Mengungkap Rahasia Keajaiban Warna Alam Pada Batik Tulis Klasik Tradisional

Dalam dunia seni, sebuah mahakarya tidak akan lepas dari komposisi warna yang menjadi nyawa tersendiri untuk menunjukkan karakter dan makna dari seni tersebut. Tidak jauh berbeda ketika kita berbicara seni batik. Untuk itu, hari ini kita akan mengungkap rahasia keajaiban warna alam pada batik tulis klasik tradisional, dalam perannya sebagai sebuah seni klasik yang turun-temurun diwariskan kepada Nusantara Indonesia.

Beberapa kali telah sedikit dibahas tentang teknik pewarnaan alam yang memiliki karakteristik yang khas dan bisa dibilang ajaib. Bagaimana tidak, penggunaan bahan-bahan yang bisa didapat dari alam mampu membuat sebuah batik tulis menjadi lebih hidup dan lebih memiliki aura tersendiri yang akan menyelimuti sang pemakai batik.

Proses pewarnaan alam membutuhkan puluhan bahkan ratusan kali proses untuk hasil yang sempurna. Oleh karena itu, biasanya batik tulis tradisional membutuhkan waktu 3-8 bulan pembuatan. Terlebih motif-motif yang membutuhkan proses “nyolet” dan “nembok”.

Setiap proses pewarnaan juga membutuhkan ketelitian dan kejelian dalam melihat warna, untuk itu para pengrajin warna batik biasanya telah puluhan tahun bergelut dengan warna-warna yang unik, khas, dan menunjukkan karakter natural warna tersebut.

Komposisi warna juga tidak hanya satu, ada 3 sampai 4 campuran warna yang diperlukan agar mendapatkan sebuah warna. Sehingga warna-warna pada batik klasik terlihat lebih sejuk dan enak dipandang. Karena mata kita langsung merespon terhadap warna-warna yang menunjukkan kesederhanaan dalam keindahan.

Gelap terang pewarnaan juga menjadi pertimbangan agar mampu serasi berdamping dengan mottif yang dibuat. Maka dari itu, sulit untuk mempelajari warna-warna batik klasik yang dibuat, karena setiap pengrajin warna juga memiliki gaya dan karakter, serta komposisi yang berbeda-beda.

Namun satu persamaan yang dimiliki adalah warna nila pada latar (kecuali bledak), yang menjadi ciri khas pewarnaan alami. Warna tersebut akan muncul pada batik yang menggunakan latar warna hitam. Meskipun terlihat hitam, namun pada aslinya adalah warna biru pekat yang digunakan. Warna tersebut biasanya didapat dari daun indigo.

 

Apabila kita jeli, akan ada kilauan warna biru sebagai tanda bahwa batik tersebut menggunakan bahan alam sebagai pewarna. Dan semakin lama disimpan, maka warna tersebut takan semakin indah untuk dilihat dan memunculkan pesonanya. Dan tentu saja tidak akan luntur dimakan usia dengan perawatan yang baik dan benar.

Jadi, tidak salah kalau batik tulis klasik tradisional bisa mencapai haga puluhan juta rupiah, mengingat prosesnya yang lama, dengan detail yang begitu diperhatikan dan ditambah lagi filosofi yang dimunculkan untuk menjadikan sebuah mahakarya batik ini benar-benar menjadi kebanggaan baik untuk sang pemakai agar lebih terlihat elegan dan memancarkan sifat dari batik tersebut.

Terima Kasih

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Batik Indonesia : Warna Alam pada Batik Tulis Klasik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *