Persamaan dan Perbedaan Motif Parang Rusak Barong Gaya Surakarta dan Yogyakarta

Selamat Pagi para penduduk planet bumi, bagaimana hari ini, sudah siap-siap mau long weekend kelihatannya. Selamat datang di Prajnaparamita Indonesian Batik. tempat kita belajar bersama tentang batik dan segala hal yang berkaitan dengan seni budaya Indonesia ini.

Hari ini kita akan membahas tentang motif batik yang sudah sangat terkenal dan banyak yang memakai, motif Parang Rusak Barong. Seperti yangkalian tahu motif parang adalah motif yang peling banyak dipakai dan dikembangkan untuk berbagai macam fashion batik. bukan hanya filosofinya yang baik, tetapi juga karena motifnya yang relatif cocok untuk dipadukan dengan motif yang lain.

Dan kita sama-sama tahu, ketika Mataram pecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta, maka motif batiknya juga ikut memiliki variasi barik motif maupun pewarnaannya. Langusung saja kita lihat dulu persamaan motif Parang Rusak Barong antara gaya Surakarta dan Yogyakarta.

Segi bentuk ditemukan persamaan struktur yang meliputi motif-motif penyusunan serta warna yang digunakan. Bentuk motif penyusun atau isen-isen yang terdapat pada kedua gaya tersebut adalah adanya mata garèng atau bokongan, lidah api atau uceng, tuding, badan burung, dan sayap burung. Semua motif isen-isen tersebut membentuk satu motif utuh yang bernama Barong atau deformasi dari burung besar. Motif utama lainnya adalah mlinjon dan ombak yang memisahkan deret Barong satu dengan yang lain.

Penggunaan warna pada motif batik Parang Rusak Barong adalah soga atau coklat, nila atau biru, dan putih. Persamaan dari segi warna adalah kedua motif batik Parang Rusak Barong di wilayah tersebut menggunakan warna-warna seperti yang disebutkan di atas.

Aspek persamaan dari segi fungsi adalah adanya aturan yang pernah dan masih diberlakukan dalam keraton yang menyebutkan bahwa motif batik Parang Rusak Barong di Yogyakarta dan Surakarta hanya digunakan khusus oleh raja dan putra mahkotanya. Fungsi lainnya adalah sebagai sarana legitimasi dan penanda kedudukan raja untuk menunjukkan sebuah eksistensi.

Pengartian makna yang terkandung dalam motif batik Parang Rusak Barong di dalam keraton adalah sebuah ajaran filosofi yang disampaikan oleh Sultan Agung. Ajaran tersebut adalah ungkapan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang kehidupannya telah diatur dari hidup sampai mati oleh Tuhan sendiri. Komunitas pembatik yang paham akan ajaran filosofis juga memiliki pengertian sama dengan kerabat keraton.

Sebelum kita menuju perbedaan motif Parang Rusak Barong, kami tidak mencoba untuk membedakan atau mengunggulkan salah satu motif baik dari gaya Surakarta maupun Yogyakarta. Karena semua hasil karya batik merupakan sebuah hasil kebudayaan yang sangat tidak ternilai harganya. Masing-masing daerah memiliki keistimewaan tersendiri dan merupakan sebuah keanekaragaman Bhinneka Tunggal Ika.

Lanjut menuju perbedaan motif Parang Rusak Barong antara Gaya Surakarta dan Gaya Yogyakarta.

Sebenarnya perbedaan yang ada pada motif Parang Rusak Barong hanya terdapat pada pembuatan bentuk motif segi geometris saja, untuk filosofi yang terkandung di dalamnya sepertinya tidak ada perbedaan antara gaya Suraklarta dan Yogyakarta.

Gaya Yogyakarta

Bentuk motif batik Parang Rusak Barong di Yogyakarta dan Surakarta setelah diamati secara seksama terdapat perbedaan. Yogyakarta yang beraliran klasik atau meneruskan gaya Mataraman secara umum memiliki ciri-ciri: berwarna latar putih, tidak banyak variasi, dan banyak menggunakan garis lurus dan lekukan tajam. Secara detail, bentuk-bentuk yang menunjukkan perbedaan gaya Yogyakarta dengan gaya Surakarta adalah sebagai berikut :

  • Mata garèng untuk motif Yogyakarta memiliki bentuk bulat lingkaran.
  • Bentuk tuding pada bagian ujungnya lurus tajam tanpa lengkungan.
  • Bentuk badan Barong untuk motif Yogyakarta lebih cembung dan besar dari motif Surakarta.
  • Garis-garis lekukan pada motifnya tajam dan kaku.
  • Warna Barong keseluruhan adalah putih.

Gaya Surakarta

Surakarta yang dalam perkembangannya beraliran Klasik Romantik memiliki banyak pengembangan dalam penciptaan motif batiknya. Secara umum, gaya yang berkembang di Surakarta memiliki ciri-ciri: banyak menggunakan garis-garis lengkung serta lekukan yang tidak tajam, warna latarnya kecoklatan, dan banyak variasi.

Secara detail, ciri-ciri yang menunjukan perbedaan gaya Surakarta dengan gaya Yogyakarta adalah sebagai berikut:

  • Bentuk Mata Garèng untuk motif Surakarta berbentuk bulat telur.
  • Bentuk tuding pada bagian ujungnya melengkung.
  • Bentuk badan Barong untuk motif Surakarta lebih kurus atau tidak terlalu cembung dari motif Yogyakarta.
  • Garis-garis lekukan pada motifnya lebih luwes dan bervariasi.
  • Warna Barong keseluruhan adalah kecoklatan.

Hal-hal yang menjadi perbedaan pun, tidak secara prinsip, tetapi hanyalah pada bentuk garis seperti lurus lengkung dan intensitas warna, seperti gelap dan terang. Perbedaan tersebut bukan terletak pada filosofi dan intisari yang terkandung dalam motif batik tersebut.

Intinya, antara Gaya Surakarta dan Yogyakarta meskipun memiliki perbedaan, tetap tidak mengubah kualitas batik tersebut, antara batik Solo dan Jogja sama-sama indah antara Gudeg dan Soto sama-sama enak.

Terima Kasih Sudah Membaca dan Berkunjung

Salam Hangat Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Warna Sogan Pada Batik, Antara Aura Kebijaksanaan dan Keindahan Seni - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *