4 Pengusaha Batik Belanda Yang Terkenal Pada Zaman Kolonial

Setelah sebelumnya intermezzo mengenai Batik Belanda, selanjutnya kita habiskan materi mengenai Batik Belanda atau Batik Kompeni tersebut. Karena lagi-lagi kita harus membahas batik untuk tetap konsisten melestarikan budaya batik Indonesia.

Batik memiliki sisi yang menarik dari sudut manapun dilihat, ketika Indonesia dalam pengaruh Jepang makan batik juga mengikuti kebudayaan Jepang. Kemudia ketika Belanda datang dan membawa budaya Eropa, maka batik juga menyesuaikan diri dengan penggunaan motif yang sesuai dengan budaya Bangsa Belanda.

Negara yang terakhir disebut memiliki beberapa pengusaha batik yang sukses mengembangkan potensi batik Indonesia meskipun bukan masyarakat asli Indonesia. Pengusaha batik Indo Eropa atau bahkan asli Belanda membuat motif yang memiliki sisi budaya bangsa Belanda dengan budaya klasik batik bangsa Indonesia.

Inilah 4 pengusaha batik pada rentang waktu sekitar 1940-1940 :

1. Carolina Josephina Von Franquemont

Woman's_hip_wrapper_from_Java,_Honolulu_Museum_of_Art,_10092.1

Aduh bagaimana memanggilnya ini ya, Von Franquemont saja. Dikutip dari sumber, Von Franquemont adalah seorang Indo-Jerman yang memulai usaha batiknya pada umur 23 di tahun 1840 di Surabaya. Pada tahun 1845 ia pindah ke Semarang dan membuka perusahaan Batik di tepi sungai lereng Gunung Ungaran. Faktor kemandirian dirinya diperkirakan yang mempengaruhi keputusannya untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya.

Banyak terobosan baru dalam karya batiknya terlebih pada desain dan warna. Pada saat itu batik masih dibuat memakai warna alami dari bahan nabati. Warna batik yang popular pada saat itu adalah coklat (sogan), biru (biron), merah (bangbangan), merah biru (bang biron), dan merah ungu (bang ungon).

Pemakaian warna alam dalam batik von Franquemont membuat warna batiknya semakin indah. Dari sini kita bisa melihat bahwa sejak zaman kolonial motif batik yang penuh warna sudah mulai dikembangkan sejak zaman kolonial ini.

Uniknya Von Franquemont mampu menciptakan warna hijau (hijau kebiruan) yang sampai sekarang resepnya tidak kita ketahui. Warna tersebut menjadi unik karena proses yang berulang-ulang dan rumit.

Batik Von Franquemont biasa disebut batik Prankemonan. Terobosan motif Prankemon yang sangat popular adalah batik dongeng. Batik dongeng menggambarkan cerita-cerita dongeng Eropa maupun non-Eropa, seperti motif putri duyung, Dewi His Hwang. Von Franquemont juga menampilkan batik wayang. Selain itu Batik Prangkemonan juga menampilkan motif batik yang dipengaruhi budaya India dan China. Dalam batiknya, ia juga memperkenalkan pinggiran gaya baru yang meniru motif renda atau biasa disebut boog.

 

2. Catharina Carolina Van Oosterom

carolin-van-oesten

Setelah Von Franquemont sukses menjadi pengusaha batik maka Catharina Carolina Van Oosterom. Van Oosterom adalah tetangga Von Franquemont di Ungaran Semarang. Ia adalah seorang Indo-Belanda yang juga membuka usaha pembatikan. Batiknya dikenal sebagai batik Pastroman. Sekitar sepuluh tahun kemudian, Ia lalu pindah dan meneruskan usaha batiknya di Banyumas.

Terjadi perubahan warna pada batik-batiknya, karena walaupun ia memakai campuran yang sama dengan Ungaran, air dan tanah Banyumas mumpunyai kandungan yang berbeda yang mempengaruhi warna. Karenanya, Batik Pastroman mempunyai warna yang unik. Di Banyumas, ia memberi warna baru pada gaya batik disana yang notabene sangat terpengaruh oleh batik pedalaman.

batik-carolin-van-oesten

Menurut museum batik pekalongan Van Oosterom sering menampilkan motif tentang peristiwa tertentu, seperti misalnya motif gedung opera pertunjukan. Ia juga sering menampilkan corak Eropa pada motifnya seperti Cupido (Dewa Asmara), bunga, dan tandan buah anggur. Ia meninggal pada 11 Januari 1877.

3. Lien Metzelaar

metzelar

Metzelaar memulai usaha batiknya di Pekalongan pada tahun 1880 hingga 1916, tepat pada masa keemasan perdagangan batik tulis. Untuk modal usahanya, ia di bantu oleh seorang saudagar batik Arab bernama Baoudjir. Kemudian ia membantu menjualkan batik-batiknya ke Batavia. Sementara untuk penjualan, ia juga dibantu oleh kemenakannya, Lien Antonijs-de Beer, memasarkan batiknya kepada wanita kalangan atas Eropa di Pekalongan.

Ia mempelopori penggunaan kepala bermotif bunga-bunga, bukan motif seperti pada umumnya. Salah satu kepala batik yang terkenal adalah penggunaan gambar bangau, yang kemudian banyak ditiru oleh pembatik lain. Ia juga mempelopori tata letak batik terang bulan. Ia juga yang menginspirasi munculnya motif buketan yang dibuat oleh Van Zuylen, walau dalam batiknya buketan hanya berupa rangkuman bunga dalam pola sederhana. Ia menandatangani karyanya dengan tulisan “L. Metzelaar Pekalongan”, lalu berganti “L. Metz Pek”.

4x5 original

Lien menjual rumah dan perusahaan batiknya pada tahun 1916. Ia kemudian pindah ke Bandung dan membeli rumah disana. Selanjutnya ia berpindah-pindah ke Yogyakarta dan Surakarta dan meninggal disana pada tahun 1930. Jasadnya dibawa dan dimakamkan di Kota Pekalongan.

4. Eliza Charlotte (Lies) Van Zuylen

zuylen2

Sebernarnya ada 2 nama pembatik dari keluarga Van Zuylen yaitu Christina (Tina) dan Eliza (Lies). Tina adalah kakak dari Lies. Tina yang pertama kali mngikuti pindah ke Pekalongan pada tahun 1885, dan memulai usaha batik, mengikuti sahabatnya disana yaitu Lien Metzelaar. Lalu Lies Van Zuylen juga mengikuti suaminya, Alphons, Pindah ke Pekalongan pada tahun 1888.

big_24463443_0_800-526

Dia kemudian mempelajari usaha batik melalui kakaknya. Tina kemudian pindah lagi ke Kemayoran Kecil pada tahun 1920, dan meninggal dunia pada tahun 1930. Lies tetap tinggal di Pekalongan meneruskan usaha batiknya. Usaha batik Van Zuylen berkembang pesat, dan ia mampu menaikkan perekonomian keluarga dan pindah kekawasan yang lebih bergengsi di Heerenstraat, Pekalongan.

Batik Van Zuylen biasadisebut  “panselen”. Motif paling popular yang ia ciptakan adalah Buketen, yang berasal dari Bahasa Perancis, Bouquet, yang artinya adalah serangkaian bunga. Biasanya pola buketan disusun berulang pada bagian badan kain. Pada bagian kepala terkadang menampilkan pola buketan yang berbeda dengan bagian badan.

Artist-03

Ia membuat desain buketan, terkadang mengambil referensi dari majalah yang digunting dan diatur letaknya hingga menyerupai buket. Terkadang ia mencampur bunga musim semi dan bunga musim gugur, bunga dari Indonesia dicampur dengan bunga Belanda. Pencampuran itu menimbulkan kesan keakraban. Karya batiknya menampilkan kombinasi warna yang cantik, dan kerap menampilkan warna pastel yang lembut.Pada akhir masanya, ia juga menampilkan motif buketan dengan gaya pagi sore.

Motif buketan panselen ini banyak ditiru oleh pembatik lain. Pembatik keturunan Tionghoa kerap menampilkan motif buketan. Salah satu perbedaannya, buketan ala tionghoa menampilkan detail yang kompleks baik di ragam hias maupun di latar.

Sementara buketan panselen menampilkan latar yang tidak terlalu rumit. Walau demikian, Van Zuylen juga kerap meniru motif-motif batik ala keturunan Tionghoa. Eliza meninggal dunia akibat diabetes di biara suster ordo Fransiskan, dan dimakamkan di Pekalongan pada tahun 1947.

Demikian 4 pengusaha batik yang sukses pada zaman kolonial. Para pengusaha ini membuktikan bahwa batik mampu untuk terus berkembang dan dapat diterima semua bangsa dan negara. Dengan munculnya para pengusaha batik ini membuat perkembangan batik pada zaman kolonial Belanda sudah mulai berkembang lebih pesat.

Diluar zona keraton dan masyarakat Indonesia, batik juga mampu menarik minat pasar luar negeri. Hanya tinggal bagaimana kita mampu untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang batik dan segala pernak perniknya.

Terima Kasih Telah Berkunjung dan Membaca

Salam hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *