Canting, Alat Membatik Tradisional [ Bagian I ]

Kalau sudah membahas batik, tidak akan ketinggalan alat untuk membatiknya, Canting. Bukan bolpoint bukan pensil, beda. Dan hanya Canting yang bisa membuat motif yang unik dan harmonis yang digambarkan lewat pola-pola batik tersebut.

“Iya mas, kalau kita buat rumah nah atapnya itu dikasih Canting ya mas?”

“Itu Genting mas Genting, masnya siapa sih…?”

Menurut wikipedia, Canting (dari bahasa Jawa, canthing) adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan yang khas digunakan untuk membuat batik tulis, kerajinan khas Indonesia. Canting tradisional untuk membatik adalah alat kecil yang terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya.

Canting berasal dari bahasa Jawa “canthing”, sebuah alat yang dipakai untuk memindahkan cairan malam untuk membuat batik tulis. Umur alat untuk membatik ini memang sudah setua peradaban Mesir lama. Jejaknya ditemukan kali pertama pada pembungkus mumi, yang ternyata buatan abad ke-IV Sebelum Masehi. Namun, ruhnya untuk menyuguhkan pola-pola keindahan tak pernah mengenal kata berkesudahan, tak lekang di tiap ruang dan juga milenia

“Wah, kalo di Mesir sana namanya Canting juga mas?”

“Kaga tau, saya belom lahir mas, bukan orang Mesir juga..”

canting 4
Canting dibuat dengan mempertimbangkan presisi agar malam yang keluar dari mulut canting dapat mengalir lancar sehingga hasil pembatikan dapat sesuai dengan yang diharapkan.

Canting terdiri atas 3 bagian :

  1. Mulut atau cucuk : bagian ujung canting berbentuk pipa kecil yang bersentuhan langsung dengan kain.
  2. Bagian badan atau nyamplung : berupa wadah untuk menyimpan malam panas yang tersambung pada bagian
  3. Gagang atau pegangan : terbuat dari bahan bukan penghantar panas seperti bambu atau kayu.

Berdasarkan kegunaannya ada 3 jenis canting :

  1. Canting untuk nulis atau nglowong
  2. Canting untuk nembok
  3. Canting untuk isen – isen atau

Proses pembuatan canting :

  1. Bahan logam seperti tembaga atau kuningan dipotong mengikuti pola.
  2. Lempengan logam ditempa ( dikenteng ) dan ditekuk sesuai pola
  3. Setelah dikenteng, logam dilas menggunakan pijar dan biji perak untuk selanjutnya dikikir.
  4. Salah satu ujungnya dipasang cucuk, lalu kemudian dilas lagi dan dikikir kembali. Setelah selesai dilas, badan canting dipasang pada gagang bambu/kayu dan diikat dengan kawat.

Ukuran canting dapat bermacam-macam sesuai besar kecilnya lukisan batik yang akan dibuat. Untuk Selengkapnya bisa dilihat disini. Saat digunakan, pengrajin memegang canting seperti menggunakan pena, mengisi nyamplung dengan malam cair dari wajan tempat memanaskan malam tersebut. Pengrajin kemudian meniup cairan malam panas dalam nyamplung untuk menurunkan suhunya sedikit, kemudian melukiskan malam yang keluar dari cucuk tersebut di atas gambar motif batik yang sebelumnya telah dilukis dengan pensil.

“Masnya perajin Canting apa cuman cerita doang?”

“Saya tukang bunuh orang, mau dibunuh? masnya siapa heh..?”

Memang, membatik identik dengan menulis. Sama-sama menggunakan alat penuang tinta dan malam pena dan canting. Sama-sama mewarnai lembaran kertas dan kain yang polos tanpa corak, sebagaimana fitrah anak Adam. Keduanya mengekspresikan suasana hati dan kenyataan sekitar. Sebagaimana pena dalam meretas kata, dari situlah canting mengurai makna. Dari filosofi itu pulalah canting menjadi komunitas untuk saling berdiskusi dan saling berbagi.

Canting adalah sebentuk alat tulis dari Jawa yang terbuat dari logam dengan tangkai bambu atau kayu, digunakan untuk menggoreskan malam panas pada permukaan kain. Canting ditemukan di Jawa dan bentuk dasarnya tidak pernah berubah sampai sekarang. Dunia mengakui canting sebagai alat yang lahir dari kearifan lokal asli Indonesia, bagian dari tradisi seni batik sebagai warisan budaya yang tak berujud.

“Waaah, itu Pocong juga kaga ada wujudnya mas, warisan budaya juga bukan?”

“Au ah mas, nanya aja sama UNESCO sana noh..”

Untuk lebih jelasnya pembagian Canting berdasarkan fungsinya akan dibahas di bagian 2.

Stay Tuned.

 

Salam

Indonesian Batik

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Canting, Alat Membatik Tradisional [ Bagian II ] - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *