Cara Memakai Perlengkapan Busana Pria Jawi Jangkep dalam Adat Budaya Jawa

Seperti yang kemarin sudah dijanjikan oleh admin sebelah, kita membahas tentang perlengkapan dan cara memakai beskap. Sebenarnya beskap atau surjan hanya baju yang pada umumnya berwarna hitam atau lurik. Namun dalam pakaian Jawi Jangkep, ternyata banyak perlengkapan yang harus dipakai agar terlihat karakter budaya Jawanya.

Oleh karena itu kita bahas satu per satu dulu perlengkapan untuk memakai Busana Jawi Jangkep.

Cara Memakai Nyamping

memakai jarik

Nyamping adalah pemakaian kain batik tanpa dijahit, bahasa ngokonya adalah jarikan. Nyamping atau Sinjang sebelum dikenakan haruslah diwiru terlebih dahulu. Untuk nyamping busana pria, lebar wiru berukuran 3 jari tangan. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengenakan nyamping adalah motif batik pada kain nyamping tersebut. Jika nyamping memiliki motif gurda, posisi kepala burung haruslah berada di atas.

 Ada juga motif yang memakai simbol/bentuk seperti candi atau rumah, maka posisi atap haruslah berada di atas. Saat mengenakan nyamping, posisi wiru berada di tengah tubuh memanjang ke bawah. Tangan kanan memegang wiru dan tangan kiri memegang ujung kain satunya (biasa disebut pengasih). Pengasih ini dililitkan ke kanan hingga belakang paha kanan.

 Kemudian ujung wiru dililitkan ke arah kiri hingga pas di tengah tubuh. Usahakan bagian bawah tingginya sama dan cukup menutupi bagian kemiri kaki (bagian belang kaki yang menonjol). Setelah dirasa cukup sesuai maka nyamping harus diikat oleh stagen.

Cara Memakai Stagen

1559_f250c1aa-188e-4fc9-a6c7-2f2f4008b325

Stagen adalah kain yang memiliki lebar sekitar 15 cm dan memiliki panjang sampai 5 meter. Stagen tersebut merupakan kain tenun tradisional. Sifatnya agak lentur dan sedikit melar, tetapi tekstur tenunnya sangat kuat. Fungsinya adalah untuk membuat lingkar perut tetap terlihat langsing dan sebagai tempat keris nantinya.

Stagen dililitkan dari arah kiri ke kanan mulai dari bawah melingkar ke arah atas. Jika stagen milik anda terlalu panjang, anda dapat meneruskan melilitkan  stagen kembali ke arah bawah. Jika sudah cukup, ujung stagen ditekuk dan diselipkan pada bagian bawah lilitan stagen untuk mengunci lilitan tersebut. Selanjutnya untuk menutupi stagen, kenakanlah sabuk.

Cara Memakai Sabuk

hqdefault

Cara memakai sabuk mirip dengan cara mengenakan stagen yaitu dililitkan berulang kali pada bagian bawah dada hingga ke pinggang. Hanya saja sabuk dililitkan dari arah kanan ke kiri mulai dari atas ke arah bawah. Yang perlu diperhatikan pada pemakain sabuk adalah jarak sap (garis atas yang satu dengan berikutnya kurang lebih 2 jari tangan. Ujung dari sabuk harus berakhir pada bagian kiri depan dan dapat dikunci dengan peniti.

Cara Memakai Epek

Timang__gesper_ikat_pinggang_pakian_jawa_

Admin juga baru membaca tentang epek baru kali ini dan baru paham namanya. Bentuk epek mirip dengan ikat pinggang. Epek memiliki bagian pengunci yang disebut timang dan bagian lerep (anak timang). Cara mengenakan epek yaitu timang berada pada posisi tengah lurus dengan wiru nyamping. Sementara lerep pada posisi sebelah kiri. Jika memiliki epek yang panjang maka bagian ujung dapat dilipat dan dimasukkan ke bagian lerep. Epek harus terpasang pada lilitan sabuk bagian bawah, kira-kira dua jari dari garis  bawah sabuk.

Warna sabuk dan epek ada beberapa macam sesuai dengan keperluan. Contohnya :

  • Sabuk berwarna ungu dengan epek berwarna hijau artinya Wredha Ginugah yang dapat membangun suasana tenteram.
  • Sabuk berwarna hijau atau biru dengan epek berwarna merah artinya Satriya Mangsah yang dapat membangun jiwa terampil dan berwibawa.
  • Sabuk berwarna Sindur (merah bercampur putih) digunakan pada saat hajatan penganten. Warna ini dipakai bagi yang memiliki hajatan (hamengku damel). Sementara untuk besan tidak ada aturan yang pasti. Hanya saja pada saat jaman penjajahan Jepang, pernah ada paguyuban yang menentukan warna sabuk Pandhan Binethot (warna hijau dan kuning) bagi besan.

Cara Memakai Keris atau Duwung

2231684_20141002030458

Nah ini yang seru, memakai keris juga merupakan salah satu kelengkapan pemakaian adat jawa Jawi Jangkep. Keris atau duwung dikenakan pada bagian belakang busana. Keris diselipkan pada sabuk, tepatnya pada sap ke tiga dari bagian bawah sabuk.

 Cara mengenakan keris/dhuwung ada beberapa macam sesuai dengan keperluannya:

  • Ogleng : digunakan pada saat biasa atau pahargyan (upacara adat) penganten.
  • Dederan /andhoran : digunakan pada saat menghadap pimpinannya.
  • Kewal : digunakan oleh prajurit saat situasi bersiaga.
  • Sungkeman : digunakan saat menghantarkan jenazah.
  • Angga : digunakan oleh pemimpin barisan
  • Sikep
  • Brongsong : keris dipegang dengan dibungkus sehingga tidak terlihat oleh orang lain.

Untuk jenis keris ada banyak sekali macamnya, hanya saja yang banyak dikenal oleh awam jenis Ladrang dan Gayaman. Dhuwung ladrang adalah keris resmi yang digunakan dalam upacara ataupun pahargyan (upacara penganten). Sementara jenis gayaman digunakan sehari-hari oleh prajurit keraton.

Memakai Selop

2231684_20141002030420

Selop dikenakan sebagai alas kaki. Yang perlu diperhatikan pada pemakaian selop adalah ukuran dari selop itu. Jangan mengenakan selop yang lebih besar dari ukuran kaki tapi pilihlah selop yang lebih kecil. Ini bertujuan untuk menghindari agar langkah kita tidak terbelit pada kain nyamping.

Memakai Beskap

 

Sudah tidak perlu diajari kelihatannya untuk memakai beskap, beskap sudah dijelaskan dalam artikel kita sebelumnya. Cara pemakaiannya juga simple. Agar lebih terlihat elegan, penggunaan bros emas juga bisa menjadi pilihan agar terlihat lebih elegan.

Beskap juga memiliki beberapa warna diantaranya warna hitam, putih, lurik, dan juga sekar jagad.

Memakai Blangkon/Udeng/Mid

Pada bagian depan blangkon terdapat segitiga. Ujung segitiga tersebut harus berada ditengah-tengah kening. Blangkon jangan dikenakan terlalu mendongak ataupun  menunduk.

Ada satu hal yang perlu diingat saat mengenakan busana adat, yaitu bahwa sepintas orang dapat mengenali kepribadian seseorang dari busananya baik warnanya maupun jenis busananya, cara memakainya dan bertingkah laku saat mengenakannya.

Ternyata untuk memakai busana adat Jawa memang sedikit ribet. Tetapi dengan memakai busana adat Jawa ini berarti kita sebagai generasi penerus para leluhur mampu menjalankan filosofi kehidupan orang Jawa yang tidak ada duanya.

Tetapi tidak sedikit yang sampai sekarang masih mempertahankan salah satu warisan budaya dan busana ini. Dan kami pribadi mengucapkan banyak terima kasih telah ikut melestarikan keanekaragaman dan keluhuran budi budaya Jawa serta Nusantara Indonesia.

Demikian, semoga artikel ini bisa membantu kalian yang ingin memakai busana Jawi Jangkep menjadi among tamu.

Terima Kasih Telah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Dalang Wayang Kulit Purwa, Sosok Jenius Dalam Kearifan Dunia Pewayangan - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *