang kontras dan tegas, kaya dengan warna dan penuh variasi. Aliran romantik senantiasa menjadikan kejadian-kejadian dahsyat sebagai tema, penuh khayalan dan perasaan, petualangan, atau tentang kejadian-kejadian masa kuna dan juga tentang negeri-negeri timur yang penuh fantastis.

Di era romantik manusia ditempatkan sebagai unsur pokok dalam kesenian, karena pertumbuhan individualisme dan idialisme. Hal ini karena dalam mencipta karya seni manusia dituntut penuangan emosi (sesuatu yang bersifat pribadi) dalam karya seni untuk membangkitkan rasa jati diri pada para seniman. Muncul perasaan individualisme dan kecenderungan mencari dunia yang diidam-idamkan, yang ideal, yang berada dalam khayalan (idea) mereka, sehingga menumbuhkan perasaan idealisme.

 Jelaslah bahwa gaya romantisme lebih menitik beratkan pada pencurahan perasaan, yang menanggapi fenomena alam dengan emosional tidak menerima kenyataan apa adanya. Sebagaimana yang terjadi pada batik Jawa Hokokai muncul variasi warna yang beragam yang mengantarkan pada suatu keputusan bahwa batik Jawa Hokokai memiliki gaya Romantik.

Fungsi seni, sejak suatu karya seni diciptakan, suatu karya mempunyai fungsi yaitu:

1. Fungsi personal,

Suatu karya seni berhubungan dengan media ekspresi pribadi dari seniman. Ekspresi pribadi dapat berupa emosi pribadi, persahabatan dan pandangan-pandangan pribadi seniman terhadap suatu fenomena.

2. Fungsi sosial.

Karya seni mempunyai fungsi sosial berdasarkan prinsip bahwa karya tersebut cenderung mempengaruhi perilaku kolektif manusia, karya tersebut diciptakan dan digunakan dalam keadaan umum, dan karya seni bisa mengekpresikan aspek-aspek tentang eksistensi sosial.

3. Fungsi fisik

 Berkaitan dengan penggunaan karya seni yang efektif sesuai dengan kegunaan dari efisiensi. Suatu karya seni selain dipergunakan juga dapat dilihat, jadi antara penampilan dengan fungsi tidak dapat dipisahkan. Fungsi fisik yang bernilai guna terhadap produk seni menjadi ukuran dominan dalam menciptakan karya seni. Adapun dari ketiga fungsi tersebut dalam mengkaji seni batik Jawa Hokokai dilihat dari sejarah dan perkembangannya hingga saat ini jelas memiliki ketiga fungsi baik itu personal, sosial maupun fisik.

Demikian kisah batik Jawa Hokokai yang membuat motifnya menjadi terlihat romantis dan eksklusif. Keberadaan Jepang di Indonesia secara tidak langsung memiliki nilai historis tersendiri yang berhubungan dengan batik Indonesia. Salah satu motif batik legenda yaitu Batik Jawa Hokokai yang sangat langka dan bersejarah. Mari selanjutnya kita sebagai generasi penerus tetap melestarikan batik sebagai warisan kebudayaan yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia di mata dunia.

Terima Kasih sudah berkunjung dan membaca, tetap cintai dan tetap promosikan batik Indonesia.

Salam Hangat, Indonesian Batik.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , .