Edward Hutabarat, Designer Terkenal Yang Jatuh Cinta pada Batik Indonesia

Edward Hutabarat (akrab dipanggil Edo; lahir di Tarutung, Sumatera Utara, 31 Agustus 1958; umur 59 tahun) adalah salah satu perancang busana terkemuka di Indonesia. Edo juga dikenal sebagai kurator seni dan budaya. Bagi Edward Hutabarat, batik bukanlah sembarang kain bermotif kebanggaan bangsa Indonesia. Baginya, batik adalah warisan bangsa, sisa peradaban yang penuh dengan nilai sejarah tersendiri.
Menurut laki-laki yang akrab disapa Edo itu, batik lahir dengan karakter. Motif yang terukir di atas kain pasti memiliki arti dan filosofi yang dalam. Membuatnya pun tak mudah. Proses membatik yang dilakukan secara manual sejak dulu membuktikan bahwa batik bukanlah barang sembarangan.

“Batik itu kain peradaban, bukan kain tradisional karena zaman dulu bukan untuk dijualbelikan. Batik ada sebagai prestise, bagaimana seorang ibu membuat kain truntum untuk pernikahan putrinya,” kata Edward dalam jumpa pers di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, sebelum memulai fashion shownya, beberapa waktu lalu.

Menyadari begitu berharganya sisa peradaban bangsa itu, di tahun ke-35 Edo berkarya, ia mempersembahkan sebuah perjalanan dirinya bersama batik-batik nusantara. Mengusung tema Batik Journey, Edo ingin menunjukkan kisahnya menemukan batik-batik yang indah selama masa ia berkarya sebagai desainer.

Tak hanya itu, Edo juga ingin menunjukkan kepada masyarakat luas kalau batik juga punya perjalanannya sendiri sebelum membalut tubuh manusia dalam bentuk pakaian.

Edo tak mau mengemas perjalanan berharganya yang ia tempuh bukan dalam tempo yang sebentar itu secara sembarangan. Ia telah mempersiapkan sebuah pertunjukkan karya yang menarik yang bisa menyampaikan kepada khalayak betapa berharganya kain batik bagi bangsa ini.
Tidak seperti kebanyakan desainer yang langsung menggelar fashion show dengan menampilkan baju-baju berdesain fantastis, Edo mengawali rangkaian pertunjukannya dengan menggelar pameran. Di sebuah ruangan megah nan mewah di Hotel Dharmawangsa, Edo memamerkan kain-kain batik yang ia gunakan dalam pertunjukan busananya Kamis malam. Edo dan tim menyiapkan instalasi pameran yang indah tapi tetap terlihat sederhana.

Kain-kain batik dari Cirebon, Solo, atau dari Madura ia biarkan menjuntai di tiang-tiang bambu yang telah dibuat sedemikian rupa. Dengan didukung pencahayaan tambahan Edo ingin orang-orang bisa melihat keindahan, kemegahan, sampai membayangkan kesulitan para pengrajin batik ketika membuat batik-batik kebanggannya itu. Dengan nada penuh dengan rasa puas, Edo bercerita kalau batik yang dipajangnya dan akan menjadi bahan utama pertunjukan fesyennya itu, adalah batik tulis kualitas terbaik.

“Cerita tentang batik itu cerita mata rantai. Kalau menyantingnya bagus, mewarnainya salah juga jadinya tidak bagus. Batik yang indah itu mata rantai itu harus bernilai sembilan,” ujarnya.

“Mulai dari merebus, melukis, isen, nembok, mewarnai, nyelorot, menjemur, mempolanya, menjahitnya, semua harus sembilan. Nyari yang buat begini susah. Ini saja sudah 14 tahun yang lalu saya dapatnya,” kata Edo sambil menunjukkan salah satu kain batik Cirebon.

Edo pun melanjutkan ‘presentasinya’ ke instalasi pameran lainnya. Kali ini ia menuju batik dari Solo buatan pengrajin Tatik Sri Harta. Laki-laki berusia 57 tahun itu menyampaikan apresiasinya terhadap hasil karya Tatik.

Katanya, batik bermotif ayam bewarna cokelat dan hitam tersebut dibuat Tatik, kurang lebih dalam waktu satu tahun. Prosesnya memang terbilang sangat lama karena untuk mendapatkan warna hitamnya saja, Tatik harus mewarnai kainnya sebanyak 15 kali, sebab ia menggunakan pewarna alami.

“Lihat, ini bukan warna krem. Ini motif garis. Luar biasa kan. Jadi memang dibuat dengan hati, enggak kesusu,” ujar Edo.

Membatik memang sudah jadi rutinitas sehari-hari Tatik. Maklum saja ia merupakan seorang pengusaha batik di kota Solo. Sejak duduk di sekolah dasar, Tatik mengaku sudah belajar membatik. Kedua orang tuanyalah yang mengajarinya. Ditambah lagi para karyawan orang tuanya, yang juga ikut menjadi pendorong Tatik untuk membuat pola di atas kain dengan menggunakan canting.

Tatik pun mengaku tidak kesulitan meski harus membuat pola-pola yang bisa dibilang punya tingkat kerumitan yang tinggi. “Tidak ada yang sulit kalau dikerjakan tiap hari. Senang saja. Bahkan kalau lagi sakit lihat batik saya langsung sembuh,” ujar Tatik.

Tak hanya menyuguhkan batik-batik khas Madura, Cirebon, dan batik motif ayam karya Tatik Sri Harta, dalam pamerannya Edo juga memamerkan kain batik khas pekalongan. Yang menjadi fokusnya adalah batik garis yang dibuat oleh Nur Cahyo.

“Batik garis ini karya terbaru antara saya dan Edo. Awalnya digaris dulu pakai tangan seelah itu dibatik. Belum ditembok. Setelah itu diwarna,” kata Nur Cahyo.

Usai memamerkan kain-kain batik kebanggaannya, Edo melanjutkan Batik Journey-nya dalam bentuk busana-busana. Ada yang berbentuk gaun panjang, gaun pendek, jumpsuit, juga ada yang berupa kimono.

Meski menggunakan kain tradisional, Edo mengemas pergelaran busananya dengan begitu modern. Batik garis dibuatnya berwarna-warni. Ia juga memainkan motif garis-garisnya sehingga tidak terlihat monoton dan datar.

Ia juga memadankan beberapa busana dengan motif yang berbeda di setiap sisinya. Misalnya saja ia memadukan motif batik mega mendung dengan batik garis. Ada juga sebuah blazer bergaya kimono dengan motif floral, sementara bagian dalamnya memiliki motif garis.

Pada tampilan busana lainnya, Edo memadukan batiknya dengan bahan-bahan lain seperti bahan yang transparan.

Edo menyebut dia telah menaikkan ‘kelas’ batik dalam pertunjukkan busananya kali ini. Selain membuat model busana yang modern, Edo mengeksekusi batik-batik kebanggaannya itu dengan sangat hati-hati.

“Yang saya maksudkan dengan naik kelas adalah tidak ada batik yang terpotong. Saya pola dulu baru dibatik,” ujarnya. “Kalau selembar kain batik tulis halus ada motif burungnya, kalau itu dipotong, saya seperti memotong burung itu. Karena saya tahu persis bagaimana sulitnya membuat cek-ceknya.”

Melalui suguhan perjalanannya kali ini, Edo ingin mengungkapkan bahwa dibalik indahnya batik-batik yang dikenakan oleh banyak orang, ada usaha para pengrajin batik yang sudah seharusnya diberikan apresiasi.

Tak hanya itu, Batik Journey Edward Hutabart kali ini juga, ia jadikan sebagai ajang untuk menantang desainer lainnya agar terus berinovasi seperti dia. Terus membuat batik menjadi sebuah produk yang membanggakan, tidak tergilas oleh perkembangan zaman meski sifatnya kain tradisional.

“Jangan buat yang lebih jelek dari ini. Bikin lebih baik. Saya tahu ini yang paling jelek,” kata Edo.

Demikian salah satu pahlawan batik yang keren dan berhasil. Dengan karya-karyanya yang luar biasa bisa membuat batik menjadi trend tersendiri dan lebih memiliki harga di mata dunia terutama Indonesia.

Semoga bang Edo tetap berkarya dengan inovasi dan design batiknya yang luar biasa. Terima Kasih sudah membawa batik terkenal dan semakin berkembang dengan desain inovatif.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat dari kami Indonesian Batik

-prajnaparamita-

 

Sumber : CNN Indonesia

Posted in Tokoh Batik and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *