Mengunjungi Rumah Peninggalan Juragan Batik Terbesar di Girilayu Sejak Abad ke-20

Sebagai generasi ke-3 seorang pengusaha batik tulis, sudah pastinya kami mencoba untuk bagaimana selalu mengingat pesan dari leluhur kami agar tetap sadar budaya, dan mau untuk melestarikannya. Dan begitulah simbah kami dahulu, Suro Pawiro mengajarkan filosofi kebudayaan Indonesia terutama di pedalaman Jawa. Jadi sekali waktu kami mengunjungi rumah peninggalan juragan batik terbesar di Girilayu tersebut.

Rumah tersebut terbengkalai karena memang sudah tidak ditinggali. Hanya tembok rapuh dan gebyok usang yang diam seribu bahasa ketika kami datang.  Rumah yang berada di Sebendo, Desa Girilayu ini seperti menyimpan ribuan sejarah yang kami hanya mampu melihat sedikit kenangannya.

Rumah Simbah Suro Pawiro

 Semua anak dari simbah Suro Pawiro sudah sukses dengan kehidupan masing-masing. Dari 7 anaknya, hanya dua yang juga tinggal di Desa Girilayu, dan juga bisa terbilang sukses dengan kehidupannya.

Dahulu seingat kami rumah tersebut begitu besar sampai kami bisa bersepeda di dalam aula rumah beliau, namun aula tersebut sudah dibongkar dan tinggal bagian utama rumah tersebut. Dan mungkin dahulu rumah tersebut sudah termasuk mewah untuk masyarakat sekitar.

Dan menurut cerita yang kami dapatkan, dahulu simbah Suro Pawiro ini selain menjadi juragan batik,juga menjadi pemilik 1 set gamelan dan juga 1 set karakter wayang yang berada di rumahnya. Dan bisa kami bayangkan betapa beliau begitu cinta kebudayaanIndonesia.

Kembali kepada batik, dari batik tulis, beliau mampu menjadi seorang pengusaha batik dengan memasarkan batik-batik tulis berkualitas ke kota Solo, dan menjadi salah satu pemasok batik baik itu ngengreng maupun batik jadi.

Selain itu, beliau juga membawa pola batik yang nantinya akan dibatik oleh para pembatik di Desa Girilayu ini. Dan dari berbagai informasi, batik tulis dari dulu sudah mahal untuk dijual, selain dari batik tulis Girilayu sudah terkenal karena kehalusan batiknya, dan tangan-tangan terampil para pengrajin batik di Desa Girilayu.

Banyak para pengusaha batik di Solo yang mempercayakan pola-pola batik untuk di batik di Sebendo, Girilayu, tempat simbah Suro Pawiro tinggal. Dan dari situlah nama besar beliau mulai dikenal sebagai pengusaha batik yang pandai dalam mengatur pemasaran batik tulis.

Banyak sekali para pembatik tradisional yang dahulu mempercayakan hasil batiknya untuk dijual, atau untuk ditukar dengan beras atau kebutuhan hidup sehari-hari. Dan semakin hari semakin banyak yang membatik dan semakin maju pula pemasaran batik simbah Suro Pawiro.

Popularitas batik dari Desa Girilayu semakin terkenal dengan ketrampilan dan kepiawaian masyarakat dalam membatik tradisional, didukung dengan pandainya simbah Suro Pawiro memasarkan batik tulis produk masyarakat Desa Girilayu ke Surakarta.

Dan bahkan sampai saat ini, para pengusaha batik di Solo masih banyak yang mempercayakan pola batiknya untuk dibatik di Desa Girilayu. Dan dengan harga yang begitu tinggi, mengingat kualitas batiknya yang begitu rumit dan begitu detail.

Rumah ini menjadi saksi bisu yang ingin bercerita bagaimana hiruk pikuk desa ini dahulu, bagaimana ramainya pasar, bagaimana ramainya pagi dengan cuitan burung kepodang menandakan akan datangnya tamu.

Bagimana nyala tumper dan asap para pembatik menuliskan sejarah tentang Desa Batik Girilayu, bagaimana nasi dan tempe busuk yang dibakar menjadi makanan nikmat sembari melihat cucunya bercanda dengan teman sebaya.

Kisah, yang tidak bisa kita lihat, yang tidak bisa kita ulang, tetapi bisa kita bayangkan, betapa dahulu, rumah ini mampu membesarkan nama Desa Girilayu dengan batiknya, bagaimana dahulu rumah ini mengajarkan kita untuk ikut melestarikan budayaIndonesia.

Jadi,

Simbah, terima kasih banyak, kami ambil alih dari sini, kami lanjutkan perjuanganmu dengan tangan kami sendiri. Untuk melestaikan batik, dan melestarikan budaya nasional Indonesia.

Doa kami untukmu.

Terima Kasih.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *