Wejangan Raja Mangkunegara III Kepada Para Penerus Generasi Budaya Indonesia

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang berbudaya luhur, sudah semestinya kita akan memiliki sejarah yang panjang tentang bagaimana para sesepuh kita dahulu. Karena sebagai orang tua, sudah pasti mereka akan memberikan petuah dan pepatah yang nantinya berguna pada generasi mendatang. Salah satu yang terkenal adalah wejangan Raja Mangkunegara III.

Lahir pada tanggal 16 Januari 1803 dengan nama Bendara Raden Mas Sarengat, beliau adalah cucu dari Mangkunegara II. Karena sejak kecil sudah dididik menjadi pemimpin, maka tidak heran beliau mampu segera menjadi Letnan Kolonel di Legiun Mangkunegaran.

Beliau bertahta sejak 29 Januari 1835 sebagai raja di Mangkunegaran dan baru diberikan gelar K.G.P.A.A Mangkunegara III pada tanggal 16 Januari 1843, tepat pada hari kelahirannya di usia 40 tahun.

Pada masa pemerintahannya beliau memberikan wejangan-wejangan penting seperti yang tertulis dalam huruf jawa di bawah ini.

Arti dari tulisan aksara jawa diatas adalah:

Pituduh saka Pangeran  Mangkunegara III

  1. Pangeran nitahake sira iku lantaran biyungira, mula kudu ngurmati biyungira
    bahwa kita (manusia) itu diciptakan melalui seorang Ibu, oleh karena itu kita harus menghormati Ibu
  2. “Sakbegja-begjane kang lali, luwih begja kang eling klawan waspada”
    bahwa se untung-untungnya orang yang lupa, masih lebih untung orang yang selalu ingat dan waspada
  3. Sing sapa ora gelem gawe becik marang liyan, aja sira ngarep-arep yen bakal oleh pitulungan ing liyan”
    bahwa barangsiapa yang enggan berbuat baik, jangan berharap akan mendapat pertolongan dalam perkara yang lain
  4. Rumangsa melu handarbeni. Wajib melu hanggondheli. Mulat sarira hangrasa wani”
    merasa ikut memiliki, wajib ikut mempertahankan (bertanggung jawab), dan berani memawas diri
  5. “Enoma, bagusa, isih darah lan warasa kae yen kapinteran ora duwe, kucem raine, tanpa cahya, ora beda karo kembang randhu alas kang abang branang ora wangi ora barang”
    walaupun masih muda, hidup dan sehat kalau tidak memiliki kepandaian, wajahnya kusam, tidak bercahaya, tidak berbeda dengan bunga pohon randu di hutan yang merah tetapi tidak berguna dan tidak bermanfaat.

Pituduh atau bimbingan dari orang dulu penuh dengan kata-kata nasehat yang nyatanya  bagi anak sekarang dianggap kolot dan kuna tapi dibalik kekolotan itu semua pituduh orang dulu sebenarnya penuh dengan subasita (sopan santun),  dan  memiliki tingkat kesantunan yang tinggi untuk menjemput sebuah perubahan yang akan ada disetiap era ini.

Jangan pernah meninggalkan pituduh dari orang jaman dulu, tapi berusaha memahami, berusaha mempelajari dan berusaha untuk melakukan sehingga kita bisa menjaga karakter yang dimiliki oleh orang jawa dulu yang sarat dengan kesantunan dan kepedulian.

Wejangan Raja Mangkunegara III ini menjadi bekal kami untuk tetap menjaga kekayaan budaya bumi pertiwi Indonesia. Karena pada masa pemerintahannya dahulu, beliau ternyata juga begitu menjaga budaya pewayangan dan pedhalangan yang sampi saat ini juga masih kita nikmati.

Karena mungkin setiap wejangan tersebut salah satunya akan menjadi titian kita ketika berjalan menjalani kehidupan. Mungkin memang bukan sesuatu yang keren dan gaul, tetapi, tidak semua manusia di era ini harus menjadi manusia millenial sepenuhnya.

“Kalau aku klasik, tidak apa kan?”

 

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *