Hari Wayang Dunia 2018, Antasena dan Wisanggeni, Karakter Wayang paling Gentho dan Sangar

Hei..hei kalian semua pecinta budaya Nusantara Indonesia yang berbahagia, yang masih setia disini bersama kami untuk ikut melestarikan budaya Indonesia. Dan hei, tahukah kalian ternyata kemarin itu Hari Wayang Dunia  yang diperingati setiap 7 November. Dan admin punya karakter wayang favorit nih, Antasena dan Wisanggeni, karakter wayang paling gentho dan sangar.

 Pada hari wayang dunia 7 November 2018 kemarin banyak sekali pagelaran wayang yang digelar di Indonesia, dan semuanya seru. Dan berbagai dalang-dalang hebat membawakan cerita dan karakter wayang yang mampu menceritakan lakon-lakon hebat yang kesemuanya adalah khasanah budaya bangsa Indonesia.

Dan sebagai salah satu penggemar wayang juga nih, admin memiliki dua karakter yang menjadi favorit. Antasena dan Wisangeni, karakter keren yang menjadi premannya dunia pewayangan. Mengapa begitu?

Antasena sebagai anak bungsu Werkudara yang juga anggota Pandawa dari istri bernama Dewi Urangayu putri Batara Baruna. Bima menikah dengan Urangayu dalam cerita Kali Serayu Binangun, yaitu saat Pandawa dan Kurawa berlomba untuk membuat sungai tembus ke samudra. Bima meninggalkan Urangayu dalam keadaan mengandung ketika ia harus kembali ke negeri Amarta.

Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi.

Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata.

Sedangkan Wisanggeni adalah putera dari panengah Pandawa yaitu Arjuna yang lahir dari seorang bidadari bernama Batari Dresanala, putri Batara Brama. Wisanggeni merupakan tokoh istimewa dalam pewayangan Jawa. Ia dikenal pemberani, tegas dalam bersikap, serta memiliki kesaktian luar biasa.

Kisah kelahiran Wisanggeni diawali dengan kecemburuan Dewasrani, putra Batari Durga terhadap Arjuna yang telah menikahi Batari Dresanala. Dewasrani merengek kepada ibunya supaya memisahkan perkawinan mereka. Durga pun menghadap kepada suaminya, yaitu Batara Guru, raja para dewa.

Atas desakan Durga, Batara Guru pun memerintahkan agar Batara Brama menceraikan Arjuna dan Dresanala. Keputusan ini ditentang oleh Batara Narada selaku penasihat Batara Guru. Ia pun mengundurkan diri dan memilih membela Arjuna.

Brama yang telah kembali ke kahyangannya segera menyuruh Arjuna pulang ke alam dunia dengan alasan Dresanala hendak dijadikan Batara Guru sebagai penari di kahyangan utama. Arjuna pun menurut tanpa curiga. Setelah Arjuna pergi, Brama pun menghajar Dresanala untuk mengeluarkan janin yang dikandungnya secara paksa.

Dresanala pun melahirkan sebelum waktunya. Durga dan Dewasrani datang menjemputnya, sementara Brama membuang cucunya sendiri yang baru lahir itu ke dalam kawah Candradimuka, di Gunung Jamurdipa.

Narada diam-diam mengawasi semua kejadian tersebut. Ia pun membantu bayi Dresanala tersebut keluar dari kawah. Secara ajaib, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Narada memberinya nama Wisanggeni, yang bermakna “racun api”. Hal ini dikarenakan ia lahir akibat kemarahan Brama, sang dewa penguasa api. Selain itu, api kawah Candradimuka bukannya membunuh justru menghidupkan Wisanggeni.

Atas petunjuk Narada, Wisanggeni pun membuat kekacauan di kahyangan. Tidak ada seorang pun yang mampu menangkap dan menaklukkannya, karena ia berada dalam perlindungan Sanghyang Wenang, leluhur Batara Guru. Batara Guru dan Batara Brama akhirnya bertobat dan mengaku salah. Narada akhirnya bersedia kembali bertugas di kahyangan.

Wisanggeni kemudian datang ke Kerajaan Amarta meminta kepada Arjuna supaya diakui sebagai anak. Semula Arjuna menolak karena tidak percaya begitu saja. Terjadi perang tanding di mana Wisanggeni dapat mengalahkan Arjuna dan para Pandawa lainnya.

Setelah Wisanggeni menceritakan kejadian yang sebenarnya, Arjuna pun berangkat menuju Kerajaan Tunggulmalaya, tempat tinggal Dewasrani. Melalui pertempuran seru, ia berhasil merebut Dresanala kembali.

Nah kedua preman pewayangan ini begitu kompak karena mereka berdua sering digambarkan kemana-mana berdua karena merasa senasib dan sama-sama kuat. Tidak jarang karena kesaktian mereka yang tidak tertandingi dalam pertempuran mereka bertingkah lucu dan membuat penonton menjadi terhibur.

Meskipun tidak terkenal seperti Gatotkaca, namun tingkah polah kedua putra Pandawa ini begitu kuat menggambarkan bagaimana serunya lakon-lakon wayang apabila ada mereka. Selain itu melalui petuah yang secara tidak langsung disampaikan oleh para dalang bahwa bagaimanapun kejahatan tidak akan menang melawan kebajikan. Teori klasik yang sudah sejak dari dulu ada.

Mereka berdua tidak pandang bulu siapapun akan dilawan ketika kejahatan terjadi di depan mata mereka, dan bahkan para dewa pewayangan saja takut dengan kesaktian mereka berdua.

Dan kalau kalian penasaran dengan polah mereka berdua, coba streaming lakon “Rabine Wisanggeni” yang dilakonkan oleh Ki Seno Nugroho, serius, lucu, keren, lengkap pokoknya. Pokoknya harus lihat deh kalian, dan nantinya kalian akan langsung jatuh hati dengan kedua gentho pewayangan ini. Dijamin.

Nah itu dia karakter yang paling admin suka, soalnya bakal seru kalau ada Antasena dan Wisanggeni. Dan benar sekali kalau budaya Indonesia terutama Wayang Kulit memiliki citarasa yang tinggi. Dan kami sendiri kadang merinding bahagia melihat bagaimana kebudayaan Indonesia ini mampu membanggakan di dunia Internasional.

Nantikan artikel kami selanjutnya yaa, mungkin suatu saat kita bahas lagi tentang dua preman pewayangan ini.

Jadi kapan kalian juga ikut mendukung budaya Nusantara Indonesia?

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *