10 Karakteristik Perempuan Berdasarkan Konsep Istilah Budaya Jawa

Hai-hai, masih setia dengan kalian Prajnaparamita Indonesian Batik. Hari ini kita sedikit keluar dari materi kita yaitu tentang batik indonesia, untuk mengungkap bagaimana sebenarnya karakteristik perempuan dalam konsep budaya Jawa.

Perempuan Jawa sangat identik dengan kultur Jawa, seperti bertutur kata halus, tenang, diam (kalem), tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai keluarga, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi atau terkontrol, dan daya tahan untuk menderita tinggi.

Bila ada perselisihan ia lebih baik mengalah, tidak gegabah, tidak grusa-grusu, dan dalam mengambil langkah mencari penyelesaian dengan cara halus.

FB_IMG_1510343759118

Dalam konsep budaya Jawa terdapat beberapa istilah tentang wanita, yaitu: wadon, pawèstri, putri, wanodya, retna, kusuma, memanis, juwita, wanita, dan dayita. Masing-masing istilah ini mempunyai arti tersendiri yang menunjukkan bahwa wanita dalam pandangan masyarakat Jawa memiliki peran istimewa (Basuki, 2005:5).

Istilah wanita secara konseptual dipaparkan dalam untaian kata: “sira dèn-bisa nuhoni witing nata tinggal sarananing priyanira.” Artinya, bahwa wanita harus bersungguh-sungguh dalam aturan dan satu rasa dengan suaminya.

Dalam khasanah kebudayaan Jawa, wanita merupakan akronim (jarwa dhosok) dari kata wani ditata, maksudnya bersedia diatur oleh suaminya.
Istilah wadon memiliki arti wewadi (rahasia), sebagaimana dalam pandangan masyarakat Jawa dinyatakan: “dèn-bisa rumeksa wewadinira lan wewadining priyanira” (pandai-pandailah menjaga rahasia pribadi dan rahasia suaminya).

Kata wadon berarti berkaitan erat dengan wadi adon-adon, yang dalam pemahaman budaya Jawa memiliki makna mampu menyimpan rahasia dan pandai dalam meramu, melayani, serta tanggap dalam menanggapi situasi dan kondisi.

fc13cd52c11dd81e374eba9f2d28f530

Istilah pawèstri berasal dari kata “pametri wewadining babahan katri” (berusaha menjaga rahasia lubang yang ketiga). Istilah ini berkaitan dengan filosofi babahan hawa sanga dalam budaya Jawa. Babahan yang ketiga adalah vagina, yang dalam kehidupan dimitoskan sebagai kehormatan wanita; keperawanan yang utuh adalah lambang kesucian dan kehormatan wanita.

Istilah putri berakar pada kata pametri, berarti pemelihara. Wanita hendaknya memelihara tubuh dan anggota badannya agar tetap halus atau lembut. Istilah ini berkaitan erat dengan kata wanodya, yang berarti mampu memelihara kecantikan lahir-batin.

 Dalam konsep budaya Jawa wanodya dinyatakan: “sira dèn bisa angadi-adiing lair batinira, karana paraning parasdya manuhara,” yang berarti seorang wanita harus dapat memelihara kecantikan lahir-batin, memperindah parasnya agar mengesankan.

Retna berarti permata. Dalam ungkapan bahasa Jawa dinyatakan “intoning nala dèn-bisa mawèh suka pirenaning priyanira, sarana gebyaring wadana, sumèhing naya,” artinya permata hati, yang dapat menggembira¬kan hati suami dengan cara menunjukkan wajah berseri-seri.

Kusuma berarti bunga. Dalam ungkapan Jawa dinyatakan: “badanira iku pengawak sekar, lan dèn-bisa asung ganda arum marang lakinira, nadyan wacana iya dèn-arum, saéngga kaya gandaning sekar warsiki.” Artinya, bahwa tubuh wanita bagaikan bunga yang berbau harum, indah dalam bertutur kata, laksana bunga gambir.

Memanis mengandung makna konsekuen antara lahir dan batin, sebagaimana dalam kalimat bahasa Jawa: “dèn-bangkit miyara dèn-gula (gula jawa), jumbuh nala panayaning wadana, ing saujar-ujarira dèn-memanis marang priyanira.” Artinya, bahwa wanita harus dapat memelihara diri agar seperti gula jawa, perbuatan sesuai dengan kata hati, dan dalam setiap tutur kata dapat menyenangkan hati suami.

Juwita mengandung makna berhati-hati, sebagaimana dalam ungkapan Jawa: “dèn-sarjuning ati titi, dèn-bisa mamrih suka pirenaning priyanira.” Artinya, bahwa wanita harus selalu berhati-hati, agar dapat memberi rasa senang terhadap suaminya.

Dayita mengandung makna menyenangkan. Dalam ungkapan Jawa dinyatakan: “mayanira dèn-bisa karya énggaring panggalihé priyanira” (mukanya harus dapat menyenangkan hati suaminya). Maksudnya, bahwa wanita harus mencoba memahami kemauan suami, jangan membanding-bandingkan dengan pria lain, jangan memuji pria lain di hadapan suami, dan kekurangan suami harus dipendam di dalam hati karena kekurangan suami tidak untuk dikatakan kepada orang lain.

kebaya 01a

Apabila kita membaca lebih dalam, istilah tersebut mengacu kepada kodrat wanita yang diciptakan untuk menjadi pendamping seorang lelaki. Dengan pengertian tersebut maka secara tidak langsung emansipasi wanita berada dalam konteks yang berbeda.

Mengingat zaman sekarang para perempuan lebih memiliki jiwa kemandirian yang lebih besar. Bahkan mampu mengambil tugas seorang suami dalam menafkahi hidup keluarganya. Namun, dibalik itu semua mereka tetap seorang perempuan yang juga harus tetap menjunjung tinggi lelaki yang sudah menjadi pendampingnya.

Konsep istilah ini untuk sekedar menjadikan perempuan sebagai sosok yang benar-benar memiliki segala aspek perempuan Jawa untuk kehidupannya berkeluarga, bermasyarakat atau bernegara. Karena sekarang setiap perempuan juga memiliki kebebasan untuk menjadi apa yang mereka inginkan dengan batasan-batasan tertentu yang sudah dipahami konsekuensinya.

Sekian dulu, nanti kita lanjutkan lebih jauh tentang konsep-konsep seorang wanita atau perempuan dalam berbagai pemahaman budaya Jawa.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *