Warisan Budaya Batik Praja Mangkunegaran di Desa Batik Girilayu,

Setelah selesai kita membahas Sejarah Batik di Mangkunegaran, selanjutnya kita akan menuju Desa Batik Girilayu. Yang mewarisi tradisi batik Mangkunegaran sampai saat ini. Desa Batik Girilayu tidak bisa dipisahkan dengan Mangkunegaran, karena di Desa tersebut adalah tempat Makam Raja-raja Mangkunegaran yang berada di Astana Mengadeg dan Astana Giribangun. Jadi secara langsung dahulunya Desa Girilayu adalah wilayah Praja Mangkunegaran dengan segala adat dan budayanya termasuk batik.

3

Batik di Desa Girilayu sudah ada sejak zaman Mangkunegara I, dan secara turun-temurun tradisi membatik dipertahankan dan dikembangkan terus menerus, termasuk ketika zaman Suro Pawiro. Promotor batik Girilayu dan pengusaha batik yang sukses di Girilayu. Desa Girilayu adalah sentra pembatik tulis yang sudah puluhan tahun berteman dengan mori, malam dan canting.

Perkembangan batik Desa Girilayu semakin menjadi setelah Siti Hartinah, yang sehari-hari dipanggil “Ibu Tien Soeharto” merupakan anak kedua pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan canggah Mangkunagara III dari garis ibu. Yang menikah dengan Presiden Kedua Republik Indonesia yaitu Presiden Soeharto. Dan kemudian pasangan ini juga dimakamkan di dekat Astana Mengadeg yaitu Astana Giribangun, menjadikan batik Tulis semakin berkembang pesat karena Ibu Tien sendiri adalah seorang Jawa yang tulen. Ditambah lagi Ibu Tien Soeharto kesehariannya juga sering memakai kebaya dan batik.

5

Saat Ini, apabila berkunjung ke Desa Batik Girilayu, di rumah penduduk akan menemui pembatik yang sedang asik membatik. Memang tidak semuanya membatik, namun hampir sebagian besar dari mereka mengenal dan memahami motif batik mereka. Seperti Eyang Wito, yang sudah berusia hampir 90 tahun masih setia membatik. Generasi muda juga tidak kalah, Pani dan anaknya Lilik, setiap pagi berada di depan gawangan dan batik, Yudi dan istrinya yang juga mengembangkan pola batik di rumahnya termasuk proses pewarnaan batik.

6

Jadi ketika kita berkunjung kita tidak menemukan pembatik, karena mereka berada di rumah masing-masing. Bukan di pinggir jalan lalu dipamerkan, mereka membatik karena selain sebagai penghasilan, mereka tahu dan cinta pada batik yang mereka kerjakan dan mereka membuatnya dengan tidak amin-main. Dari Desa inilah dapat kita temukan esensi membatik sesungguhnya, bagaimana canting mengikuti langkah lincah para pembatik.

Sesepuh yang sudah terbiasa membatik kebanyakan tidak memakai pola untuk membatik, seperti Warsi dan Nti, yang ketika kami berkunjung beliau sedang membatik truntum dan kawung tanpa motif. Batikan Desa Girilayu sangat halus dan rapi, maka tidak heran banyak yang menuju Desa Girilayu untuk membatikkan motif mereka.

4

Selain itu banyak sekali yang menjadi pengusaha batik di Desa Girilayu, hampir di 5 kebayanan pasti ada saja yang penjadi pembatik. Karena sudah menjadi tradisi dan turun temurun diwariskan kepada generasi selanjutnya. Namun mungkin kesejahteraan para pembatik belum bisa mendapatkan tempat yang baik terlihat hanya beberapa dari para pembatik yang mendapatkan penghasilan yang layak dari hasil membatiknya.

Sekarang motif batik kontemporer yang banyak dikerjakan di Desa Batik Girilayu, sedangkan motif klasik cenderung jarang dikerjakan karena kesulitan dan kerumitannya. Sebagai Desa Batik yang berkembang, semoga desain batik klasik tidak ditinggalkan begitu saja agar tetap lestari sampai anak cucu kita nanti.

Apabila ingin berkunjung ke Desa Batik Girilayu, pm admin atau langsung menuju lokasi kami di bawah ini. Semoga kami bisa membantu bagi para pencinta dan pemburu batik untuk kulineran batik di Desa Batik Desa Girilayu.

Terima Kasih Sudah Membaca

Tetap budayakan batik Indonesia

Salam, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Gallery and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *