Motif – Motif Batik Larangan pada Masa Kerajaan Mataram yang Sudah Hampir Punah

Lingkungan keraton memiliki sebuah keistimewaan dimana batik tulis tradisional begitu mereka hargai dan mereka banggakan sebagai identitas. Batik tulis adalah sebuah aura kekuatan tersendiri yang turun temurun memiliki filosofi dalam setiap motifnya. Seperti juga motif-motif batik larangan pada masa kerajaan mataram yang sudah hampir punah.

Kepunahan motif-motif itu menjadi sebuah kehilangan karena begitu sulitnya kita untuk mengembalikan citarasa klasik pada batik tradisional yang sudah mulai berpindah ke motif-motif kontemporer. Motif klasik yang memiliki kerumitan tinggi semakin banyak ditinggalkan.

Dan beberapa motif ini adalah contoh motif-motif larangan pada masa Kerajaan Mataram yang sudah mulai punah karena tidak ada penerusnya. Dan nantinya akan coba kami bangkitkan kembali dari mati surinya.

Motif Parang Slobog

Salah satu motif parang yang begitu unik, melambangkan keteguhan, ketelitian, dan kesabaran. Di dalam motif ini menyimpan sebuah makna dan harapan agar pemimpin yang dilantik itu diilhami petunjuk dan kebijaksanaan dalam mengemban amanah.

Motif ini merupakan salah satu motif larangan, terlebih batik ini dikhususkan dan digunakan untuk menghadiri upacara pemakaman (melayat). Dan memberikan sebuah filosofi dan mengandung doa agar derajat yang kita layat nanti diangkat ke tempat yang lebih terhormat.

Motif slobog sendiri berarti longgar, dan jangan dipakai menghadiri acara pernikahan karena bisa dianggap mengharapkan agar cepat menuju kematian.

Motif Cemukiran

Motif ini berbentuk lotus, yang melambangkan kekuasaan, motif berbentuk sejajar lurus dan disusun secara diagonal yang melambangkan kesubuan. Salah satu motif larangan untuk dipakai oleh orang biasa pada zaman dahulu.

Sekarang motif ini mungkin beralih untuk dipakai sebagai iket kepala atau udheng atau juga di gunakan dalam blangkon. Corak ini berbentuk garis tepi dengan bidang polos yang dimaksud modang. Gambar yang menghiasi corak batik ini adalah lidah api yang mengandung kesaktian untuk meredam angkara.

Dan pelajaran sesungguhnya adalah sebuah pesan bahwa sebelum mengalahkan musuh kita harus mengalahkan hawa nafsu dan angkara murka yang ada di dalam diri kita sendiri.

Motif Sembagen Huk

Motif sembagen huk ini adalah salah satu motif yang hampir atau bahkan sudah punah. Motif ini berbentuk mirip burung phoenix yang melambangkan kelincahan, kemegahan, dan keperkasaan. Dan motif ini hanya digunakan oleh para penguasa, putera mahkota dan permaisuri atau istri raja.

Motif ini merupakan motif larangan, sebelum pemerintahan Sultan HB IX(1940-88) hanya boleh dipakai putra mahkota.

Dan simbol, bahwa sebagai pemimpin harus bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya. Diibaratkan seperti burung hantu yang tajam penglihatannya, meskipun malam menyelimuti, seorang pemimpin tetap waspada mengayomi rakyatnya. Dan Huk sendiri berati burung hantu dalam bahasa Jawa.

Motif Madubranta

Motif ini juga sudah langka sekali untuk ditemukan, motif madubranta berasal dari bahasa Jawa yaitu madu dan branta. Madu artinya manis sedangkan branta artinya cinta. Motif ini melambangkan rasa cinta dan kasih sayang.

Motif Batik Ciptoning

Seni ini berupa ornamen hias berupa sisik atau gringsing, wayang, parang, dan gurdo sebagai simbol kebijaksanaan. Pemakainya kebanyakan adalah pada zaman kerajaan, biasanya para pemerintah dengan harapan agar bijaksanan dalam mengatur negara.

Batik ini dari daerah Yogyakarta, di daerah lain motif ini memiliki ornamen hiar motif ceplok yang diulang sampai berhubungan.

Motif ini menceritakan Arjuna yang mesu diri, manembah, dan manekung sehingga berhasil mengalahkan segala godaan dan hawa nafsu jahat dan menjadi Begawan Ciptoning Mintaraga. Dengan harapan pemakainya mampu meneladani sikap Arjuna ini.

Motif langka ini tersusun dari beberapa motif yaitu motif wayang, motif parang, motif gurdo, motif burung, isen-isen yang kesemuanya dipadukan menjadi satu kesatuan motif yang cantik dan menarik.

Meskipun beberapa motif ini belum bisa dikatakan punah, namun langka dan jarangnya para pengrajin bat tulis untuk mengembangkan motif ini menadi alasan motif-motif batik ini harus dilestarikan. Dan terlebih motif-motif batik ini adalah pada zaman dahulu hanya orang-orang tertentu yang boleh memakainya.

Namun disampng itu, kekayaan motif batik ini harus tetap kita lestarikan di masa depan, sebagai cerita dan desabai pengingat bahwa setiap motif batik mengajarkan kebaikan dan mengajarkan bagaimana kita menghargai adat dan budaya Nusantara yang sejak dahulu sudah berkembang.

Semoga batik-batik ini nantinya akan ada yang meneruskan dan akan ada yang mewarisi seluruh kearifan lokal yang ada dalam setiap motifnya.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnapramita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *