Bandung Bondowoso, Romantisme yang Kandas Terkubur Seribu Candi Roro Jonggrang

Jatuh cinta ternyata bukan hanya menjadi kisah kejam di kehidupan manusia pada abad smartphone ini. Karena bahkan sejak dahulu, tidak pernah ada pembenaran mengenai nikmatnya jatuh cinta selain menjadikan manusia menjadi setengah gila dan auto suram ketika cintanya tak terbalas. Bahkan ketika sebuah kisah romantis yang kandas terkubur seribu candi Roro Jonggrang.

Seribu candi yang bernama Prambanan, adalah saksi bisu kejamnya perjuangan atas nama cinta. Berapa ribu kubik batuan yang disusun menjulang ke langit yang luas serasa berteriak lantang bagaimana sebuah cinta yang dipaksakan, diperjuangkan atau hanya sebagai mainan.

Kisah klasik roro jonggrang, gadis langsing yang sesuai namanya, dan mungkin pada zaman itu beberapa lelaki mengaguminya ketikan posting foto selfie dirinya sedang memakai kemben jawa dengan rambutnya yang terurai.

Dan mungkin salah satu stalker yang jatuh cinta kepada dunia maya itu adalah Bondowoso, lelaki kuat dengan prewangan berbagai makhluk tak kasat mata, kecuali suster ngesot dan pocong tentunya. Sulit bagi mereka membawa batu andesit untuk membuat candi nantinya.

Jonggrang tidak terbiasa memakai make up, memakai blush on, maskara dan sejenisnya. Karena lekuk pipinya saja sudah membuat viewers instagram miliknya dibanjiri like. Belum lagi gigi taring kirinya yang gingsul ketika tertawa lepas.

Ahh..penghinaan kepada Tuhan kalau kau tidak menyebutnya dengan kata “cantik”.

Tidak hanya sekarang, dahulu pun sudah begitu. Mendapatkan perempuan cantik bukan hanya dengan kata “aku tresno kowe”. Butuh lebih dari sebuah kata cinta untuk mendapatkan perhatiannya, dan itu pasti fisik, materi, atau mobil ferrari.

Cleopatra, Shah Jahan, Dyah Pitaloka, Anjarwati, seperti sebuah trending topic ketika berurusan dengan romantisme. Dan semuanya hampir memiliki ending yang tragis, atau mungkin tidak, dan mungkin belum tentu.

Dan Jonggrang juga merasa hal itu adalah sebuah suatu keharusan mengingat dia adalah penganut “cinta tak bisa dipaksakan”. Belum lagi Bondowoso juga telah membunuh lelaki yang padahal kalau tidak dibunuh mungkin bisa menjadi wali ijab untuk Jonggrang.

Namun kita akan lebih membicarakan tentang perasaan Bondowoso, dimana dia harus jatuh cinta pada waktu dan tempat yang salah lalu memaksa lurus takdir yang berbelok.

Takdir itu yang memberikan kekuatan Jonggrang untuk membelenggu Bondowoso dengan perasaannya sendiri. Kekuatan setara dengan Boa Hancock yang sekali kedip, lelaki akan menjadi batu, tidak mungkin tidak bagi seorang lelaki jatuh cinta. Dan tidak mungkin tidak bagi lelaki untuk melakukan apa yang diminta oleh gadis langsing seperti Jonggrang.

Dikubur di sumur Jalatunda yang dalam bukan menjadi alasan menyerah, dan bukan pula alasan menyerah untuk Jonggrang mengakhiri kisah Bondowoso. Dan memang sudah ditakdirkan pembuatan seribu candi semalam yang semata-mata untuk Jonggrang, mirip seperti Rahwana dengan Sinta, namun Sinta tidak terlalu matre mungkin.

Mirip seperti “kamu harus berada disini, saat ini dan detik ini”, kalimat mematikan yang memaksa kita merombak sistem otak kita untuk berpikir logika. Dan dilanjutkan dengan kata “terserah”, lebih seperti memanjat naik menara Dragon Ball rasanya.

Namun cinta begitu berkuasa, seribu candi yang meninggi ke langit dibuat, dalam semalam, kontraktor dari berbagai belahan dunia jin dan makhluk astral menerima proyek itu, meskipun mungkin sedikit repot untuk pasukan pocongisme.

Dan cinta masih sekejam biasanya, Jonggrang memaksa ayam untuk berkokok, dan ayam yang sedari tidur ikut menjadi korban kisah cinta itu, siapa ayam itu sampai sekarang kita tidak tahu.

Satu-satunya alasan adalah Jonggrang tidak mau kisah cinta itu, dan bagaimana secepatnya mengakhiri kisah itu, tanpa perlu blokir whatsapp atau membuat private akun instagramnya.

Bondowoso tahu benar dari awal bahwa kisah itu hanya akan menjadi dongeng di kemudian hari, kisah dimana “cinta tak harus memiliki”. Dimana perjuangannya disiakan, rasanya begitu kejam menolak keadaan itu, menolak bahwa dia sudah membayar mahal proyek candi itu.

Membunuh Jonggrang sama sulitnya dengan membunuh perasaannya, karena semuanya menjadi lebih sulit dihadapi, semuanya berada di luar kendalinya. 999 candi yang megah itu kemudian disempurnakan dengan 1 candi yang berwajah manis nan ayu Lara Jonggrang.

Perempuan yang tidak mau cintanya menjadi nyata, dan baginya menjadi arca lebih baik daripada harus jatuh cinta. Dan dia berhasil, berhasil membunuh setiap inchi nadi Bondowoso, membunuh perasaan Bondowoso yang harus termenung memangku takdirnya sendiri, mencintai paras dari seribu candi untuk perempuan impiannya, Lara Jonggrang.

Baginya, sebenarnya Jonggrang sudah membunuhnya dari awal, namun dia tetap meyakini kenyataan bahwa cinta itu “witing tresno jalaran soko kulino” dan sekarang dia harus menanggung resiko untuk terpaku pada arca yang dikutuknya, yang dicintainya, dan yang menjadi belahan jiwanya.

Sedangkan Jonggrang, lebih memilih menutup kisahnya agar tidak ada yang bisa memilikinya, memiliki cintanya, memiliki senyum gingsulnya, dan memiliki derai rambutnya. Karena dia tahu cinta tidak sebahagia itu.

Siapa yang salah?

Jonggrang, Bondowoso, atau pocong yang tidak mau membantu, atau menyalahkan takdir yang berbelok arah?

Tidak ada yang salah, tidak dengan Bondowoso yang jatuh cinta atau Jonggrang yang menolaknya. Dan begitulah kehidupan, kejam, kelam dan melelahkan.

Tidak perlu mengeluh, tidak perlu sedu sedan itu, hiduplah dengan caramu menikmati kehidupan ini. Biarkan juga  Bondowoso dan Jonggrang yang menjalani cinta mereka.

-prajnapramita-

Posted in Story and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *