Pecahhhh, Meriahnya Para Ibu Berlomba Memeriahkan HUT RI ke-73 Memakai Jarik Batik

Helloo, ahh, kan, baru ketemu lagi, soalnya dari kemarin masih sibuk dengan liputan para ibu berlomba memeriahkan HUT RI ke-73 nih. Yes, benar sekali, sudah banyak event lomba yang diadakan di berbagai sudut kota maupun desa menyambut Indonesia yang mau “tanggap warso” yang ke 73.

Dan kali ini kita mau share dulu yang ada hubungannya sama batik nih. Kalau zaman dahulu sebelum ada emak-emak membawa motor trus sein ke kanan belok ke kiri, para ibu-ibu atau sekarang sudah jadi mbah mungkin, memiliki kebiasaaan menggendong keranjang mereka di punggung, kalau di desa batik sini namanya “tenggok”.

Dan guess what, Minggu 12 Agustus kemarin, di salah satu dusun di Desa Girilayu, yaitu Dusun Wetankali. Para pemuda menggandeng ide untuk mengembalikan zaman now kembali ke zaman old dengan mengadakan lomba memakai jarik batik, menggendong “tenggok” plus membawa “tampah” di atas kepalanya.

Tampah itu sejenis nampan berbentuk bulat yang biasa digunakan untuk “napeni” atau istilahnya nampan untuk memilah antara beras dan sisa kulit “gabah” yang sudah melewati mesin “selep”. Nah loh, pusing kan banyak kosakata bahasa Jawa yang belom dimengerti.

Para pemuda yang tergabung dalam organisasi Karang Taruna Mulya Taruna tersebut, menggunakan kesempatan ini untuk kembali mengingatkan kepada kita semua bahwa kita memiliki kebudayaan yang khas dan unik. Yang sekarang hampir mustahil kita temukan di zaman sekarang ini.

Menurut ketua panitia lomba, nantinya mungkin akan lebih diekspose lagi mengenai kenangan zaman dahulu dan apa saja hal unik yang bisa kembali dipromosikan sebagai salah satu budaya asli masyarakat Indonesia. Mungkin juga bisa menjadi salah satu tujuan wisata budaya yang menarik untuk kedepannya.

Kembali kepada para ibu-ibu rempong, mereka ditugaskan memakai jarik dahulu kemudian menggendong “tenggok” tadi, lalu membawa “tampah” di kepala, diiringi musik. Lenggak-lenggok seperti peragawati memecahkan suasanya Dusun Wetankali malam itu, bukan peragaan busana, tetapi peragaan ibu-ibu yang membawa suasana menyambut HUT RI ke-73 ini menjadi sangat meriah.

“kelingan biyen mas, mulih soko pasar gendong tenggok mlaku, isine jangan, bumbu, karo jajanan pasar (ingat dahulu mas, pulang dari pasar menggendong tenggok, isinya sayur, bumbu, dan jajanan pasar) ujar salah seorang ibu yang mengikuti lomba.

Dari lomba ini kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa masa lalu bukan sebuah hal yang kuno, terlebih sebuah cerita tentang budaya dan filosofi kehidupan yang ada di dalamnya.

Dahulu pada zaman perjuangan tenggok juga sebagai alat perjuangan untuk mengelabuhi para penjajah yang mengira isinya adalah bawang bawan dari pasar, padahal isinya granat, dan senjata untuk para pejuang kemerdekaan republik Indonesia.

Dan batik, sebagai saksi bahwa pada zaman dahulu, batik adalah pakaian keseharian para pejuang dari dapur yang juga ikut berusaha memberikan pengorbanan untuk berjuang tanpa perlu pamrih apapun untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Hehehe, see, emak-emak ini bukan hanya tentang sosialita, tetapi mereka membawa misi budaya untuk tetap mempertahankan kemerdekaan yang sudah susah payah dahulu diperjuangkan. Dengan semangat, dan dengan “power of emak-emak” mereka membuktikan bahwa Indonesia masih ada dan masih terus bersemangat merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73.

Inilah kami untuk Indonesia, dari sudut Dusun Wetankali, Desa Girilayu. salam hangat penuh cinta untuk Indonesia.

MERDEKA !!!

-prajnaparamita-

Doc : Official Mulya Taruna

Posted in Gallery and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *