Edisi Ramadhan : Bulan Penuh Berkah dengan Potret Kesederhanaan Para Pembatik Desa Girilayu

Haduh, kenapa lemes ya. Rasanya kaya orang yang lagi berpuasa. Kalian mau ngabuburit sama apa hari ini? Dan hari ini, kita mau melihat bagaimana para pembatik menghadapi bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dengan potret kesederhanaan para pembatik. Sembari menunggu buka puasa, sembari menunggu kolak yang akan disajikan.

Laper bray….

Seperti yang sudah kita ketahui, para pembatik sebagian besar hidup sederhana, dari ladang dari kebun, semua yang mereka dapatkan adalah kesederhanaan kehidupan. Tidak ada kemewahan yang coba mereka tunjukkan, mereka hanya ingin memperlihatkan bagaimana dengan kesederhanaan, bisa mendapatkan berkah dan rezeki pada bulan Ramadhan ini.

Ubi, singkong, jipang, gambreng, gembili, waluh, krokot, sawut, gethuk, klepon.

Tahukah kalian makanan-makanan itu?

Datanglah kesini, nanti kami suguhi semua makanan itu. Gratis.

Mungkin sejenis makanan itu yang mereka makan ketika buka puasa, tetapi tidak semuanya para pembatik. Namun kalian pasti akan menemukan salah satu deari para pembatik yang masih lebih percaya kepada makanan yang diberikan alam daripada makanan instan dan makanan modern lainnya. Kuliner yang kalian tidak akan temukan di mall atau kota besar yang notabene sudah lebih modern.

Para pembatik adalah maestro kesederhanaan dan kesabaran, mereka mampu legowo dan mampu bersyukur serta berserah diri tanpa harus menuntut yang tidak ada. Karena mereka percaya, Gusti Allah ingkang mesti paring rezeki. Bersyukur dan mereka akan mendapatkan lebih dari semua kemewahan itu, yaitu kebahagiaan.

Tidak ada kalian temukan para pembatik duduk di atas sofa, menggunakan baju yang mahal, menggunakan gelang kalung emas berkarat-karat. Justru yang kalian temukan adalah, pakaian biasa yang membuat mereka terlihat kusut, dingklik yang keras yang bisa bikin bokong menjadi seperti triplek, asap tumper mengebul sampai menghitamkan atap rumahnya.

Dan ketika sore, mereka akan meneruskan tarian canting yang diiringi dengan suara cucu mereka belajar mengaji, belajar mensyukuri nikmat sejak dini. Mungkin saja mereka juga ingin berbuka dengan es krim atau sup buah, tetapi buat mereka, yang ada sudah lebih dari cukup untuk dinikmati, asal bersama simbok, bersama embah, dan bersama seluruh keluarga di bulan ramadhan.

Cukup adil untuk mereka, karena sebuah mahakarya batik tidak akan dihasilkan oleh para pejabat dan para penguasa negeri ini. Bukan batik yang mereka hasilkan yang menjadi mahakarya, melainkan mereka yang menjadi potret mahakarya kesederhanaan untuk Indonesia, untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Dan mungkin, hanya salam dari burung kepodang di sore hari, menghantarkan mereka untuk menuju waktu berbuka, sembari berdoa, esok harus lebih mampu mensyukuri yang ada. Diliputi motif Sido Luhur, sebuah pengharapan agar anak mereka mampu menjadi seseorang yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca.

Salam Hangat dari Sore Seorang Pembatik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Edisi Ramadhan, Ketika Batik Menjadi Sarana Mendekatkan Diri Kepada Yang Maha Esa - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *