Cara Memakai Kain Batik dalam Tradisi Jawa

Batik bukan hanya sebagai seni yang bisa dilihat saja. Namun pada dasarnya batik adalah sebagai pakaian atau sebagai fashion orang jaman dahulu kala yang masih digunakan sampai sekarang. Dalam penggunaannya pun berbeda-beda tergantung acara dan event tertentu misalnya pernikahan. Bagi masyarakat Jawa Tengah penggunaan batik sebagai pakaian wajib dalam pernikahan sudah menjadi sesuatu yang wajib. Terutama pernikahan yang menggunakan adat Jawa.

Dengan berkembangnya zaman batik sudah menuju ke proses fashion yang lebih modern dengan kombinasi dan inovasi yang baru. Bagi kalangan keraton, batik sudah menjadi keseharian mereka. Dalam memakai batik ada beberapa cara, yang kami sebutkan adalah sesuai dengan kebudayaan masyarakat yang ada saat ini.

Ada berbagai macam cara memakai kain batik, diantaranya :

  1. WIRU

Belajar Me-wiron

Bagi yang sudah menikah dengan adat Jawa, atau para kondanganers sudah pasti pernah melihat cara pemakaian batik dengan nama Wiru. Kita bisa melihat ketika para among rawuh [penyambut tamu] memakai pakaian beskap dengan bawahan kain batik yang diwiru.

Cara berkain batik dengan melipat – lipat pinggiran luar sehingga menyerupai kipas. Diposisikan di tengah depan. Lipatan selebar 1 jari dan banyaknya harus ganjil ( 9 atau 11 lipatan ). Wiru juga sering digunakan sebagai penghormatan pada suatu acara resmi. Di Solo, pinggiran kain berwarna putih disembunyikan di bawah lipatan pertama, sedangkan di Jogjakarta justru diperlihatkan terdepan.

 

  1. SELENDANG

Kebaya_Tradisi_OK
Para fashionista zaman dahulu menguunakannya untuk berbagai acara, dalam keseharian juga sering membawa selendang karena selain sebagai pasangan serasi bagi kebaya selendang memilik banyak kegunaan bagi perempuan zaman dahulu.

Selendang telah menjadi pasangan wajib saat seseorang mengenakan kebaya dan kain panjang. Kini, selendang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari busana nasional. Di masa lalu, selembar selendang selalu dibawa oleh seorang perempuan karena multiguna. Potongan kain panjang ini bisa dijadikan pelindung kepala multiguna. Potongan kain panjang ini, bisa dijadikan pelindung kepala, penghangat badan, alat gendong bayi, penyimpan harta benda, dan sebagainya.

 

  1. BLANGKON

Abdi_Dalem_Keraton_Surakarta
Ketika ada pagelaran Wayang Kulit seorang dalang tidak akan lepas dari blangkon yang dikenakannya sebagai contoh. Para abdi dalem keraton juga selalu menguunakan blangkon sebagai istilahnya topi kalau zaman sekarang. Suatu saat akan kita bahas khusus mengenai blangkon dan filosofinya.

Selain blangkon, model ikat kepala dengan batik juga sudah berkembang dan bervariasi dalam bentuk maupun cara pemakaiannya.

Blangkon adalah modifikasi dari ikat kepala, terbuat dari batik dan dikenakan pada acara – acara resmi. Benjolan di belakang, yang disebut mondholan, awalnya dibuat untuk memberi tempat menyisipkan ikatan rambut panjang lelaki zaman dahulu. Blangkon Jogjakarta memiliki mondholan yang terlihat sementara blangkon Solo rata dari luar.

 

  1. KEMBEN

sbc2
Di masa lampau, perempuan mengenakan kain batik sebagai bawahan sementara dada dibalut oleh kain bernama kemben. Pada acara khusus atau hari – hari tertentu, kemben baru ditutup oleh kebaya. Kemben yang dilapisi kain sutra berwarna cerah diperuntukkan khusus bagi anggota keluarga raja, terutama permaisuri, para garwa ampil dan para putrid raja.

 

  1. DODOT/KAMPUH

g30neq5ddx1a72820161517
Ini adalah kain batik seremonial yang dipakai meliliti pinggang, berukuran 7 – 8 kacu dengan lebar 2 kacu atau sekitar 4 meter x 2 meter. Biasa dipakai pada saat – saat istimewa, seperti pada upacara pernikahan puta – putri raja dan pada saat jumenengan atau peringatan hari penobatan raja.

Bagi masyarakat tradisional Jawa, memakai batik adalah sesuatu yang membanggakan, sesuatu yang memiliki aura tersendiri. Sehingga mereka akan terlihat sangat nyaman sekaligus seperti memakai pakaian kebesaran mereka. Akan ada rasa hormat terhadap apa yang mereka pakai atau batik apa yang orang lain kenakan. Sebagai suatu toleransi budaya dalam keragaman tersendiri.

Mungki bagi zaman modern seperti sekarang ini, semakin sulit dalam kehidupan sehari-hari untuk menemukan kecuali pada acara resmi atau acara tertentu. Sebagai negara berkembang Indonesia juga harus mengikuti perkembangan zaman, begitu juga dengan dunia fashion. Namun sekali lagi tidak salah menjadi klasik dan tidak akan turun pamor kita karena memakai batik. Batik adalah identitas resmi bangsa Indonesia dan akan tetap seperti itu meskipun zaman telah berganti.

Terima Kasih telah menggunakan batik.

Salam Hangat Indonesian Batik.

-prajnaparamita-

 

Picture Source google

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *