Sebuah Kisah Mahakarya Klasik untuk Masa Depan

Nusantara Indonesia, negeri seribu budaya, negeri dimana kami dilahirkan dengan kebanggaan yang begitu besar. Di tanah ini kami mampu menanam bahkan hampir apapun tumbuhan,menai dengan berbagai tarian, menyanyi dengan berbagai lagu dan nada merdu syair pulau kelapa. Mendengarkan lakon wayang yang terkadang mengajarkan kita arti kehidupan, memakai baik tulis, menikmati keindahan alam Indonesia, dalam sebuah kisah klasik untuk masa depan.

Masa kecil kami begitu lekat dengan sawah dan sungai, dengan hutan, dengan segala macam kebahagiaan yang kami nikmati menunggu senja. Tidak ada hiruk pikuk dering telepon genggam, atau kendaraan yang lalu lalang. Terkadang hanya burung kutilang begitu berisik bekicau menantang kami mengembara ke padang yang luas.

Tawa kami lepas seluas hamparan langit mengendarai senja yang jingga.

Beranjak remaja, kami lalu lalang dengan duri, padi dan rotan kehidupan, mengejar matahari pagi. Menjadi tangguh dengan gendongan kerbau dan bajak sawah yang membuat kami menghitam sesekali. Riak jernih suara sungai menjadi taman bermain kami dengan deras deburan airnya. Sesekali memanjat pohon kelapa kemudin menatap luas jingga senja Indonesia.

Teriakan kami menggema menghempas dinginnya udara sore hari.

Usia kami muda, kami jatuh cinta, pada gadis berambut hitam legam dengan kemben, seperti bidadari, saat itu. Tanpa polesan bedak, apalagi lipstik. Yang ada hanyalah kuning langsat kulitnya memantulkan cahaya kesederhanaan matahari pagi dengan seluruh anugerahnya, cantik. Mungkin saat itu kami tiada perlu patah hati, hanya pandangan yang memastikan bahwa, aku cinta kau, dan kau cinta aku, cukup adil.

Menjadi dewasa adalah sebuah kepastian, sawah dan ladang mulai meradang menghitamkan kulit kami yang sudah hitam. Sembari sesekali menyeka keringat yang menghapus sarapan pagi kami, tadi. Cangkul tinggi diangkat menghujam bumi, menerjang batuan padas yang keras. Untuk menumbuhkan rribuan pai yang sudah meninggi, atau nyiur yang membujur ke langit, senja, lagi.

Ahh, begitu berat menjadi dewasa, sampai semua terlihat lemah dan lelah.

Semakin renta tidak ada yang bisa dilakukan, hanya duduk melihat perempuan yang meniup canting berulang kali. Perempuan yang dalam kerut keriputnya masih bahagia tersenyum ketika mata kami beradu pandang. Melihatnya sembari mengawasi bocah-bocah kecil berlarian dengan layang-layang mereka. Mereka seperti masa kecil kami, mungkin kami lebih sedikit nakal.

Kisah yang membosankan sepertinya, namun, seperti itulah kehidupan kami di bumi Indonesia, tempat dimana kesederhanaan adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli. Tempat dimana kami menjalani berbagai budaya dan tradisi. Tempat kami menyanyi lagu-lagu warisan leluhur kami. tempat kami melihat gadis berbatik dengan keanggunannya.

Bahagia kami sebesar kebanggaan kami, dimana bumi yang kami pijak adalah bumi yang harus kita junjung tinggi. Tempat yang penuh keindahan dan kedamaian, seperti itulah, sesederhana itulah kisah kami. kisah yang akan terus menerus menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.

Dari bumi kami, Indonesia.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *