Kisah Cinta Arimbi, Raseksi Berhati Bidadari

Cinta tidak pernah memandang kepada siapa dan kepada wujud apa. Setidaknya itu teori yang dikatakan google beberapa hari lalu ketika membahas kisah cinta Rama dan Shinta. Memang sudah ada sejak muncul sejak zaman Adam dan Hawa, bahkan sampai juga ketika zaman Dilan dan Milea. Tidak akan ada habisnya sebuah kisah menjadi cerita melankolis yang mampu meluluh lantakkan perasaan seorang yang sedang dilanda virus yang sangat sulit ditemukan obatnya ini. Seperti halnya kisah cinta Arimbi, raseksi yang berhati bidadari.

Begitu pula Arimbi, iya Arimbi, bukan tetangga sebelah. Dia itu salah satu karakter fiksi dunia wayang. Berwujud raksasa yang tinggi dan besar, you know lah raksasa bentuknya seperti apa. Ngga ada cantiknya, blas. Singkat cerita Arimbi memiliki seorang kakak yang bernama Arimba, mungkin kakaknya juga ada yang bernama Arimbo.

Arimba adalah kakak kandung Arimbi, sama-sama raksasa. Karena Arimba ini sedang ngambek dan dendam karena kakaknya. Karena orang tua dari Arimba dan Arimbi dibunuh oleh salah satu orang Pandawa 5 yaitu Werkudara. Bunuh membunuh kelihatannya sudah biasa bagi dunia wayang saat itu. Sehingga dendam dan perebutan kekuasaan menjadi alasan untuk berperang.

Ketika para pandawa 5 berada di hutan wanamarta bersama sang ibu yaitu Dewi Kunti. Arimbi yang mendapatkan tugas untuk membunuh Werkudara oleh kakaknya Arimba, merasa perlu ikut menjunjung nama baik keluarga. Oleh karena itu doi ingin membunuh pandawa terutama Werkudara. Mengetahui bahwa Werkudara sedang berada di hutan wanamarta, Arimbi segera menuju hutan tersebut.

Namun ketika telah menemukan buruannya, bukan bergegas untuk memasak Werkudara menjadi tumis asem manis, tetapi malah jatuh cinta. Cinlok di wanamarta menjadi judul drama ini mungkin. Arimbi lupa dengan tujuannya semula untuk membunuh Bima. Getaran cinta telah mengalahkan segalanya dan Arimbi mengutarakannya pada Bima. Terkejut Bima mendengarnya, namun hatinya tidak merasa sedikitpun tertarik pada Arimbi, dan dengan halus dia menolaknya.

Namun Arimbi tidak menyerah, cinta telah menuntunnya kepada jalan kesetiaan, jalan cinta yang tulus dan tanpa pamrih. Cinta dengan pengorbanan yang agung. Dengan penuh kesabaran Arimbi mengikuti kemanapun Bima dan keluarganya pergi, membantu mereka dalam suka dan duka.

Melihat ketulusan Arimbi, Ibunda Bima yaitu Dewi Kunthi merasa terketuk hatinya. Dipangkulah Arimbi dan dibelainya dengan kasih sayang, dan berkatalah Dewi Kunthi

“ anakku yang cantik, engkaulah sesungguhnya bidadari, dalam wujudmu bersemayam sebuah hati yang agung, semoga kau dan Bima bisa bersatu” begitu doa Dewi Kunthi.

 Dan perkataan Dewi Kunthi seperti langsung dikabulkan oleh Dewata. Muka Dewi Arimbi menjadi cantik jelita, rambut yang hitam legam dengan paras ayu menyempurnakan perubahan raseksi itu.

Bima yang pada mulanya menolak Arimbi merasa bersalah, karena bahkan sang ibunda, yaitu Dewi Kunthi menyayangi seluruh makhluk hidup bahkan raksasa sekalipun, bersimpuh dia dihadapan sang ibunda dan dengan senang hati menerima cinta Arimbi yang penuh ketulusan hati memperjuangkan cintanya.

Mereka berdua kemudian melangsungkan pernikahan, dan dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai seorang ksatria yang kita sangat mengenalnya, dia yang bernama Gatotkaca.

Sebuah kisah yang mengingatkan bahwa sekarang, paras yang cantik akan memiliki like instagram lebih banyak daripada yang kurang cantik, tapi mereka tidak mau melihat kisah yang dibungkus dalam paras perempuan biasa yang tersembunyi dibalik senyum indah ketulusan hati mereka.

Karena bukan tidak mungkin, perempuan biasa akan menjadi lebih cantik daripada yang berparas cantik, bahkan ketika sudah ditinggalkan. Kecantikan bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk membuktikan bahwa hatinya lebih memiliki paras yang bersahaja.

  Dan suatu saat nanti, dalam chapter selanjutnya, kalian semua bisa membuktikan bagaimana paras dan hati arimbi yang bersatu dalam sempurnanya dia sebagai perempuan.

Terrima Kasih Sudah berkunjung dan membaca.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Story, Wayang Kulit and tagged , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *