Punokawan dalam Wayang Kulit, Perwujudan Karakter Kesederhanaan Orang Jawa Pedalaman

Sejenak kita beristirahat dari batik, hai ini kita beralih ke wayang kulit. Yang juga memiliki visi dan misi yang sama dengan budaya batik tulis sebagai soko guru kebudayaan Indonesia sejak dahulu kala. Dan kali ini kita akan membahas wayang kulit Punokawan, sebagai perwujudan karakter-karakter dan sifat positif masyarakat Jawa di pedalaman.

Dalam dunia pewayangan, tidak akan lengkap rasanya sebuah lakon wayang apabila tidak ada “goro-goro”, yang dahulu ketika melihat petunjukan wayang kulit harus rela menunggu sampai tengah malam untuk melihat apa itu “goro-goro”. tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

Sebenarnya bukan bagian itu yang menjadi menarik, tetapi lebih karena karakter yang muncul ketika waktu “goro-goro” itu dilakonkan oleh sang dalang. Yap, benar sekali, mereka adalah Punokawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, sudah pasti tidak asing bagi kita sebagai masyarakat Indonesia.

Punokawan sendiri adalah sebutan bagi abdi dari Pandawa Lima (terutama sang Panengah, yaitu Arjuna), untuk mendampingi dan memberikan arahan tentang baik buruknya tindakan yang dilakukan oleh Pandawa.

Langsung saja kita mulai yaa, agak panjang sedikit nih nantinya.

Semar

Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa.

Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai simbol ke-Esaan.

Gareng

Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala *Gareng* adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.

Petruk

Digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.

Bagong

Adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarikan teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong.

 Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

Nah, dari para punokawan ini sendiri kita sudah bisa menggambarkan bagaimana karakter sifat dari masyarakat Jawa pedalaman, bukan alam artian fisik, tetapi lebih kepada watak dan tingkah laku.

Para Punokawan ini adalah simbol kesederhanaan, dimana mereka terbiasa dengan “narimo ing pandum”, tidak mengejar harta atau bahkan pangkat keduniawian. Bagi mereka itu hanyalah sebuah fatamorgana yang setiap saat bisa menghilang diambil oleh Yang Maha Esa.

Dahulu, sebagai orang jawa, kita akan selalu dikenal dengan unggah-ungguh, berbahasa “kromo inggil” kepada yang lebih tua, dan bersikap bijaksana ketika menghadapi yang lebih muda. Karakter tersebut menjadi sebuah visualisasi dari karakter Punokawan yang begitu sederhana menjalani kehidupan mereka.

Sifat dan sikap tersebut masih dapat kita temukan meskipun hanya tinggal segelintir saja karena kalah dengan peradaban mobile legend dan smartphone. Dan mungkin nantinya, hanya akan menjai cerita saja bahwa orang Jawa adalah orang yang bersahaja dan sederhana.

Meskipun sifat dan sikap orang Jawa yang penuh tata krama tersebut masih ada, masih berusaha berbagi kebaikan dan kebahagiaan kepada para Arjuna, kepada para Pandawa yang berada di dunia nyata.

Yang ingin, menunjukkan bahwa “wong Jowo ojo ngasi ilang Jawane” (orang Jawa, jangan sampai hilang sifat Jawanya). Yaitu sifat yang sederhana dan mampu hidup lebih baik untuk berbagi kebaikan dan kebahagiaan di dunia.

Sekejap saja sebagai renungan akan kehidupan dan diri kita sendiri sebagai pewaris kebudayaan ini.

Sudahkah kita berbagi kebaikan dan kebahagiaan hari ini?

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article, Wayang Kulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *