Gambaran Masyarakat Jawa dengan Batik Tulis dalam Buku History of Java

Akhirnya bertemu lagi dengan Sejarah Nasional Indonesia setelah puluhan tahun pensiun, dan kembali dengan buku History of Jawa, yang saking tebelnya kalau dipakai buat nampol kepala pasti auto pingsan. Tapi karena ada hubungannya dengan batik pada masa lampau, kembali lagi kita buka dan kita bahas mengenai bagaimana gambaran masyarakat Jawa dengan Batik tulis.

Kita buka dulu The History of jawa karya om Raffless.

Sir Thomas Stamford Bingley Raffles (lahir di Jamaica, 6 Juli 1781 – meninggal di London, Inggris, 5 Juli 1826 pada umur 44 tahun) adalah seorang Gubernur-Letnan Hindia Belanda yang terbesar. Ia adalah seorang warganegara Inggris. Ia dikatakan juga pendiri kota dan negara kota Singapura. Ia salah seorang Inggris yang paling dikenal sebagai yang menciptakan kerajaan terbesar di dunia.

Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur Jawa pada tahun 1811, ketika Kerajaan Inggris mengambil alih jajahan-jajahan Kerajaan Belanda dan ia tidak lama kemudian dipromosikan sebagai Gubernur Sumatera, ketika Kerajaan Belanda diduduki oleh Napoleon Bonaparte dari Perancis.

Sewaktu Raffles menjabat sebagai penguasa Hindia Belanda, ia telah mengusahakan banyak hal, yang mana antara lain adalah sebagai berikut: dia mengintroduksi otonomi terbatas, menghentikan perdagangan budak, mereformasi sistem pertanahan pemerintah kolonial Belanda, menyelidiki flora dan fauna Indonesia, meneliti peninggalan-peninggalan kuno seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan, Sastra Jawa serta banyak hal lainnya.

Tidak hanya itu, demi meneliti dokumen-dokumen sejarah Melayu yang mengilhami pencarian Raffles akan Candi Borobudur, ia pun kemudian belajar sendiri Bahasa Melayu. Hasil penelitiannya di pulau Jawa dituliskannya pada sebuah buku berjudul: History of Java, yang menceritakan mengenai sejarah pulau Jawa. Dalam melakukan penelitiannya, Raffles dibantu oleh dua orang asistennya yaitu: James Crawfurd dan Kolonel Colin Mackenzie.

Panjang ya, beralih ke batik.

dari foto-foto di atas kita bisa langsung melihat bahwa di pulau Jawa saat itu, batik sudah menjadi fashion trend yang dipakai oleh hampir semua kalangan masyarakat meskipun dengan motif dan cara pemakaian yang berbeda-beda.

Dan yang menarik adalah, para laki-laki yang kebanyakan digambarkan memakai batik, hampir dari di setiap lapisan masyarakat batik adalah pakaian sehari-hari.

Selain itu, Raffles mewakili pemerintah Inggris justru berpendapat, “masyarakat Jawa adalah penduduk yang dermawan dan ramah jika tidak ditindas. Dalam hubungan domestik mereka baik, lembut, kasih sayang dan penuh perhatian. Dalam hubungan masyarakat umum mereka orang yang patuh, jujur dan beriman”

Menurut Raffles, untuk memberikan gambaran yang paling menonjol dari, karakter masyarakat Jawa, sangatlah penting untuk membedakan antara kelas masyarakat yang diuntungkan dan masyarakat kebanyakan (kelas bawah).

Penindasan yang panjang terhadap kelas bawah mungkin akan menghilangkan sifat-sifat ceria mereka. Tapi bagi masyarakat kelas atas, karena dominasi mutlak yang mereka lakukan, berakibat lebih buruk lagi. Mereka mengabaikan pengendalian yang bermanfaat untuk memuaskan nafsu, mendorong bertambahnya tingkat keburukan.

Pada kalangan petani, Raffles mengamati bahwa semuanya tampak sederhana, natural dan jujur. Tetapi kalangan yang lebih tinggi, kadang akan ditemui kekerasan, kepura-puraan dan hasrat yang tamak.

“Mereka biasanya bangun saat fajar, kemudian berangkat ke ladang padi pada pukul setengah tujuh. Disana mereka mempekerjakan kerbaunya sampai pukul sepuluh siang, kemudian pulang kerumah untuk mandi, dan mengembalikan kesegaran mereka dengan makan. Selama siang yang panas mereka beristirahat di bawah bayang-bayang rumah mereka atau pohon sambil membuat keranjang, merawat peralatan pertanian mereka atau sibuk mengerjakan hal-hal yang lebih penting. Sekitar pukul empat mereka kembali bekerja di sawah untuk mengolah tanah tanpa bantuan kerbau atau hewan ternak lainnya. Pada pukul enam mereka pulang kerumah, makan malam dan menghabiskan sisa waktu mereka hingga menjelang tidur (biasanya sekitar pukul delapan atau sembilan) dengan sedikit hiburan atau bincang-bincang, sementara seluruh desa terlihat tenang, damai dan menyenangkan.”

Entah benar atau tidak gambaran Raffless ini mengenai orang Jawa, karena pada masa itu juga masih sarat dengan hal-hal yang berbau politik penjajahan. Namun sedikit dari gambaran beliau membuktikan bahwa dahulu penduduk pulau Jawa sudah memiliki peradaban yang maju dan sebuah budaya memakai batik dalam keseharian.

Setidaknya, paling tidak kita bisa melihat sedikit bagaimana leluhur kita dahulu memiliki sebuah peradaban yang bahkan oang asing begitu iri dengan peradaban kita di Nusantara. Terlepas dari berbagai perjuangan dan penjajahan kolonial.

Sedikit gambaran yang bahkan belum jelas mengenai kisah batik pada masa itu, tetapi kami akan berusaha lebih keras untuk menemukan bukti-bukti nyata peradaban batik tulis yang sudah sejak dulu ada ddi Nusantara Indonesia.

Terima Kasih Sudah Berkunjung

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

 

Referensi : Purubaya

 Wikipedia

 

Posted in Gallery and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *