Batik, Kaya dan Karya Tradisi Turun Temurun

Batik Tulis Karya Tradisi Turun Temurun merupakan suatu karya cipta batik tidak pernah datang dari  satu orang saja. Di masa silam, ketika semua masih dibuat tangan, ada yang memetik kapas, memintalnya menjadi benang, lalu ada yang menenun benang menjadi lembaran kain. Lembaran kain kemudian diremdam bilas dengan ramuan tertentu sebagai persiapan.

Dari sini, kain berpindah – pindah tangan pada suatu proses panjang dari menggambar pola, pencantingan, hingga pencelupan warna. Urun tangan semakin panjang rangkaiannya ketika sebuah rancangan menuntut lebih ragam keahlian pada pengerjaan detailnya.

Menutupi bagian – bagian kain dengan malam, untuk mengatur mana yang kena dan yang tidak kena warna pada pencelupan, adalah prinsip dasar membatik. Teknik bongkar – tutup malam ( lilin ) dan pencelupan bertingkat – tingkat di dalam tradisi pembatikan Jawa mencapai tingkat kerumitan yang diakui sebagai yang tercanggih di dunia.

Penggunaan canting, temuan asli masyarakat pembatik Jawa, memungkinkan pemindahan malam panas pada kain dengan sangat terkendali ukuran tipis – tebalnya. Alat ini memampukan para pembatik untuk menciptakan detail – detail yang luar biasa. Namun proses pembatikan tidak selesai hanya pada para pencanting.

Selembar batik tulis menghendaki urun tangan dari banyak keahlian khusus, seperti :

  • Para pemintal benang tradisional dan penenun kain dasar.
  • Para peramu warna alami
  • Perancang atau pemilik motif
  • Penata atau juru gambar motif
  • Berbagai pencanting dengan spesialisasi berbeda dalam mengerjakan penutupan dengan malam antara satu pencelupan warna ke pencelupan warna berikutnya.
  • Para pencelup warna, sebagian spesialisasi pada warna – warna tertentu saja.
  • Para pelepas lilin ( dengan mengerok atau dengan merebus, tergantung kombinasi warna motif yang dikehendaki ).
  • Para ahli pengeringan kain batik yang sudah rampung.

Jelaslah tidak ada yang dapat mengaku sehelai kain batik tulis adalah hasil karyanya seorang diri. Ada komunitas, kelompok, rentetan pekerjaan kreatif yang secara kait – mengait, sejajar dalam peran, meniupkan nyawa pada setiap lembar.

BATIK SEBAGAI  TATA KRAMA

Karena asal – usulnya berkaitan dengan bahasa bisu tentang siapa aku dan siapa kamu, kain batik klasik yang tumbuh besar di lingkungan keraton mengemban perlambangan dan penataan yang sudah diatur oleh penguasa.

Dari apa yang dikenakan dan bagaimana mengenakannya, dapat langsung diketahui bibit, bobot, dan bebet seseorang.

Bagai kode etik, di Jawa ada kode batik. Pemagar – magaran melalui simbolisasi dan tata cara paling jelas bentuknya pada batik – batik bermotif “larangan”, yang diciptakan hanya untuk sang raja dan permaisurinya di lingkungan keraton Mataram dan turunannya. Kelancangan mengenakan motif batik yang bukan haknya dapat mencelakakan diri dan keluarga.

Tradisi istana itu dengan sendirinya menciptakan rantai kode batik di lingkungan istana, kaum ningrat, prajurit, saudagar, peranakan, hingga rakyat biasa. Lahirlah beraneka ragam motif untuk mewakili jati diri masing – masing.

Kaum saudagar di Solo, yang kuat kedudukan sosialnya, berhasil meminjam motif – motif larangan dalam menciptakan batik Sodagaran. Batik Encim lahir di kalangan keturunan Tionghoa. Kaum ningrat pun menciptakan motif – motif sendiri yang dipegang turun – temurun sebagai pusaka keluarga.

Walau kekuasaan raja telah lama dihapus, kode batik masih dihormati pada upacara – upacara adat Jawa. Batik Slobokan dipakai pada pemakaman, Sido Mukti pada pernikahan, dan seterusnya. Muatan falsafah yang tersimpan pada motif – motif batik klasik abadi sifatnya.

 

Salam

Indonesian Batik

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *