Batik Tulis, Pengabdian Cinta Tak Berkata

Batik tulis adalah seni melukis dengan tangan, menggunakan canting dan hati. Setiap goresan bersambungan erat dengan hati sanubari sang pembatik. Satu tiada tanpa yang lain. Alangkah adiluhung nilai seni batik tulis, mengingat betapa besar kearifan yang tersimpan di dalam kerumitan penciptaannya dan pemaknaan yang disiratkan. Bisa kita lihat betapa kasih sayang begitu cemerlang terabadikan  di dalam perlambangan seperti Sido Asih. Namun, walau corak sama, dua karya batik tulis tidak akan pernah sama persis. Inilah keindahan karya cipta yang datang dari hati insan manusia – setiap ciptaan menjadi unik.

Mbah Wito, yang sekarang sudah berusia kurang lebih 90 tahun, masih setia berada di depan gawangan batiknya, beliau sedang menyelesaikan Batik Sriwi. Dengan penglihatan yang sudah mulai memudar, meniup Canting yang sudah berkerut seirama dengan merentanya usia. Sudah berpuluh tahun beliau menulis Batiknya tanpa pola, hanya menghapalkan motif yang ia suka.

Beliau tertawa, tanpa memperdulikan politik, atau rebutan jabatan di luar sana. Beliau terlalu cinta pada Batiknya. Pendengarannya pun sudah berkurang ketika kami tanya sejak kapan beliau mulai membatik. Kayu mahoni yang beliau gunakan untuk memanaskan wajan malamnya mengepul asap. Sampai hitam wajan itu. Saksi bisu berapa ratus coretan Batik yang sudah beliau selesaikan.

Begitu panjang sejarah batik mengalir dalam budaya bangsa ini, hal ini bersenyawa cantik dengan keseharian para pembatik. Tidak ada  tuntutan untuk pengakuan, tidak ada perhitungan akan pengabdian yang telah diberikan. Sungguh suatu tradisi yang membuat hati ini merendah. Sisi kebendaan, segala yang kasat, dari batik seringkali dikecohkan sebagai kearifan batik. Siapa pun bisa merebut pola, corak ragam hias, maupun proses batik. Namun kearifan batik kita tidak akan pernah dapat tercerabut karena mengakar dalam pada budaya – budaya yang ada di tanah kita.

Di sini, di Desa Batik Girilayu, beliau hanya salah satu pembatik yang masih bertahan. padahal harga batik tidak menentu, bahkan cenderung semakin murah. Meskipun ini bukan hanya sekedar materi, namun tetap saja, menghargai karyanya dengan murah bukan sesuatu hal yang pantas untuk dibanggakan. Kesetiaannya melebihi perempuan yang jatuh cinta kepada seorang lelaki. Jatuh cinta sendirian kepada Batiknya, benar, bertepuk sebelah tangan.

Kekhasan batik tulis adalah kerumitan yang menuntut tingkat ketelitian dan kesabaran yang sangat tinggi. Bukan dalam hal kerumitan gambar, namun lebih pada proses pengerjaannya yang sifatnya bertingkat – tingkat dan berlapis – lapis, di mana di dalamnya tertanam pengetahuan – pengetahuan  khas yang diturunkan dari ingatan ke ingatan. Kenyataan inilah yang membuat batik begitu manusiawi. Semua keindahannya datang dari sanubari manusia, roh yang tak tertirukan oleh mesin tercanggih sekalipun.

Dari masa ke masa, manusia menitipkan pesan perlambang pada karya – karya batik. Ribuan perlambang batik hidup hingga kini. Pemaknaan dalam karya seperti inilah yang menjadikan batik wahana untuk menanamkan nilai – nilai luhur, doa, harapan dan ungkapan kasih.

Tubuh yang renta bukan alasan untuk tetap berusaha mempertahankan warisan budaya Indonesia yang selalu hampir hilang, tergerus zaman atau terganti hari. Semoga cinta yang beliau gambarkan lewat motif Batikya akan terus bertahan di generasi selanjutnya, semoga beliau menjadi titik tolak bagi kami untuk selalu lebih menghargai budaya Batik dan budaya Indonesia yang lain sebagai tanda cinta kasih kita kepada Indonesia.

Salam Hangat

Indonesian Batik

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *