Kehidupan dari Sudut Pandang Batik, Jadah Goreng, dan Kopi Hitam

Beberapa puluh juta tahun yang lalu, di depan sebuah angkringan dengan suasana lampu yang remang di depan alun-alun kota itu, Karanganyar. Kami mulai membicarakan tentang politik dan segala macam intriknya.

Setelah dirasa membosankan, kami mulai bercengkrama tentang batik, tentang jadah, dan tentang kopi, semua tentang sudut yang tidak pernah perlu dibicarakan.

Dimulai dengan Jadah Goreng panas yang mulai membuat seolah rindu itu mengerang kesakitan. Jadah itu adalah makanan klasik, entahlah, susah sepertinya menjelaskan. Terbuat dari ketan yang direbus sampai matang, kemudian “dijojoh” sampai halus sampai memiliki tekstur yang lembut.

Sama sekali tidak menarik perhatian, namun, dari situ kami mulai mencoba mencicipi kehidupan khas Jadah Goreng. Kehidupan yang agak alot ketika dimakan, dan semakin keras ketika didiamkan saja.

Tidak pernah ada kehidupan yang mudah, semua berat dan cenderung semakin sulit. Dan faktanya, semakin banyak paradigma yang hanya menyentuh bagian terluar jadah goreng itu.

Ah, sudahlah.

Segelas kopi hitam kemudian meredakan “seret” jadah yang mengurung tenggorokan. Dan tidak berbeda, kopi itu pahit, dengan ampasnya. Lagi-lagi kami berpikir, memang kehidupan itu pahit, pekat dan menyisakan ampas.

Selagi semuanya terasa manis, kami memilih pahit dan getirnya kehidupan. Akan kami menambah gula untuk meredakan pahitnya. Tetapi kami urungkan. Mengapa harus membuat kopi itu manis ketika itu hanya fatamorgana. Sesaat saja rasa manis itu terasa.

Terkadang, yang kita nikmati tidak pernah ingin mengungkapkan cintanya lewat rasa yang manis atau jalan hidup yang lembut. Tetapi beberapa dari mereka mencoba mengungkapkan kehidupan yang apa adanya, yang harus dijalani setiap pahitnya, setiap kerasnya kehidupan.

 Tidak pernah ada cara yang mudah untuk menjadi sesuatu yang apa adanya, yang ada hanyalah dari sudut mana kita bisa memahami semua yang kehidupan ajarkan.

Kami berdebat lagi mengenai jadah itu sembari menyisir kopi dengan pinggiran gelas yang tidak berampas. Jadah goreng itu mulai terbiasa melengkapi secangkir kopi pahit sedikit gula. Jadah goreng itu seperti berjodoh dengan kopi pahit. Mereka berdua mencoba saling melengkapi malam yang terhitung hampir seperempat abad.

Kami mulai menghitung mundur cerita kami, menceritakannya dalam selembar kain batik, melukiskan batik dalam sebuah motif parang gendreh.  Dengan sebuah harapan kami mampu menghadapinya dengan keberanian, menghadapi setiap kerasnya kehidupan dan pahitnya perjalanan.

 Tidak perlu merubah kopi, tidak perlu mengganti jadah goreng ini.

Buat kami, kehidupan adalah segala rasa yang harus dinikmati.

Salam Hangat dari Jadah Goreng dan Kopi Pahit

Dalam remangnya lampu kota Karanganyar

-prajnaparamita-

Posted in Story.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *