Mimpi dan Harapan Sederhana Para Maestro Batik Desa Girilayu, Karanganyar

Heii…selamat siang, hai yang cerah sepertinya hari ini, masih dengan admin yang berjuang dengan batik disini. Terima kasih untuk kalian semua yang masih bertahan memberikan dukungan untuk kemajuan batik tulis tradisional. Dan sebagai artikel siang hari ini kita akan membahas apa saja mimpi dan harapan para maestro batik Desa Girilayu, desa yang berjuang dengan peradaban batik yang hampir punah.

Desa Girilayu, Kabupaten Karanganyar, mungkin bagi sebagian kalian pernah mendengar atau bahkan tahu tentang batik tradisional dari Desa Wisata Batik ini. Namun kalian tentunya belum tahu kalau tenyata para maestro batik tulis juga hidup dan tinggal di sini.

Ketika membicarakan batik, para pembatik adalah para pejuang yang benar-benar mencurahkan waktu dan kesabaran serta ketekunan untuk menghasilkan karya batik yang indah. Dan dalam setiap waktu mereka bercerita dengan batik, mereka juga memiliki mimpi dan harapan.

Para pembatik sebagian besar aalah perempuan-perempuan yang sudah lanjut usia, yang sudah renta dengan segala keriput di tangan mereka. Merekalah para maestro yang menolak menyerah untuk jatuh cinta dengan batik, meskipun dengan resiko mereka hidup apa adanya dan dengan begitu sederhana.

Di waktu luang terkadang kami mendengarkan cerita mereka tentang bagimana batik di masa yang lalu, dan sesekali terselip bebrapa harapan, beberapa mimpi yang bahkan mereka belum mampu untuk mewujudkannya. Bahkan terkadang mimpi itu sangat sederhana, sesederhana kehidupan mereka.

“menawi boten batik, mangke nedhi nopo?”

[ kalau tidak membatik, nanti makan apa ? ]

Pertanyaan yang membuat ngilu ketika mereka bertahan kaena mereka membutuhkan materi dari hasil membatiknya untuk meneruskan kehidupan mereka. Disamping keinginan mereka untuk sekedar makan ala sayur lodeh dan tempe goreng, bukan pizza atau spaghetti yang bahkan mereka tidak tahu bagaimana mengucapkannya.

“mugi-mugi enggal payu, saged kagem nyangoni putune”

[ semoga batiknya segera laku, bisa untuk memberikan uang saku kepada cucu ]

Bagi sebagian simbah-simbah sesepuh, materi atau uang itu hanya untuk mencukupi kehidupan mereka, sisanya nanti akan diberikan kepada anak cucu yang masih bersekolah atau yang masih kecil. Dan mereka akan tersenyum bahagia apabila bisa memberikan sesuatu untuk cucu mereka. Meskipun mereka hidup juga belum bisa dikatkan dalam takaran cukup.

“kersane wonten ingkang nerusne damel batik, kersane boten kesupen mbatik”

[ biar ada yang meneruskan membuat batik, agar tidak lupa caranya membatik ]

Memang batik tidak menentukan masa depan para pembatik, tetapi, dengan tidak melupakan batik, mereka akan mampu memahami bagaimana hidup sederhana, memahami bagaimana cukup dan tidak berlebih.

“menawi saged nggih minggah kaji, menawi boten nggih batik’e mawon ingkang sampai mrika”

[ kalau bisa ya naik haji, kalau tidak ya batiknya saja tidak apa-apa ]

Sebuah mimpi yang mewakili bahwa mereka sadar, kehidupan ini hanya untuk beribadah kepada Gusti Allah, dan mereka menggantungkan hidup kepada takdir yang diberikan dalam kehidupan mereka tanpa perlu banyak mengeluh. Setidaknya mereka lebih pandai bersyukur daripada admin yang pusing dikit saja langsung semaput.

“batik’e damel ngiring menawi kulo mangke sedo…”

[ batiknya untuk mengiringi nanti ketika saya nanti meninggal dunia ]

Hidup memang benar hanya sementara, dan sebagian bearnya hanya fatamorgana, jadi untuk mereka, ketika nanti sudah tiada, paling tidak akan ada batik yang menemani mereka, dan akan ada cerita tentang mereka bahwa mereka adalah salah satu maestro batik yang berjuang sampai akhir hayat untuk memperjuangkan batik tulis.

Harapan dan mimpi mereka sederhana, tidak ada yang ingin naik mobil pajero, atau memiliki smartphone dengan ram 16gb, atau mungkin jalan-jalan ke mall dan selfie dengan kamera 20mp. Mereka hidup dengan apa yang ada dan tidak perlu berlebihan.

Dan yang paling penting, mereka tidak pernah meminta bantuan materi atas segala yang menurut mereka masih cukup, masih bisa menjalani kehidupan esok hari sampai usia menjadi batas mereka. karena mereka masih memiliki batik untuk mereka perjuangkan.

Dan kami menjadi mengerti bagaimana berbagi adalah salah satu nilai kehidupan yang indah, merekalah yang membuat hati kami tergerak untuk melakukan sesuatu. Meskipun juga tidak ada hal yang besar selain menghargai hasil karya batik mereka, menghargai kesabaran dan kesederhanaan mereka untuk nantinya menjadi sesuatu yang bisa mewujudkan mimpi dan harapan mereka.

Jadi..

Terima Kasih, Sudah Berkunjung, Membaca, dan Melestarikan Khasanah Batik Tulis Tradisional

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnapramita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *