7 Macam Batik Indonesia yang Digunakan Untuk Prosesi Mitoni [7 Bulan Kehamilan]

Hai para penduduk bumi, salam hangat dari Prajnaparamita yang selalu memberikan kalian informasi tentang batik, selalu update dan selalu mendukung segala inovasi tentang batik. Sudah menyiapkan rencana mau liburan kemana? Kalian juga boleh dolan ke galeri Prajnaparamita di lereng Lawu untuk sekedar ngobrol, sharing, atau beli batik juga tidak dilarang. Hehehe

Kali ini kita mau membahas 7 macam motif batik indonesia yang digunakan dalam prosesi adat Jawa “mitoni”.

Sebelumnya, Apa itu mitoni?

Mitoni adalah suatu adat kebiasaan atau suatu upacara yang dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan dengan tujuan agar jabang bayi dalam kandungan dan sang ibu yang mengandung senantiasa memperoleh keselamatan.

Dalam acara mitoni terdapat prosesi berganti busana batik sebanyak 7 kali. Iya sebanyak itu, karena dalam setiap motif batik yang akan dipakai memiliki filosofi dan dengan harapan bahwa filosofi dari batik yang dipakai itu akan menurun kepada sifat lahir dan batin anak tersebut kelak di dunia.

 Nah, buat pasangan yang sedang menunggu kelahiran buah hati tercinta dan ingin melaksanakan prosesi adat mitoni kami akan berikan info kain batik yang digunakan sekaligus filosofinya. 7 macam motif batik ini kadang setiap daerah memiliki perbedaan atau pakem motif yang digunakan, tetapi intinya 7 macam motif batik tersebut yang kelak akan menjadi tuntunan kepada sang jabang bayi.

7 batik yang kami sebutkan tidak menjadi pakem, tetapi kami mengambil berdasarkan filosofi yang penuh kebaikan. Langsung saja kita bahas satu per dua, eh, satu per satu.

Kain Batik Motif Wahyu Tumurun

_MG_8763

Pada pemakaian pertama motif batik yang digunakan adalah motif batik Wahyu Tumurun. Dengan filosofi bahwa semoga nantinya anak tersebut selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dapat juga diartikan bahwa anak tersebut merupakan anugerah yang harus dijaga dan dilindungi oleh kedua orangtuanya. Setelah selesai memakai motif Wahyu Tumurun, kemudian batik dilepas untuk memakai motif kedua.

Kain Batik Motif Gurdo atau Garuda

_MG_8769

Motif Garuda ini merupakan kombinasi dengan batik lain seperti parang atau kawung. Dengan harapan bahwa nantinya sang anak mampu meraih cita-cita yang tinggi dengan tetap bersifat sendah hati kepada sesama [kawung] dan juga bersifat ksatria yang berbudi luhur dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi [parang].

Kain Batik Motif Sido Mukti

Motif Batik yang ketiga adalah motif Sido Mukti, yang memiliki harapan bahwa nantinya yang jabang bayi akan memiliki hidup yang makmur dan dilebihkan selalu rezekinya oleh Yang Maha Kuasa. Selain itu motif ini juga melambangkan bahwa anaknya akan selalu mampu menjadi kebanggan orang tua.

Kain Batik Motif Ratu Ratih

_MG_8775

Batik ini muncul pada masa pemerintahan Paku Buwono ke VI, dimana pada saat diangkat menjadi raja usianya masih sangat muda sehingga diemban oleh patihnya (ayahnya sendiri) pada tahun 1824 M. Makna dari motif batik ini diibaratkan cincin emas yang bermata berlian yang dikaitkan dengan kemuliaan, keagungan dan mudah menyesuaikan dengan lingkungannya.

Kain Batik Motif Satria Wibawa

_MG_8779

Batik ini merupakan jenis batik ceplokan segi empat dengan titik pusat di tengah. Dalam ajaran Jawa, hal ini adalah konsep kekuasaan yang melambangkan Raja yang bersifat bijaksana. Sesuai dengan namanya, diharapkan nantinya adalah memiliki keturunan yang bersifat ksatria.

Kain Batik Motif Palang Grompol

_MG_8788

Dengan harapan bahwa kelak ketika anak dilahirkan akan memiliki banyak rezeki baik untuk diri sendiri, orang tua, ataupun keluarga. Motif tersebut juga melambangkan keseimbangan dalam kehidupan yang akan dijalani nantinya. Ditambah lagi kombinasi motif parang yang menjadikan keturunan ini nantinya akan memiliki karakter yang kuat untuk melindungi setiap orang.

Kain Batik Motif Sido Luhur

_MG_8796

Memiliki kepribadian yang luhur adalah dambaan setiap orang tua, oleh karena itu, batik ini berada pada posisi terakhir. Hampir mirip seperti filosofi motif dliring yang mengharapkan sang anak nantinya akan memiliki sifat rendah hati dan patuh kepada orang tua. Menjadi teladan bagi masyarakat dan berguna bagi nusa dan bangsa.

Mungkin ketika dalam sebuah acara mitoni, atau dalam bahasa jawa disebut tingkeban kalian menemukan motif yang lain. Benar sekali, motif seperti parang kusumo, cuwiri, truntum,sido asih, sampai motif udan liris yang sekarang sangat langka ditemukan. Tergantung filosofi yang ingin diwariskan kepada sang anak nantinya.

Namun, bukan berarti setelah memakai kain batik nantinya anak kita akan seperti yang ada dalam filosofi, kain batik ini hanya menjadi motivasi agar sebagai orang tua mampu mendidik anaknya agar menjadi pribadi yang benar-benar baik dalam fisik maupun hatu nuraninya.

Orang tua tetaplah menjadi panutan sang anak, sehingga bagaimanapun orang tua adalah kunci kesuksesan anaknya kelak. Filosofi ini bukan hanya mitos, tetapi apabila kita mencoba melihat anak-anak zaman sekarang yang cenderung bandel dan tidak tahu tata krama, mungkin sudah kehilangan jatidiri sebagai orang Jawa yang berbudaya luhur

Sekian yang bisa kami sampaikan mengenai batik yang digunakan untuk upacara mitoni, semoga menjadi inspirasi bagi para calon orang tua untuk terus belajar memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Salam Hangat, Indonesian Batik.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , .

2 Comments

  1. Pingback: Mengenal Motif Batik Cuwiri yang Bertugas Menyambut Sebuah Kelahiran - Indonesian Batik

  2. Pingback: Pengaruh Unsur Ukel pada Motif Batik Tulis Klasik Tradisional dan Filosofinya - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *