Batik Tulis Tradisional Motif Parang, Terlihat Mudah Tetapi Sulit

Membatik, sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi agar nantinya sesuai dengan apa yang pembatik inginkan. Beberapa pembatk tradisional di Desa Girilayu sudah bisa dibilang sebagai maestro, motif-motif batik itu begitu sulit untuk dibuat. Begitu juga dengan motif yang cenderung mudah apabila kita lihat, batik tulis tradisional motif parang meskipun terlihat sederhana namun nyatanya begitu sulit untuk dikerjakan.

Motif parang merupakan motif geometris yang sejajar, namun dibuat melereng dengan kemiringan kuang lebih 45 derajat. Meskipun sekali lagi terlihat mudah, tetapi kemiringan itu bisa menjadi kesulitan tersendiri bagi para pembatik tulis.

Berbeda dengan batik cap atau batik pinting yang secara garis besar sudah memiliki alur dan motif yang sama persis. Batik tulis tradisional harus beerkaca kepada tangan kreatif para pembatik untuk membuat motif parang menjadi sempurna, baik kemiringan maupun motif geometrisnya.

Kesulitan sebenarnya dimulai dari pembuatan pola dimana haus ada garis bantuan agar batas-batas geometris tersebut terlihat sama dan sejajar dengan kemiringannya. Kesulitan selanjutnya adalah motif-motif yang harus bersifat geometris dengan garis tersebut.

Kemiringan motif parang ini menjadi ciri khas selain motif Udan Liris, bedanya, motif Udan Liris motif geometrisnya juga mengikuti garis lereng kemiringan.

Sedangkan motif Parang kebanyakan merupakan pola geometris tegak lurus dengan garis kemiringan motif. Inilah yang terkadang menjadi kesulitan tersendiri karena pola geometris ini menuntut kesamaan motif, jadi sedikit saja kemiringan berubah, maka batik tersebut kurang bagus untuk dilihat.

Dengan keindahan inilah batik parang memiliki banyak peminat, karena memang memuliki aura yang kuat dan filosofi yang mampu menunjukkan bagaimana keberanian seseorang. Telebih motif geometris yang unik memaksa psikologis seseorang untuk terpukau dan kagum akan keindahan salah satu seni budaya Indonesia ini.

Hingga akhirnya motif parang ini memiliki berbagai motif turunan yang juga begitu terkenal seperti motif Parang Barong, Parang Klithik, Prang Cantel, Parang Curigo, Prang Modrang, dan lain sebagainya. Dengan pakem yang kurang lebih sama dalam pembuatan motif geometrisnya.

Dan karena mungkin kesulitan dalam hal motif maupun pembuatannya para pembatik lebih memilih kepada motif-motif batik kontemporer yang lebih mudah dibuat. Seperti motif bunga, daun, alas-alasan yang tidak membutuh kan pakem tertentu dalam pembuatannya.

Meskipun begitu, tetap ada para pembatik yang masih berjuang mempertahankan salah satu motif paling tua di Indonesia ini, terutama di daeah Sukoharjo maupun daerah lain yang masih menggunakan tehnik tradisional dalam pembuatannya.

Mungkin dengan adanya batik cap atau batik printing semakin mempersulit pengrajin batik tulis tradisional, tetapi sekali lagi, para pembatik tradisional masih memiliki keyakinan dan dengan pakem semangat dan kesabaran mereka untuk menghasilkan batik-batik tulis berkualitas sebagai kebanggaan mereka sendiri karena telah ikut berjuang melestarikan budaya batik Indonesia.

Terima Kasih

Salam Rahayu, Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *