Mengenal Kain Batik Indonesia Poleng Bang Bintulu, Batik Kebesaran Sang Werkudara

Wayang Kulit dan Batik Indonesia adalah perpaduan yang tidak bisa dipisahkan sebagai wariyan budaya dunia. Kedua adat budaya ini saling melengkapi dan saling mendukung, terutama dalam hal filosofi budaya adat Jawa. Berbagai kisah wayang yang diceritakan pasti memiliki suatu maksud dan tujuan tersendiri. Wayang kulit merupakan sendi yang lebih dulu diakui oleh dunia sebagai warisan budaya. Dalam karakter wayang kulit beberapa karakter memakai batik yang berbeda-beda. Arjuna dikenal sebagai pemakai kain batik berpola Limar Ketanggi, Yudistira dengan Limar Jobin, Kresna dengan Parang Modang, Werkudara dengan Poleng Bang Bintulu, Suyudana dengan Parang Barong, dan seterusnya.

Hari ini kita akan membahas kain batik yang dipakai oleh superhero Indonesia yaitu ayah dari Gatotkaca dan anggota Pandawa Lima, yaitu Werkudara atau kadang bisa dipanggil Bimasena. Werkudara yang merupakan pelindung dari ke empat saudaranya memiliki pakaian batik dengan motif poleng yang pada dasarnya hanya terdiri dari dua warna yaitu hitam dan putih. Yang memiliki filosofi bahwa yang Werkudara memiliki sifat yang kokoh, yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar.

Kain poleng tersebut yang memicu Werkudara atau Bimasena untuk menjalankan dharma, memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran dan terutama melindungi rakyatnya. Sifat tersebut yang memicu Werkudara untuk mencari Banyu Suci Perwitasari ke samudera luas dan bertemu dengan Dewaruci yang menjelaskannya tentang Banyu Suci Perwitasari tersebut. Setelah Sang Bimasena memahami maknawiyah Banyu Suci Perwitasari, maka kain dodot poleng yang tadinya hanya 2 warna, yakni: hitam dan putih, lalu ia boleh mengenakan dodot polengnya yang terdiri dari 5 (lima) warna, yang acap disebut kain Bang Bintulu Aji, yang, terdiri atas warna: merah, hitam, kuning, dan putih.

Tentang Makna Poleng

Empat warna yang disebutkan tadi  memiliki arti dan filosofi tersendiri. Bahwa empat warna poleng merupakan simbol dari sedulur papat [empat saudara]. Bahwa ketika manusia dilahirkan kedunia, Tuhan sudah menyertainya, bahkan menyiapkan 4 saudara yang bisa kita mintai tolong tanpa kita harus membayar. Yaitu: bumi, api, angin, dan air.

Bumi

Bumi memiliki watah yang kokoh dan dermawan, bumi memberikan kita apapun yang tumbuh di bumi. Bahkan untuk seluruh makhluk hidup yang tinggal diatasnya tanpa terkecuali. Bumi juga merupakan tempat kita menyadari bahwa kita tidak sepatutnya menyombongkan diri karena kita berada di bawah langit yang tinggi. Untuk itu kita seharusnya tetap merendahkan hati namun bukan merendahkan diri. Sebagai pengingat bahwa kita manusia biasa.

Api

Api adalah kekuatan tersendiri, energi yang mampu membuat kita mampu melakukan sesuatu yang lebih baik. Maksudnya adalah menyempurnakan apa yang kita telah dapatkan dari bumi untuk menjadi lebih baik.

Angin

Angin adalah intisari kehidupan, tanpa angin atau udara kita tidak akan mampu bertahan hidup. Selain itu angin juga merupakan. Selain itu angin adalah simbol kecepatan, sebagai pengingat adanya hukum alam yang apabila dilanggar akan melahirkan bencana.

Air

Air adalah simbol intelektualisas. Oleh karena Tirta Mahapawitra itulah yang dicari oleh Sang Bimasena, maka sessungguhnya, air merupakan sumberdaya hidup, karena intelektualitas itu sendiri merupakan sumber daya hidup. Intelektualitas itulah yang menempa, membentuk, dan memproses seseorang agar menemukan jatidirinya sebagi sumber petunjuk hidup.

Sedangkan makna warna yang digunakan dalam motif poleng adalah sebagai berikut.

Hitam, merupakan perlambang kekuatan. Sang pemilik kekuatan selalu memiliki watak, perkasa, mudah marah dan tersinggung, serta berwatak berangasan. Apabila dibiarkan, akan menghalangi perbuatan keutamaan.

Merah bermakna tabiat penuduh, hatinya mudah panas, dan selalu mengajak perselisihan. Jika dibiarkan, akan menutupi kewaspadaan .

Kuning, sebagai lambang birahi. Birahi disini bukan hanya birahi dalam hal seksualitas, tetapi juga dalam hal kepemilikan harta benda, jabatan, dan kekuasaan.

Putih, menuntun ke arah hidup suci. Mumpuni didalam olah spiritualitas dan mampu menerima ilmu ma’rifat dari Sang Maha Pencipta.

Sangat luas sekali apabila dijabarkan lebih lanjut mengenai filosofi dari sehelai kain batik yang dipakai oleh Raden Werkudara. Intinya dari semua itu adalah mampu menjadi orang yang arif dan bijaksana, memahami kehidupan dan tujuan hidup yang dijalani. Menjadi pribadi yang selalu ingat dengan Yang Maha Kuasa, menjalankan kebaikan dan menjauhi larangan.

Orang yang ber ilmu namun tidak ingat pada sang Illahi maka sia-sia segala ilmunya. Karena ia mengedepankan ilmunya daripada kedekatannya dengan Tuhan. Apabila seorang manusia telah menyerahkan hatinya hanya kepasa Sang Pencipta maka jika sedang tidak diperlukan. Oleh Tuhan ia diletakkan pada kedudukan diatas segala kedudukan. Jika Allah memerlukannya, ia akan diterjunkan kedalam masyarakat, dengan membawa cinta kasih, kehormatan, dan kebahagiaan.

Banyak manusia telah menginvestasikan motivasinya secara besar-besaran tanpa tahu apa tujuan hidupnya. Akibatnya, bukan kebahagiaan yang ditemui tetapi justru tekanan nhidup yang semakin mengerikan. Jika ada keberhasilan yang sangat besar, ia bukan keberhasilan yang membuat kebahagiaan, tetapi membuat hidup tak bermakna, hidupnya selalu melompat dari krisis kebahagiaan ke krisis kebahagian yang selanjutnya. Maka manusia perlu memiliki ageman yang bisa dijadikan panduan dalam hidup, seperti yang dipakai oleh Sang Werkudara, yakni kain atau dodot poleng. Jika kain poleng yang mempunyai warna empat: yaitu hitam, merah, kuning, dan putih, maka dalam perwujudan kain batik menjadi hanya berwarna 2, yakni hitam dan putih, atau coklat tua dan putih. Ini sebuah perlambang bahwa kain batik sebagai kitab kehidupan berusaha menyederhanakan perwujudan agar mudah dipahami oleh sang pemakainya.

Semua sikap dan perilaku kita, disandarkan dan sekaligus diperuntukkan hanya untuk:

hambeg adil paramaarta – berbudi bawa laksana, mangasah mingising budi, mamasuh malaning bumi – mamayu hayuning bawana

dengan cara terus meningkatkan pengetahuan spiritualitas kita agar pengetahuan tersebut seterang bulan purnama untuk memberikan pencerahan kepada sesama manusia dalam bingkai kasih sayang, kehormatan, dan kebijaksanaan.

Kain Batik Poleng Bang Bintulu hanya salah satu pelajaran berharga bahwa dalam hidup kita banyak yang harus dipelajari, tidak hanya ilmu duniawi tetapi juga ilmu rohani sebagai bekal untuk kehidupan yang lebih abadi suatu saat nanti.

Terima Kasih Sudah Membaca, Terima Kasih Sudah Berbatik

Tetap Cintai Budaya Indonesia

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

 

Referensi : Soedartosuhu

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

3 Comments

  1. Pingback: Pemakaian Motif Batik pada Pakaian Wayang Kulit Purwa - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *