Sejarah Singkat Kota Pekalongan, Kota Batik Pesisir Indonesia

Setelah perkenalan mengenai Batik Pekalongan sudah kita bahas disini, maka selanjutnya kita akan membahas tentang Sejarah Kota Pekalongan. Sebagai langkah awal sebelum kita membahas salah satu motif batik Jawa Hokokai yang langka. Sebaiknya kita mengetahui dulu bagaimana Kota Pekalongan bisa menjadi sebuah Kota Pesisir yang besar.

Berdasarkan Babat tanah Pekalongan, yang bermula dari kisah seorang pemuda yang bernama Joko Bahu, seorang putra tunggal Ki Ageng Cempluk yang ingin mengabdikan diri di kerajaan Mataram. Joko Bahu berasal dari sebuah desa kecil, bernama Kesesi atau asal dari kata “kasisian” yang artinya pengasingan. Karena Ki Ageng Cempluk sendiri adalah punggawa Mataram dan pernah melakukan kesalahan, maka diasingkan. Joko Bahu kemudian membangun padepokan di desa tersebut dan letaknya di sekitar hulu kali Comal. Ki Ageng Cempluk ini, kesaktiannya sudah terdengar lama dan menjadi buah bibir di keraton Mataram, maka tanpa banyak pertimbangan Sultan Agung menerima bakti Joko Bahu sebagai punggawa di kerajaan tersebut.

Sudah menjadi syarat mutlak bahwa setiap punggawa/prajurit yang hendak mengabdi kepada negara harus melalui tiga tahap uji kesetiaan pada negara, termasuk kemampuan mengatasi masalah

dan olah keprajuritannya. Oleh sebab itu, uji kesetiaan pada negara tahap pertamapun yang diberikan Sultan adalah membendung kali Sambong. Hal ini disebabkan karena setiap musim kemarau semua sawah rakyat yang berada disepanjang aliran sungai itu selalu mengalami kekeringan. Membendung kali Sambong di kabupaten Batang ini diharapkan volume air dapat naik dan mengairi semua sawah yang berlokasi di sekitarnya, sehingga diharapkan bahwa hasil panenpun akan meningkat.

Kali Sambong terkenal angker dan sudah beberapa kali dilakukan pembendungan namun hasilnya selalu gagal. Selanjutnya, Joko Bahu berangkat dengan membawa beberapa orang prajurit. Pembendungan kali dimulai dengan sedikit demi sedikit, kemudian di tengah berlangsungnya proyek pembendungan tersebut terjadi beberapa keanehan. Keanehan itu terjadi setiap pagi pada saat para prajurit hendak melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai, Joko Bahu selalu mendapati tanggul yang mereka kerjakan sebelumnya telah runtuh berserakan kembali. Kejadian itu berlangsung secara berulang-ulang selama tiga hari. Tentu saja, hal itu membuat Joko Bahu menjadi bingung, kemudian Joko Bahu melakukan tapa brata/semedi dan bertemu dengan siluman penunggu kali tersebut, siluman itu berupa welut putih, dan terjadi perundingan antara kedua belah pihak namun tidak menemukan kata sepakat, sehingga terjadi perkelahian sengit yang dimenangkan oleh Joko Bahu. Keberhasilan Joko Bahu dalam menjalankan tugasnya ini disambut gembira oleh Sultan Agung.

Uji kesetiaan tahap kedua, yaitu membuka lahan baru di tepi pantai Utara sebelah kabupaten Batang, yakni alas (hutan) Gambiran atau sekarang menjadi Gambaran. Saat itu, alas Gambiran merupakan alas yang sering dihindari oleh para rombongan pedagang karena keadaannya yang terbilang angker dan tak tersentuh. Hal ini disebabkan karena setiap orang yang memasuki hutan Gambiran tersebut pasti hanya akan berputar-putar di dalamnya dan tidak pernah dapat kembali keluar dengan selamat. Hal itupun dialami para prajurit Joko Bahu, di mana para prajurit yang memasuki hutan tersebut tidak kembali lagi dan hanya berputar-putar tak tentu arah. Hal ini membuat Joko Bahu kemudian melakukan tapa brata kembali, yaitu tapa ngidang atau meniru prilaku seekor kidang/rusa. Namun, Joko Bahu tetap tak mampu untuk mengalahkan raja siluman penunggu hutan itu. Merasa dirinya gagal, Joko Bahu segera pulang ke padepokan Kesesi untuk mengadukan hal tersebut pada Ki Ageng. Selanjutnya atas saran Ki Ageng, Joko Bahu diharuskan untuk melakukan “tapa ngalong” tapa brata yang menirukan posisi kalong/kelelawar, yaitu tidur dengan kaki menggantung di pohon setiap siang selama 40 hari, tempat di mana Joko Bahu melakukan tapa ngalong tersebut kini disebut Pekalongan (Kata “pe” yang menandakan sebuah tempat kalong adalah di mana Joko Bahu melakukan tapa kalong). Setelah empat puluh hari berlalu, Joko Bahu telah menyelesaikan tapa ngalongnya, sehingga dapat mengalahkan raja siluman dan dapat melanjutkan menebang pohon di alas tersebut.

Tentu saja, kabar baik ini membuat hati Sultan Agung gembira. Selain itu, sekembalinya Joko Bahu sowan ke Mataram, Sultan Agung langsung menganugrahkan gelar adipati dengan julukan Ki Bahu Rekso, serta sekaligus menetapkan di daerah Kendal dan menjabat sebagai adipati Kendal.

Uji kesetiaan selanjutnya tahap ketiga, adalah guna menyempurnakan jabatannya sebagai adipati, maka Bahu Rekso melamarkan seorang putri cantik dari Kali Salak yang bernama Nyi Rantang Sari. Ironisnya Nyi Rantang merupakan seorang putri yang hendak dipersembahkan kepada Sultan Agung, dan Nyi Rantang justru jatuh cinta pada Bahu Rekso dan tak ingin dibawa untuk dipersembahkan ke Mataram. Oleh sebab itu, timbulah keinginan Bahu Rekso untuk menggantikan posisi Nyi Rantang Sari dengan seorang putri yang tidak kalah cantiknya yaitu Endang Kalibeluk, seorang putri anak penjual srabi di desa Kali Beluk, untuk disandingkan dengan Sultan Agung.

Namun, karena Endang Kalibeluk tidak kuasa untuk menahan luapan kegembiraannya, akhirnya mengaku kalau dirinya bukan Nyi Rantang Sari. Pengakuan itu tentu saja membuat Sultan menjadi murka, karena Sultan merasa dirinya telah ditipu maka berniat untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Bahu Rekso. Namun, niat tersebut dapat dicegah oleh patih Singaranu dan disarankan agar Bahu Rekso diberi tugas lebih berat yaitu mengusir penjajah Belanda di Jaya Karta (Jakarta).

Setelah mendapat perintah tersebut, Bahu Rekso dengan pasukannya berangkat melalui jalan laut untuk menghindari kali Cipamali (Brebes). Hal ini disebabkan karena dikabarkan bahwa kali tersebut dapat menghilangkan kekuatan atau kesaktian dari setiap pusaka yang dibawa. Bahu Rekso mempersiapkan prajuritnya di sebuah desa yang bernama Ketandan, nama desa itu kemudian lebih di kenal dengan Wiradesa “wira” artinya prajurit, sedangkan “desa” berarti kampung, maka Wiradesa adala perkampungan prajurit dan dari situlah Bahu Rekso bertolak ke Jayakarta.

 Di Jayakarta pasukannya dikumpulkan di sebuah daerah yang sekarang bernama Matraman yang artinya Mataramman guna membendung sungai Ciliwung dan Jendral Raffles meninggal terserang malaria. Namun, Belanda tak kehabisan akal dengan membakar lumbung-lumbung makanan tentara Mataram, sehingga tentara Mataram kehabisan perbekalan dan Bahu Rekso menderita kekalahan. Kekalahan itu membuat Bahu Rekso tak berani pulang ke Kadipaten Kendal, dan memilih mendirikan keraton Kekadipatenan yang letaknya di sebelah selatan Wiradesa tepatnya yang sekarang bernama desa Kadipaten (yang artinya di situ pernah akan dijadikan Kadipaten), namun kabar tersebut terendus oleh raja Mataram, akhirnya Sultan Agung mengutus seorang pendekar dari China bernama Tan Jin Kwen yang kemudian diangkat dan ditetapkan sebagai adipati Pekalongan yang pertama setelah berhasil menyingkirkan Bahu Rekso. Kabupaten Pekalongan merupakan salah satu dari 35 Kabupaten/ Kota di Propinsi Jawa Tengah yang berada di daerah Pantura bagian barat sepanjang pantai utara Laut Jawa memanjang ke selatan dengan Kota Kajen sebagai Ibu Kota pusat pemerintahan.

Demikian Sejarah Singkat berdirinya Kota Pekalongan sebagai daerah yang nantinya akan menjadi Kota Batik yang besar dan terkenal.  Lalu bagaimana batik bisa berkembang di kota pesisir seperti pekalongan? Tunggu saja di artikel selanjutnya.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca.

Tetap Berbatik dan Tetap Semangat Setiap Harinya

Salam hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *