Sekilas Sejarah, Suro Pawiro, Dalam Hingar Bingar Desa Batik Girilayu

Setelah artikel tentang sejarah batik di kota Solo, sejenak kita menepi, menuju desa di timur Solo, di lereng Gunung Lawu. Untuk mencari yang ada tapi tidak pernah terlihat, kehidupan batik tulis di sebuah desa bernama Girilayu. Girilayu hanyalah sebuah desa yang merupakan bagian dari Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar. Sekilas sama sekali tidak terkenal, karena memang tidak, belum. Sebenarnya Desa tersebut memiliki situs warisan sejarah juga. Diantaranya makam Presiden ke-2, Bapak Soeharto beserta Ibu Tien Soeharto di Astana Giribangun, ditambah lagi dengan adanya makam dari raja-raja Mangkunegaran yang berada di Astana Mengadeg dan Astana Girilayu, sudah seharusnya memberikan nama lebih untuk masyarakat sekitarnya di desa girilayu tersebut.

Namun bukan hanya itu saja yang menarik, Desa Girilayu juga merupakan Desa Batik. Tempat dimana canting menari di atas kain putih, menggambar sejuknya pola Udan Liris, atau romantisme Truntum dalam pernikahan Jawa. Sebagian besar perempuan yang renta di Desa Girilayu bergelut dengan motif batik khas Surakarta, dengan sogan, atau dengan parang. Bersanding dengan tumper yang mengepul asap dan wajan setengah malam yang menghitam karena berpuluh tahun berada disitu. Meskipun tidak sedikit juga anak muda yang bergelut dengan batik, entah cinta atau hanya pelampiasan saja.

Hujan gerimis sore ini pula menulis sejarah batik di Desa Girilayu, datang tanpa dijemput, bercerita beberapa puluh tahun lalu. Sore itu juga.

Suro Pawiro, nama yang sangat “ndeso” namun sangat Indonesia. Memiliki istri bernama Sainah Suro Pawiro, perempuan Jawa yang suka membatik. Mungkin beliau adalah salah satu contoh orang yang jatuh cinta pada batik. Setidaknya begitu kelihatannya ketika dari batik, beliau bisa menjadikan 7 orang anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik, meskipun tidak ada yang meneruskan cintanya, membatik.

Bagi kebanyakan orang di Desa girilayu, sudah tahu nama Suro Pawiro, karena batik, dan karena cintanya pada Jawa. Darinya batik populer sebagai mata pencaharian dan bukti bahwa budaya batik masih berjuang untuk bertahan. Suro, bukan pembatik, istrinya yang membatik, di depan rumah dengan pohon kelapa yang bolong bekas meriam belanda, sekarang sudah ditebang. Beliau memasarkan batiknya ke Solo, sekitar kurang lebih 40 km. Dulu mungkin belum ada transportasi. Dan apabila salah satu batik klasik Solo sangat terkenal, mungkin saja itu salah satu perjuangannya.

Menurut sumber, beliau adalah pengepul batik di Desa Girilayu, sekitar tahun 1960, menjualnya ke Solo, digendong, batiknya, bukan istrinya. Sekitar 50 batik setiap bulannya, semuanya masih dalam bentuk batik yang belum melalui proses, baru selesai di tulis. Para pembatik hampir semuanya mengumpulkannya ke Suro Pawiro. Orang solo yang membabarkannya, entah karena tidak bisa atau tidak tahu caranya. Pembatik Desa Girilayu dulu hanya merupakan buruh batik.

Batik kembang kopi, kawung, kopi pecah, udan liris menjadi motif kesukaan di Daerah Girilayu. Hebatnya para pembatik desa Girilayu dahulu tidak menggunakan pola yang sudah digambar, semuanya digambar dalam hapalan ingatan mereka.

Sebenarnya sebelum era Suro Pawiro, mungkin ada, namun tidak banyak dan tidak populer. Baru setelah era Suro Pawiro, batik mulai menyebar dan semakin banyak pembatik yang menuangkan malam pada cantingnya. Beliau tidak hanya cinta pada batik, memiliki seperangkat gamelan dan wayang membuktikan bahwa beliau bukan asal dapat uang, tetapi cintanya pada kebudayaan yang membuat beliau menjadi salah satu orang yang paling berpengaruh dalam perkembangan batik di Desa Girilayu.

Dan sekarang, batik telah semakin banyak dibuat oleh masyarakat Desa Girilayu, berbagai motif dan pola, inovasi baru dikembangkan di Desa yang sebenarnya sangat luas. Hanya saja, para pembatik tetap sama, seperti pelukis yang tidak memiliki nama dalam setiap karyanya, jerih payah 2 minggu sampai satu bulan hanya selesai di beberapa kilogram beras 64. Nama mereka hilang, digantikan nama besar yang bahkan mungkin hanya sedikit tahu siapa dan bagaimana perjuangan para pembatik. Sejak dahulu seperti itu, selalu ada nada melankolis yang mereka sampaikan lewat gambaran batik para pembatik.

Sekali lagi mereka tidak ingin nama besar, mereka ingin mengabadikan cintanya kepada ukiran batik di setiap lengkuknya. Entah itu akan dipakai Bapak Presiden Jokowi, atau para pejabat DPR, mereka pun tidak tahu, dan tidak perlu peduli. Selagi malam masih ada dan cucuk canting belum patah mereka akan tetap membatik, tetap bercerita bahwa lelehan malam tidak akan luntur dimakan usia, coretan mereka akan abadi meski hari selalu berganti.

Sekejap kisah Suro Pawiro, yang sekarang sudah tinggal nisan bertuliskan namanya, halaman tempat istrinya membatik terbengkalai. Hilang, hanya jiwa batiknya yang tertinggal, masih menjadi dongeng nyata ketika sore anak kecil pulang ke dalam rumahnya, dengan tumper dan dengan canting, dan dengan malam yang sama. Sore itu juga.

Kami dedikasikan kepada Simbah Suro Pawiro dan istri Sainah Suro Pawiro. Akan kami ingat cerita tentang tumper dan meriam belanda. Terima Kasih telah mewariskan kepada kami budaya batik.

Tetaplah menjadi manusia yang memiliki cita dan cinta.

 

Dari hati, Terima Kasih Banyak.

 

-Prajnaparamita-

 

Sumber : Wawancara Pribadi

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

6 Comments

  1. Terima kasih kau kenang cita dan cinta batik tradisi tradoisi batik suropawiro pendidik yang buta hurup tetapi jiwanya penerus generasi ekonomi batik di desa girilayu nam terkenang hingga sekarang lanjutkan perjuangan ekonomi batik girilayu

  2. Pingback: Adakah Budaya Batik pada Zaman Kerajaan Majapahit ? - Indonesian Batik

  3. Pingback: Mengunjungi Rumah Peninggalan Juragan Batik Terbesar di Girilayu Sejak Abad ke-20 - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *