Edisi Ramadhan, Puasa Dalam Dunia Pewayangan, Mengapa Dan Untuk Apa?

Setelah masuknya pengaruh Islam di Nusantara, kebudayaan berkembang begitu dinamis, saling melengkapi dan saling mengisi cerita-cerita kehidupan dalam bingkisan seni dan budaya. Untuk akhirnya, memberikan kisah klasik yang sampai saat ini masih mampu kita nikmati setiap keindahannya. Masih dalam edisi Ramadhan, kita akan membahas puasa dalam dunia pewayangan. Monggo disekecakaken.

Dunia pewayangan, sebuah dunia di balik kelir dan lampu dengan para wayang menari oleh terampilnya seorang dalang membawakan suluknya. Diiringi para sinden yang merdu bernyanyi diiringi celotehan gamelan sesuai irama malam yang semakin temaram.

Banyak sekali kisah yang bisa kita dapatkan, banyak sekali petuah yang kita peroleh dari lakon-lakon cerminan kehidupan manusia pada zaman dahulu yang bahkan sampai saat ini masih begitu relevan dan bahkan lebih baik daripada tahun milenial seperti sekarang ini.

Dalam dunia pewayangan, untuk mendapatkan sesuatu yang karakter wayang inginkan (kesaktian, kekuatan, kesabaran) mereka akan menjalani tirakat, puasa, bersemedi, berpuasa untuk menguatkan jiwa raga mereka sehingga mampu lebih dekat kepada sang Pencipta. Karena semua keinginan kita, hanya Tuhan yang mampu mewujudkan.

Laku puasa bertujuan untuk menahan diri dari godaan nafsu duniawi, dan bahkan, puasa dalam cerita pewayangan bisa sampai puluhan bahkan ratusan hari, tergantung seberapa besar keinginan yang dicita-citakannya.

Contohnya, ketika Arjuna bertapa di Gunung Indrakila, untuk mendapatkan anugerah, dan mencari pengertian bagaimana hidup sebagai manusia. Mampu menaklukkan godaan yang datang kepadanya, mampu mengalahkan sifat dan sikap angkuh yang sudah menjadi sifat manusia. Sehingga pada akhirnya dia mendapatkan kedamaian dan ketentraman batin dan hidupnya.

Atau kisah Dewaruci, yang mengharuskan Bima untuk mencari “kayu gung susuhing angin” dan “banyu suci perwita sari”, demi mencari arti kehidupan yang sebenar-benarnya. Dan harus melalui berbagai macam ujian dan rintangan kehidupan yang pada akhirnya menjadikan Bima mampu menemukan apa yang ada pada dirinya, bahwa sebenarnya kita adalah manusia yang kecil di alam semesta nan luas ini.

Dua kisah tersebut membawa pengertian bahwa sedari dahulu kita sudah diajarkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, dengan menepi, meneyendiri, memahami hakikat sesungguhnya kehidupan manusia.

Sepeti itulah puasa, mungkin pada zaman dahulu kita sudah diajarkan dan sudah diberikan pelajaan unuk mengharapkan segala sesuatu hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan menjadi sebuah petuah hidup bagi siapa saja yang ingin mencari jati diri dan arti kehidupannya selama di dunia.

Seperti itulah wayang kulit mengajarkan kita bahwa melalui puasa, selangkah kita sudah lebih mampu menghilangkan sifat angkara murka sebagai manusia, dan mengakui bahwa kepada Tuhan saja kita meminta untuk kebaikan dan kesempurnaan hidup sesuai ajaran dan tuntunan Tuhan Yang maha Esa.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, bagi yang menjalankannya.

Salam Hangat Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *