Berburu Batik Langka Di Desa Batik Girilayu

“Semakin lama tahun pembuatan batik tulis, semakin indah pula citarasa warnanya”, kira-kira seperti itulah kata seorang pengrajin batik yang berpuluh tahun menggeluti dunia batik tulis tradisional. Dan memang benar adanya, semakin klasik batik, maka akan semakin terlihat keindahan baik motif maupun warnanya. Oleh karena itu, kami yang begitu dekat dengan kebudayaan batik tulis ingin berburu batik langka di Desa Batik Girilayu.

Batik dengan motif yang langka dan unik memiliki harga yang jauh lebih tinggi daripada batik-batik kontemporer, maupun batik” yang populer pada modern ini. Selain karena tahun pembuatan yang sudah terlampau lama, batik-batik klasik menggunakan bahan pewarna yang didapatkan dari alam.

Seperti juga di Desa Girilayu, batik sudah berkembang sejak lama di desa di lereng Gunung Lawu ini, turun temurun diwariskan kepada generasi ke generasi sehingga mampu mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai luhur batik beserta mahakarya batiknya.

Sebagian besar pengrajin batik pasti memiliki beberapa koleksi pribadi yang seringnya mereka pakai untuk berbagai acara resmi seperti pernikahan dan acara mitoni. Oleh karena itu kami menemui beberapa pengrajin dan mendapatkan beberapa batik koleksi yang menarik untuk kita lihat dan tahu, bagaimana keindahan batik-batik langka tersebut.

Sidomukti Sarimbit [1970]

Nama batik ini sepertinya sudah bukan menjadi hal baru lagi karena begitu dekat dengan kehidupan tradisional orang Jawa yang akan melangsungkan pernikahan. Sarimbit yang berari sepasang, menjadi filosofi penting bagaimana batik ini mampu mempersatukan kedua mempelai yang akan menempuh kehidupan bahtera rumah tangga.

Koleksi ini dimilki oleh Ibu Sudarno, yang menurut beliau, sudah melewati tiga pernikahan putrinya yang kesemuanya sudah mampu hidup berkecukupan dan bahagia dengan keluarganya. Yang membuktikan bahwa dari batik kita mampu lebih menjaga hubungan kita kepada Tuhan, kepada sesame manusia, dan juga kepada alam sekitarnya.

Meskipun dibuat pada kisaran tahun 1970, batik ini masih terlihat indah dan terlihat tetap memancarkan aura yang sejuk, yang mampu membawa baik pemakai maupun yang melihatnya mendapatkan kedamaian dan ketenangan.

Wahyu Tumurun [1975]

Batik motif Wahyu Tumurun ini sepertinya memang sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, bagaimana tidak, sudah lebih dari 40 tahun usianya, belum terlihat adanya warna yang hilang, ataupun luntur. Masih tetap indah terlihat dan masih tetap elegan untuk digunakan.

Motif Wahyu Tumurun sampai saat ini masih menjadi sebuah mahakarya yang bertahan dengan pakem kendahan yang tidak berubah beserta filosofinya. Karena banyak sekali peminat motif ini baik yang menggunakan pakem klasik maupun kontemporer.

Keindahan motif ini ada pada unsur-unsur batik yang lengkap seperti meru dan burung, dan dengan isen-isen yang bisa diberikan variasi yang indah sesuai dengan karakter para pembatik. Uniknya, filosofi yang dibawa motif ini akan tetap bertahan dengan keyakinan para pembatik, bahwa semua kembali dari Tuhan yang memberikan kita segala kebaikan.

Kakrasana [1980]

Masih menjadi misteri tentang nama motif batik tersebut, namun, sang pemilik batik menyebutnya Kakrasana. Nama yang diambil dari karakter Wayang Kulit, nama lain Raja di Negara Mandura, putra sulung Prabu Basudewa, kakak dari Prabu Kresna, yaitu Prabu Baladewa [Kakrasana].

Sosok yang berwatak tegas, galak, dan pemarah, namun memiliki sikap yang adil dan jujur. Keberanian beliau ditanamkan kuat kepada batik ini, meskipun tidak ada unsur wayang yang ada dalam motifnya. Motif batik ini hanya pengulangan geometris yang memiliki empat sudut, dan ada beberapa motif mirip dengan motif kawung yang menghiasinya.

Batik ini menjadi menarik, karena sogan yang digunakan semakin lama menjadi semakin memiliki warna oranye hangat, dan meskipun begitu, warna motifnya tidak berubah sama sekali. Jadi, kesan vintage yang dimilikinya terlihat semakin indah dan menarik.

Motif geometris yang melambangkan kekuatan yang tesimpan dibalik keadilan dan kejujuran, serta memerangi segala angkara murka untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan dalam hidup manusia. Batik ini adalah salah satu koleksi yang begitu langka dan mahal harganya, karena mungkin jarang sekali yang meneruskan keindahan motifnya.

Dan masih banyak lagi koleksi baik langka yang masih tersimpan rapi di tangan para pembatik yang tidak ingin kehilangan kebudayaan batiknya. Mereka mempertahankan budaya batik ini agar pada nantinya, akan nada generasi yang meneruskan keindahan dan keunikan motif-motif batik klasik, agar tidak menghilang ditelan derasnya perjalanan zaman.

Semoga, dengan kami beserta para pembatik yang berusaha untuk melestarikan budaya batik ini menjadi inspirasi dan menjadi sebuah langkah awal, kami bangga menjadi Indonesia.

Terima Kasih

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *