Nebus Kembar Mayang, Bukti Kemesraan Pernikahan Adat Tradisional Budaya Jawa

Bahas pernikahan lagi deh terpaksa, mau gimana, soalnya jomblo kalau disuruh bahas pernikahan bawaannya emosi coba. Anyway, kali ini kita mau membahas sebuah prosesi dalam pernikahan Jawa nih, Nebus Kembar Mayang. Nah, sukurin baru tahu kan kalian, itu adalah salah satu prosesi sakal dalam pernikahan adat Jawa yang sudah hampir punah. Kita bahas saja yaa langsung bagaimana bukti kemesraan pernikahan adat tradisional budaya Jawa tersebut.

Nebus Kembar Mayang adalah satu diantara urut-urutan prosesi pernikahan adat Jawa yang begitu panjang nan melelahkan dari pernikahan adat Jawa tradisional. Apalagi bagi kalian yang belum menemukan jodohnya sampai sekarang, kejam.

Kembar mayang adalah sepasang hiasan dekoratif simbolik setinggi setengah sampai satu badan manusia yang dilibatkan dalam upacara perkawinan adat Jawa, khususnya sejak sub-upacara midodareni sampai panggih. Kembar mayang biasanya dibawa oleh pria dan mendampingi sepasang cengkir gading yang dibawa oleh sepasang gadis.

Kembar mayang tersusun dari bunga, buah, serta anyaman janur yang disusun sedemikian rupa sehingga tampak indah. Kembar mayang dalam penampilan mirip dengan tatanan sesaji buah yang biasa dipersembahkan dalam upacara ritual Bali tetapi biasanya agak lebih besar.

Secara lengkap, kembar mayang merupakan hiasan yang dirangkai pada batang semu pisang (bahasa Jawa gedebog). Batang semu pisang ini ditegakkan pada tempolong atau paidon kuningan. Hiasan janur yang disertakan paling tidak memiliki empat ragam anyam, yaitu keris, belalang, payung, dan burung.

 Selain itu disertakan empat macam daun: daun kemuning, nering, alang-alang, dan croton. Bunga yang disertakan adalah melati, kantil, dan pudak, serta bunga merak. Buah yang biasanya digunakan adalah nanas yang diletakkan di posisi paling atas, kadang-kadang ditambah apel dan jeruk. Sindur (selendang pinggang berwarna merah-putih) juga dibebatkan pada kembar mayang.

Ragam anyam janur yang berjumlah empat memiliki simbol tersendiri. Ragam keris berarti melindungi dari bahaya dan pesan agar berhati-hati dalam kehidupan. Ragam belalang memberi pesan agar tidak ada halangan di kemudian hari. Ragam payung berarti pengayoman atau perlindungan. Yang terakhir, ragam burung melambangkan kerukunan dan kebahagiaan seperti burung.

Sebagai perangkat simbolik, kembar mayang ada sepasang, yang masing-masing dinamakan Dewandaru dan Kalpandaru. Kembar mayang difahami sebagai pinjaman dari “dewa”, sehingga setelah upacara selesai harus dikembalikan dengan membuang di perempatan jalan atau dilabuh (dihanyutkan) di sungai atau laut.

Prosesi Nebus Kembar Mayang

Diawali dari tantingan, yaitu Orang tua Calon Pengantin Wanita menanyakan kepada putri nya mengenai kemantapan nya untuk melangsungkan pernikahan pada esok hari nya.

CPW memantapkan diri dengan meminta syarat  kepada orangtua nya untuk mencarikan kembar mayang. Orang tua menyanggupi dan mengutus Ki Saroyo Jati yaitu orang yang bertugas mencarikan kembar mayang tsb.

Ki Saroyo Jati menyanggupi dan membawa bekal Sada’ Lawe (sirih yang di linting benang putih) Tilam Lambus / Kloso Bongko yang di anyam dengan Suket Kolojono untuk menebus kembar mayang.

Disaat pencarian, Ki Saroyo Jati bertemu dengan Ki Warsito Jati yaitu petugas yang menunggu kembar mayang dan mengartikan makna dari kembar mayang tersebut mulai dari akar , batang,dahan, daun, bunga,dan buah.

Setelah di tebus dengan syarat diatas, Ki Saroyo Jati memboyong kembar mayang di Bantu oleh petugas, putra dan putri yang masih lajang berjumlah 5 orang , yaitu 2 orang lelaki muda lajang  untuk membawa kembar mayang, 2 perempuan muda lajang membawa manuk manukan, dan 1 orang perempuan membawa Catur Wedha serta di iringi lagu Ilir Ilir.

Pada waktu upacara Panggih esok hari, kembar mayang di bawa keluar dan di buang ke perempatan jalan di dekat rumah atau di dekat tempat berlangsung upacara. Hal ini di maksudkan agar semua makhluk jahat tidak mengganggu jalan nya upacara.

Sedang kan sepasang kembar mayang yang baru yaitu yang di berikan oleh  Pengantin Pria di taruh di sisi kiri dan kana pelaminan sebagai hiasan. Perlu di ketahui bahwa penggunaan kembar mayang hanya untuk pasangan pengantin yang sebelumnya belum pernah menikah.

Nah, panjang kan prosesi pernikahan adat Jawa tradisional itu, jadi bukan hanya ijab resepsi bulan madu saja. Masih banyak prosesi yang mengandung filosofi untuk kebaikan dan filosofi doa kepada Yang Maha Kuasa untuk sedikit banyak bersyukur dan berharap aga pernikahan tersebu membawa kebaikan bagi semua orang.

Jadi, berbudaya bukan berarti meninggalkan asas ketuhanan, namun lebih kepada menjadikannya selaras dengan aturan dan dengan batasan yang mampu saling melengkapi dan menyempurnakan kehidupan kita sebagai manusia yang berketuhanan juga bermasyarakat.

Terima Kasih

Slam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *