Motif Batik Baladewa Gurdo, Sebagai Sebuah Simbol Karakter Manusia yang Kuat

Sebagian besar motif batik memiliki ciri dan nilai moral yang tersimpan dalam setiap motifnya. Dan untuk mendapatkan nilai filosofis itu, para pembatik berusaha untuk menanamkannya dalam motifnya. Tidak mudah memang, karena membutuhkan pengalaman dan kesabaran yang tinggi untuk menemukan karakter yang sesuai dengan yang diinginkan. Seperti motif baik Baladewa Gurdo ini, yang menanamkan sebuah simbol karakter manusia yang kuat di dalam lukisan motifnya.

Para pembatik di Desa Girilayu biasanya sudah hafal, sudah mengerti apa filosofi yang akan ditanamkan kepada batiknya. ada yang melambangkan keindahan, cinta kasih, kemewahan, kedamaian, kekuatan, sampai kepada ketuhanan yang menjadi ciri khas para pembatik. Oleh karena itu, para pembatik selalu memberikan sentuhan motif yang masing-masing bisa melambangkan filosofi yang ditanamkan.

ETIMOLOGI

Sebagai salah satunya adalah motif Baladewa Grudo ini, dari etimologi namanya, Baladewa sendiri adalah salah satu karakter pewayangan yang diproyeksikan sebagai seseorang yang kuat dan galak, dan tidak akan pandang bulu dengan musuh-musuhnya. Ditambah lagi dengan karakternya yang keras sehingga bahkan mendengar suaranya saja para raksasa akan gigrig dan ketakutan.

Sedangkan etimologi gurdo adalah nama lain dari burung garuda yang melambangkan tingginya derajat dan kekuatan seseorang. Yang menjadi salah satu ciri klasik yang banyak ditanamkan dalam sebuah motif batik.

MOTIF

Di dalam motif batik ini sendiri terdapat berbagai macam motif yang melambangkan kekuatan besar, seperti motif meru, cakar, dan gurdo. Penggambaran burung garuda disni mirip seperti jatayu yang juga menjadi salah satu karakter protagonis pewayangan ketika menyelamatkan Shinta dari Rahwana.

Motif yang disimbolkan sebagai motif cakar yang juga melambangkan kekuatan untuk menguasai sebuah pekerjaan ataupun menguasai diri pribadi sebagai manusia. Ditutup dengan selingan berbagai motif dedaunan yang menguatkan nuansa alam dan seni kendahan motif batik tulis klasik semakin menguatkan filosofi yang ditanamkannya.

PEWARNAAN

Proses pewarnaan yang menggunakan bahan alam menjadi alasan keindahan batik ini, dengan 37 kali pencelupan pewarna indigo tahap pertama, yang kemudian ditutup dengan warna sogan alam khas kota Solo sebagai penutupnya menjadikan batik ini sebagai salah satu mahakarya batik yang langka.

Meskipun tidak banyak variasi warna hanya untuk menguatkan karakternya yang klasik dalam pewarnaan alami batik tulis. Warna sogan, putih dan biru indigo atau nila masih memberikan sentuhan keindahan dalam batik tulis ini.

FILOSOFI

Seperti yang sudah kita bicarakan, batik ini memiliki filosofi kekuatan besar yang mampu memberikan pemakainya menjadi lebih terlihat tangguh, gagah dan memilikipendirian yang teguh. Selain dari sebuah lambang visualisasi kebesaran batik ini dalam khasanah budaya batik tulis Indonesia.

 Sebuah kekuatan yang elegan ketika menaklukkan musuh tanpa harus banyak bicara, seperti elang yang menyambar jauh dari ketinggian dengan cakarnya. Dan menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki kekuatan untuk perubahan, untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia Bisa, indonesia mampu untuk menjadi negara yang kuat dengan tetap menjunjung tinggi perdamaian.

Terima Kasih

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *