Mbah Wito [1923 – 2018], Mengiringi Kepergian Sang Maestro Batik Cuwiri dengan Sebuah Kisah

Kabut pagi hari yang lalu belum jengah menanti pagi di lereng Desa Batik Girilayu. Namun beberapa orang telah berlalu lalang memakai pakaian yang menghitamkan pagi itu. Salah satu maestro batik yang kami hormati, Mbah Wito, telah kembali ke hadapan Yang Maha Kuasa. Beliau mewarisi kami dengan sebuah kisah, yang nantinya akan mengiringi kepergian sang maestro Batik Cuwiri ini.

Mungkin bagi beberapa orang, seorang Mbah Wito adalah sesepuh biasa, namun bagi kami, beliau adalah sesepuh sekaligus salah satu yang menjadi inspirasi kami di Bumi Batik Girilayu. Akan kami ceritakan kisah ini sebagai sebuah lagu dan cerita yang akan menjadi pengiring kepergian beliau.
Sebelumnya, kami tidak memiliki sebuah rencana yang jelas tentang batik, bahkan tidak mengerti sama sekali.


Namun.

Asap tumper yang mengebul sekitar 3 bulan lalu di depan rumah beliau di Selomirah, Desa Girilayu, membuat kami berubah. Beliau dengan usia yang lebih dari 90 tahun masih membatik. Kami berkunjung untuk membuat artikel pertama kami di Prajnaparamita.

Kami mulai bertanya beberapa hal tentang batik, tapi kadang beliau lupa, bahkan beliau juga lupa sejak kapan berkenalan dengan batik.

Dari sinilah kami mulai mengerti bagaimana batik mulai membuat rumah baru di kepala kami, penuh dengan ide dan imajinasi liar yang memaksa kami harus meneruskan cita-cita kami.

Kembali kepada Mbah Wito, ketika kami mulai menanyakan hal tentang batik, beliau selalu mengelak, bahkan beliau malah membahas orang tua kami, bercerita bahwa dulu beliau memiliki kenangan yang baik dengan orang tua kami yang bahkan kami tidak tahu menahu.

Dan dalam dunia batik, beliau adalah salah astu jagoan kami, salah satu yang menjadi lentera semangat kami untuk jatuh cinta kepada batik. jatuh cinta kepada kisah yang bisa kami temukan dalam berbagai cerita tentang batik, disini.

Satu hal tentang batik yang bisa beliau jawab adalah batiknya bermotif Cuwiri. Beliau masih bercerita dengan baik tentang sebuah kehidupan. Kemudian masih dengan melanjutkan kegiatannya membatik dan sesekali menyalakan kembali tumper yang penuh asap tersebut.

Beliau membatik tanpa menggunakan motif, perlu kalian tahu, beliau sudah hapal dengan corak dan coretan yang ada pada Batik Cuwiri. Sesekali kami ingin menunggu beliau meniup cantingnya, tetapi tidak pernah beliau meniupnya seperti pembatik lain, mungkin karena sudah sepuh.

Beliau terus menerus bercerita tentang zaman dahulu, tentang sebuah kehidupan, tentang ini siapa itu siapa, tentang manusia dengan kebaikan, tentang kehidupan yang harus terus menerus disyukuri, karena nantinya kita juga akan kembali kepadaNya.

Kami mulai putus asa menanyakan hal yang berkaitan tentang batik, tetapi kami malah menikmati alur cerita yang dibawakan beliau. Sungguh, tidak ada satupun yang membahas tentang hal yang buruk orang lain. Beliau hanya mengingat orang dan hal baik yang pernah beliau lalui semasa hidupnya.

Kami menjadi seperti benar-benar memiliki sebuah motivasi, apa yang bisa kami lakukan untuk beliau. Dan dari situ juga kami mulai mencari batik untuk dijual, dan apabila nantinya laku, sebagaian keuntungan akan kami berikan salah satunya kepada beliau.


Tetapi.

Tuhan Maha berkehendak terhadap segala sesuatu. Sebelum kami berhasil membawakan beliau hasil dari kerja kerasnya, beliau sudah lebih dulu kembali kepada Yang Maha Kuasa. Mewariskan kepada kami sebuah motif kehidupan yang kami selalu berusaha membatiknya dalam setiap jengkal nafas sisa kehidupan kami, untuk batik.

Sebagaimana Motif Cuwiri yang melambangkan sebuah kehidupan baru, maka diantara itu, pasti akan ada juga bunga kamboja yang akan mekar. Meninggalkan kita untuk melanjutkan apa yang telah beliau mulai berpuluh tahun lalu, melahirkan kembali sebuah generasi batik yang baru, yang lebih menghargai jerih payah dan berbagai kebaikan di dalam sebuah batik.

Begitulah yang kira-kira beliau ajarkan kepada kami.
“Tidak perlu mengingat hal buruk yang orang lain lakukan kepadamu, tetapi ingatlah satu cerita yang baik yang orang lain lakukan untukmu”

Selamat jalan salah satu maestro Batik Cuwiri kami, semoga amal dan segala ibadah beliau diterima di hadapan Yang Maha Kuasa dan diberikan tempat terbaik di surgaNya.

Amin

—–

Tulisan ini adalah realita tanpa dibuat-buat dan tidak untuk bertujuan mengeksploitasi kehidupan beliau.
Kalian bisa berkunjung ke Official Prajnaparamita Indonesian Batik untuk melihat short video tentang beliau.
Dengan segala hormat, kami meminta maaf apabila ada kata atau ucapan yang kurang berkenan.

Salam Hangat, Indonesian Batik
-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article, Tokoh Batik and tagged , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Mereka Bukanlah Buruh Batik, Tetapi Mereka adalah Para Maesto Batik Kehidupan - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *