5 Kota Batik Pedalaman yang Terkenal Selain Surakarta dan Yogyakarta

Beberapa orang mungkin hanya tahu kota batik adalah Surakarta dan Yogyakarta. Tetapi tahukah kalian ada 3 kota yang juga mewarisi budaya batik pedalaman yang sampai sekarang masih bisa kita temukan hasil budaya batik dari ketiga kota ini. Dan 5 kota batik pedalaman yang terkenal selain Surakarta dan Yogyakarta ini juga menyimpan karya batik yang menarik loh.

Batik pedalaman erat hubungannya dengan kebudayaan keraton dan Kerajaan Mataram zaman dahulu kala, yang membawa budaya batik ini menjadi salah satu warisan budaya kebanggaan Indonesia saat ini. Selain itu, budaya batik ini juga erat hubungannya dengan budaya wayang kulit yang dua-duanya menjadi soko guru budaya nasional Indonesia dan sudah diakui dunia.

Dan inilah 5 kota selain Yogyakarta dan Surakarta yang juga mewarisi budaya batik.

Banyumas

Batik Tulis dan Batik Cap Banyumas semakin sulit ditemui dan terancam punah. Pada tahun 1980 ada sekitar 60 pengusaha batik yang saat ini hanya tinggal satu yang masih bertahan. Motif-motif terkenal batik Banyumas diantaranya motif khas seperti Motif Kopi Jahe, Babaran Kuning, Jonas, dan Monteron.

Ragam hias batik Banyumasan juga hampir mirip dengan Surakarta maupun Yogyakarta, yang membedakan adalah pada proses pewarnaannya. Pada batik Banyumas dikenal proses “ketrem” yaitu pencelupan pertama menggunakan sogan, bau kemudia memakai warna hitam. Sementara di Yogyakarta dan Surakarta menggunakan nama “klowong” dengan pencelupan warna hitam dahulu baru menggunakan warna sogan.

Bagelen – Purworejo

Bagelen memberikan pengaruh yang besar pada Kerajaan Mataram Hindu maupun Mataram Islam. Leluhur Bageelen adalah keturunan Raja Syailendra yang meninggalkan berbagai warisan arkeologi yang khas seperti lingga dan yoni.

Motif yang paling terkenal adalah motif klasik Semen Romo Ngarak yang biasanya digunakan adipati pada pelantikan yang biasanya didatangkan dari daerah Bagelen ini. Motif ini diperkirakan sudah ada sejak berkuasanya wangsa Syailendra pada abad ke-8.

Komunitas para pembatik tradisional Purworejo, bertebaran di Kutoarjo, Kemanukan, desa Dudu Kulon, dan desa Dudu Wetan. Motif klasik masih menjadi hasil budaya batik Purworejo meskipun saat ini juga sudah mulai mengembangkan motif-motif kontemporer.

Bayat – Klaten

Daerah yang terletak diantara pertemuan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta ini secara turun-temurun mewarisi dan melakoni tradisi batik yang sangat dekat dan sangat menyatu dengan kedua keraton di atas. Sehingga mirip seperti Kerajaan Mataram yang masih utuh.

Bagi masyarakat bayat, membatik adalah sebuah pengabdian, oleh karena itu banyak para pembatik rumahan yang bisa kita temukan di Bayat, Klaten ini. terlebih karena tradisi yang masih melekat kuat di dalam masyarakat bayat dalam membatik, menghasilkan batik-batik karya klasik yang memiliki gabungan dua kebudayaan Keraton.

Para pengrajin setempat dapat dengan mudah menjual hasil ngengreng batik mereka kepada para pengusaha batik untuk diproses selanjutnya, hasil-hasil batik bayat juga terkenal halus dan rapi. Bahkan, di Bayat ada sekolah kejuruan untuk seni tekstil dan keramik.

Karanganyar

Sudah tidak diragukan lagi, lokasinya yang dekat dengan Kota Surakarta dan sekaligus mewarisi kebudayaan Mataram melalui Keraton Mangkunegaran menjadi salah satu alasan perkembangan batik di bumi Intanpari tersebut.

Namun hanya satu desa di Karanganyar yang masih melestarikan batik yaitu di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih. Karena kebudayaan yang dibawa Paja Mangkunegaran ini sampai saat ini dipertahankan dan terus menerus dilestarikan oleh para masyarakat Desa Girilayu.

Tidak hanya kepada faktor seni budaya, tetapi menghormati para leluhur Raja Mangkunegara I Pangeran Sambernyawa yang dimakamkan di Astana Mengadeg.

Batik Girilayu memiliki kombinasi pengaruh Surakarta dan Mangkunegaran dengan sogan cerahnya. Dengan berbagai macam kreasi batik motif kontemporer yang banyak dikembangkan, sampai saat ini batik tulis Girilayu masih terkenal masih melestarikan tradisi batik tulis tradisional yang dibatik menggunakan canting.

Sragen

Salah satu kota yang juga terkenal dengan batiknya akhir-akhir ini dengan banyaknya pengrajin batik kontemporer yang juga mendapat pengaruh dari Surakarta sebagai pusat dinasti batik bersama dengan Yogyakarta.

Batik sragen mendapatkan perhatian khusus karena perkembangannya yang pesat dengan kualitas yang tidak kalah dengan daerah lain penghasil batik.

Selain kelima kota dan daerah tersebut masih banyak kota-kota yang juga masih memperjuangkan batik tulis dan masih berusaha keras melestarikan budaya batik. Dan mungkin nantinya akan muncul kota-kota baru yang juga ikut melestarikan batik dengan budaya khas kota mereka.

Sebuah harapan yang begitu besar dimana batik tulis akan tetap lestari sampai nantinya menjadi sebuah saksi sejarah bagaimana budaya batik ini terus berkembang dan menjadi dinasti batik yang luas di bawah satu bendera Indonesia, bendera merah putih.

Untuk itu, jangan lelah untuk mendukung batik agar tetap mampu berjuang dan mempertahankan budaya batik beserta seluruh filosofinya.

Terima Kasih

Salam Rahayu, Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *