Bandung Bondowoso, Romantisme yang Kandas Terkubur Seribu Candi Roro Jonggrang

Jatuh cinta ternyata bukan hanya menjadi kisah kejam di kehidupan manusia pada abad smartphone ini. Karena bahkan sejak dahulu, tidak pernah ada pembenaran mengenai nikmatnya jatuh cinta selain menjadikan manusia menjadi setengah gila dan auto suram ketika cintanya tak terbalas. Bahkan ketika sebuah kisah romantis yang kandas terkubur seribu candi Roro Jonggrang. Seribu candi yang […]

Continue reading

Menanti Kekasih Untuk Memakai Batik Truntum Garuda Sarimbit

Hai para jomblo dan makhluk astral yang di sekitarnya (termasuk admin), nanti malam gerhana bulan loh, ngga’ ada yang ngajakin berubah jadi serigala gitu? Nasib yah sendirian dengan keyboard dan kepala yang gembrubug mikirin artikel. Sembari menanti kekasih untuk diajak memakai batik truntum garuda sarimbit. Let’s go kita free talk aja hari ini. Jadi ceritanya […]

Continue reading

Ilalang Hitam Supraba Penakluk Kerajaan Hati Arjuna

Seribu semi bunga gladiol merah menghiasi pelataran joglo megah yang penuh dengan ukiran jati dan gaharu. Semilir aroma melati menyerbak memenuhi rongga jantung seorang lelaki muda yang duduk bersila di tengah hamparan padang bunga dahlia. Menyerahkan diri ke hadapan Sang Pemilik Jagad Raya, yang mewarisi kesempurnaan para dewa. Dialah Arjuna.. Getar nafas pemuda ini menunjukkan […]

Continue reading

Tangis Arimbi untuk Gatotkaca dalam Api Kesedihan di Padang Kurusetra

Mendung kelam berduyun-duyun datang seolah mengiringi cahaya yang sesekali bersembunyi di atas langit kurusetra. Beberapa kali menukik menjemput nyawa prajurit kurawa yang tidak mampu menghindar. Jasad-jasad tanpa kepala meregang nyawa di tengah peperangan. Api kesedihan di padang Kurusetra, tempat perang Bharatayuda. Gatotkaca lah yang terbang di antara kelam mendung senja hari itu. Dialah putra Dewi […]

Continue reading

Kisah Cinta Arimbi, Raseksi Berhati Bidadari

Cinta tidak pernah memandang kepada siapa dan kepada wujud apa. Setidaknya itu teori yang dikatakan google beberapa hari lalu ketika membahas kisah cinta Rama dan Shinta. Memang sudah ada sejak muncul sejak zaman Adam dan Hawa, bahkan sampai juga ketika zaman Dilan dan Milea. Tidak akan ada habisnya sebuah kisah menjadi cerita melankolis yang mampu […]

Continue reading

Kehidupan dari Sudut Pandang Batik, Jadah Goreng, dan Kopi Hitam

Beberapa puluh juta tahun yang lalu, di depan sebuah angkringan dengan suasana lampu yang remang di depan alun-alun kota itu, Karanganyar. Kami mulai membicarakan tentang politik dan segala macam intriknya. Setelah dirasa membosankan, kami mulai bercengkrama tentang batik, tentang jadah, dan tentang kopi, semua tentang sudut yang tidak pernah perlu dibicarakan. Dimulai dengan Jadah Goreng […]

Continue reading

Dewi Dresanala dan Lahirnya Penakluk Para Dewa dari Kawah Candradimuka [Bagian II]

 Bunga teratai itu mekar dengan sempurna, di atasnya tertidur seorang wanita dengan rambut yang terurai, memejam dalam kelam gelap malam bulan purnama. Dialah Dresanala, yang pingsan karena ajian banaspati sang romo, Batara Brahma. Ajian itu mengenai punggu Dresanala, lebam dan membakar jiwa Dresanala hingga runtuh jatuh menuju bumi Kendalisada. Diselamatkan kera putih yang melihatnya jatuh […]

Continue reading

Dewi Dresanala, Cinta Sepanas Api Amarah Batara Brahma [Bagian I]

Mendung menggelayut manja di atas langit khayangan Daksinageni senja itu. Di bawah rindangnya pohon pinus dan beberapa akasia berdiri tegak memayungi sebuah rumah limasan. Dengan gebyok yang hanya terbuka separuh, terlihat lorong memanjang tanpa batas. Halaman depan penuh dengan bunga pinus berjatuhan dan aroma melati yang mekar semerbak mewangi. Khayangan tempat tinggal Batara Brahma sang […]

Continue reading

Gadis Manis Pelukis Batik, Jantungku Padam di Langit Jingga Kotamu [Bagian II End]

8 Agustus 1949 Darah mengalir di depanku, tetapi aku tidak merasakan sakit. Aku pegang pelipisku, tidak berdarah. Lalu aku melihat siluet seorang lelaki yang tidak terlalu tinggi, bertubuh gempal, sepertinya aku mengenalinya. Tetapi sedetik kemudian aku jatuh, pingsan, tubuhku tidak mampu menahan lelah dan pikiranku. Tapi Aku belum mau mati. Suara adzan memekik di telingaku, […]

Continue reading

Gadis Manis Pelukis Batik, Jantungku Padam di Langit Jingga Kotamu [Bagian I]

3 Agustus 1949 Hari itu Aku belum selesai menghitung jumlah bintang yang bertebaran, menambah jam bekerjaku. Kami cukup tahu bahwa Belanda masih ingin tidur di Indonesia, Agresi Militer II. Membosankan bertemu mereka lagi, karena aku bakal kalah tinggi sama mereka. Ditambah mereka terlihat gagah dan berkulit putih. Dibandingkan denganku, gosong terpapar sinar matahari, butuh waktu […]

Continue reading