Batik Klasik Pekalongan, Keindahan Batik Pesisiran yang Di Ambang Kepunahan

Berbicara tentang batik, tidak akan lengkap jika belum menyebut Pekalongan sebagai kota dengan kejayaan batik. Dengan berbagai macam ragam hias khas pesisiran yang mendapatkan berbagai pengaruh kebudayaan asing, batik klasik pekalongan memiliki sejuta pesona keindahan. Namun, keindahan batik pesisiran ini berada di ambang kepunahan.

Pekalongan, sebagai kota pelabuhan menjadi bandar batik sejak zaman Belanda, mengundang masuknya pesanan dari negeri-negeri seberang. Kepandaian mencanting menjadi salah satu hal mengapa batik Pekalongan berkembang begitu pesat, begitu cepat. Kepandaian terseebut telah turun temurun diwarisakan kepada generasi selanjutnya.

Meskipun batik bagai sudah merasuk dengan kota Pekalongan ini sehingga, kita bisa dengan mudah menemukan batik-batik yang indah, namun ragam batik klasik justru mulai menghilang, dan berganti dengan motif-motif kontemporer, atau mungkin batik cap, ditambah lagi batik printing.

Ragam hias batik klasik Pekalongan yang begitu terkenal ada 3, Batik Tulis Encim, Hokokai, dan Jawa Hokokai. Tiga rancangan batik warisan leluhur yang hingga kini hanya diteuskan oleh segelintir penggiat batik keturunan Tionghoa ini.

Ketiga ragam batik ini begitu langka dan begitu terkenal, begitu rumit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar (kurang lebih 7 bulan hingga setahun). Dan mungkin karena alasan itu banyak ditinggalkan, karena prosesnya yang lama.

Meskipun begitu, ragam batik Encim dan Hokokai masih dilestarikan oleh beberapa orang termasuk di pusat batik Liem Ping Wie di daerah Kedungwuni, dan pusat batik Oey Soe Tjoen. Yang sudah merupakan keturunan keempat pengelola batik tersebut.

Ibu Priscilla, pemiliki batik Liem Ping Wie berkata,

“Setiap pagi saya bertemu Tuhan untuk memohon inspirasi. Kadang-kadang saya berpikir, kenapa tidak menyerah saja?

Banyak yang mungkin berpikir lebih mudah begitu. Bagi saya justru sulit untuk menyerah. Warisan keluarga saya yang terbesar nilainya adalah pengetahuan seni batik yang turun-temurun ini, yang sudah identik dengan nama keluarga.

Memang berat tanggungan biaysa untuk menyambung usaha ini dari hari ke hari. Tetapi lebih berat lagi bagi kami untuk melepaskan suatu bentuk keindahan yang selama puluhan tahun telah dibangun bersama dengan penuh rasa cinta.

Tidak, saya tiak menyerah, ini cinta yang tidak berhitung.”

Karakter batik dengan motif yang rumit dan dengan pewarnaan yang membutuhkan proses begitu lama. Ditambah lagi motif-motif ini biasanya melukiskan motif-motif yang unik dan cenderung tidak semudah batik-batik pedalaman dengan pola geometris. Seperti motif Jawa Hokokai yang pagi sore, atau motif lainnya yang semuanya lukisan batiknya dibuat dengan canting tangan.

Motif-motif Pekalongan memiliki karakter pesisiran dengan warna yang cerah dan berani, ditambah lagi pengaruh dari kebudayaan asing seperti Tionghoa dan Jepang menjadi sebuah keragaman yang mampu bersatu dalam indahnya batik tulis Pekalongan.

Meskipun tiap lembar batik klasik ini mahal, tetapi biaya produksi juga tidak semurah yang kita bayangkan. Dan menurut ibu Priscilla, seringnya hanya impas saja. Namun, dari situ kami juga belajar bahwa, untuk melestaikan kebudayaan batik klasik, begitulah resiko yang harus dibayar.

Bukan hanya ibu Priscilla, bahkan kami sendiri juga bisa merasakannya ketika berusaha mempertahankan motif klasik. Bahkan dengan berkembangnya batik cap dan printing, membuat batik tulis klasik semakin sulit mendapatkan tempat.

Namun semua itu kembali kepada apa yang kita usahakan, yang kita percayakan bahwa batik tulis klasik, adalah warisan kebudayaan, dan sebagai generasi selanjutnya, sudah pasti menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pelestari keragaman kebudayaan batik klasik di Indonesia.

Untuk itu, kami juga tidak akan menyerah.

Terima Kasih

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Referensi :

Batikku Pengabdian Cinta Tak Berkata

Ibu Ani Bambang Yudhoyono

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Budaya Batik Lasem dan Simbol Kekuatan Warna dari Salah Satu Batik Tiga Negeri - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *