Dewi Dresanala dan Lahirnya Penakluk Para Dewa dari Kawah Candradimuka [Bagian II]

 Bunga teratai itu mekar dengan sempurna, di atasnya tertidur seorang wanita dengan rambut yang terurai, memejam dalam kelam gelap malam bulan purnama. Dialah Dresanala, yang pingsan karena ajian banaspati sang romo, Batara Brahma. Ajian itu mengenai punggu Dresanala, lebam dan membakar jiwa Dresanala hingga runtuh jatuh menuju bumi Kendalisada.

Diselamatkan kera putih yang melihatnya jatuh dari langit Daksinageni. Redup remang malam itu terlihat seperti cahaya yang menyambar Dresanala. Laksana kehendak sang Hyang Wenang tidak ingin Dresanala menemui ajal yang belum waktunya.

Kera Putih itu terlihat bijaksana dengan ekornya yang berputar-putar, senyumnya ramah penuh kedamaian. Memakai kain hitam putih bang bintulu, menunjukkan bahwa kera ini bukan kera biasa. Seorang kera pertapa yang sakti, yang sudah penuh dengan ilmu-ilmu yang sangat dalam.

Di atas teratai Dresanala mulai membuka mata, mencoba memegang kandungannya. Setelah memastikan kandungannya tidak kenapa-kenapa, Dresanala meraih rambut panjangnya yang tidak beraturan. Sekaligus menyadari bahwa punggungnya luka lebam dan menghitam.

Dresanala baru sadar ada kera putih yang berjongkok di tepian daun bunga teratai itu, sedang berbicara dengan seseorang yang bertubuh pendek, lebih pendek dari embannya di Daksinageni. Berbicara dengan nada yang lucu  dan terkesan bercanda. Tetapi dari pakaiannya terlihat bahwa orang pendek itu adalah Narada, Batara Narada.

Ceria dan periang, seorang Batara yang tinggal di Khayangan Sudukpangudaludal. Berbicara sembari tertawa dengan sang kera putih. Nampak sang kera juga tidak berkurang hormatnya. Dresanala mengenali Batara itu, seorang patih di Suralaya, khayangan para Batara, tempat tinggal Batara Guru, pemimpin para dewa.

Dresanala pun tak berkurang cemasnya, tidak akan mungkin untuknya menghadapi seluruh bala tentara khayangan. Apalagi dengan patih suralaya yang meskipun berbadan pendek, kesaktiannya pasti sudah berlebih. Apakah Batara Narada akan menangkapnya untuk dibawa ke Suralaya?

Sejenak Dresanala memulihkan diri, kemudian beringsut untuk pergi meninggalkan aroma teratai yang mewangi itu. Paling tidak menyelamatkan sang jabang bayi. Belum sampai Dresanala berdiri, sang batara sudah berada di depannya, bersama sang kera putih.

“kodok blegudug monyor monyor, howelo howelo, prekencang prekencong waru doyong…sudah sadar kamu Ngger Dresanala anak ulun..” Batara Narada membuka pembicaraan dengan suara cempreng ditambah tangannya yang pendek berputar-putar.

“Dresanala menghaturkan sungkem pukulun Batara Narada..” jawab Dresanala sembari merapikan rambutnya yang tergerai liar, ia menggelung, dan mengikat rambutnya dengan rapi.

“iya..iya.. Ngger, ulun terima pangabektimu, seluruh khayangan sedang mencarimu Ngger Dresanala..” Narada melanjutkan bicaranya dengan setengah tertegun memandang wajah ayu putri Batara Brahma tersebut.

“Dresanala tahu pukulun, kalau pukulun Narada dan Resi juga ingin membawa Dresanala menuju Suralaya, setidaknya biarkan jabang bayi ini lahir dua masa lagi pukulun..”  tegas Dresanala dengan mata mulai berkaca-kaca.

“howelo..howelo..tidak Ngger, ulun sudah tahu kelakuan para dewa yang serampangan dan seenaknya saja. Tetapi ulun dan Begawan Maruti tidak yakin bisa menunggu dua masa menahan anak-anak  Batara Guru, Ngger” dengan bijaksana Narada menjawab seolah tahu kemauan Dresanala.

“Kalau begitu biarkan Dresanala pergi mencari tempat untuk sembunyi pukulun, Dresanala akan menuju Amarta untuk menemui Arjuna” sembari bersiap pergi meninggalkan Kendalisada.

“howelo..howelo, kalau begitu biarkan diantar Begawan Maruti Ngger, sementara ulun mencoba menenangkan khayangan. Tolong Begawan Anoman, Dresanala ditemani sampai Negeri Amarta.” Perintah Batara Narada kepada Resi Kera Putih Begawan Anoman.

“sendiko dawuh pukulun..” jawab sang Begawan sembari menghaturkan sungkem.

 

Sementara itu di tempat lain, putra Batara Guru yaitu Dewasrani yang rencananya akan dijodohkan dengan Dewi Dresanala tidak terima mendengar kabar bahwa Dresanala sudah diperistri Arjuna tanpa sepengetahuan khayangan. Dewasrani mencoba menemui sang ibu di Setragandamayit untuk meminta bantuan sang ibu, Dewi Durga yang juga merupakan istri Batara Guru.

Aroma yang pekat dan berbau tidak sedap seperti sudah berteman dengan nafas penunggu Setragandamayit, ratu dari setan dan siluman, Dewi Durga. Pohon-pohon di sepanjang jalan meranggas layaknya tanah tandus yang tidak pernah terjamah air. Kabut tebal menghitam mengaburkan pandangan, jerit suara-suara menyeramkan selalu bernyanyi di kegelapan malam.

Dewasrani ingin meminta bantuan sang ibu untuk merebut Dresanala kembali, dan membunuh keturunan Arjuna yang berada dalam kandungan Dewi Dresanala. Sang Durga yang sebenarnya tidak ingin ikut campur urusan Suralaya harus menuruti kemauan sang anak lelaki.

Setelah merapal ajian, sekejap kemudian mendapatkan penglihatan dimana tempat Dewi Dresanala, Dewi Durga langsung menuju Kendalisada untuk merebut Dresanala dan membunuh sang jabang bayi. Dengan menaiki singa yang berekor ular melesat secepat kilat bersama Dewasrani.

Kembali ke Kendalisada, Dresanala sudah bersiap menuju Amarta, paling tidak di Amarta ada Ismaya dan keluarga Pandawa yang bisa menyelamatkannya. Diiringi Begawan Maruti yang meloncat diantara pepohonan, Dresanala terbang ringan sambil memegangi kandungannya.

Melayang diantara udara dingin malam, suara celepuk memandang bulan purnama yang mulai tertutup awan menghitam. Tidak ada mendung dan hujan, sebuah kilatan petir menyambar pohon beringin hingga terbakar habis. Dresanala terkejut, belum sampai dia menerka apa yang terjadi, kilatan kedua datang tepat menuju sang Dewi yang terbang.

“Jelegarrr….”

Suara itu mengejutkan Resi Maruti yang kemudian menatap langit, terlihat Dresanala untuk kali kedua terjatuh dari langit. Dengan sigap sang Resi menggayuh tubuh Dewi Dresanala kemudian meletakkannya di bawah rindang bunga dahlia.

Sembari menggeram Resi Maruti kembali melihat langit dan melihat salah satu putra Batara Guru yaitu Batara Indra, penguasa guntur dan petir berdiri di atas gajah tunggangannya. Semakin menyeringai Resi Maruti melihat Indra melayangkan petir ke Dewi Dresanala tanpa peringatan.

“Dewa-dewa bedigasan tidak tahu aturan.. jangan engkau penguasa petir Indra, lawanmu aku Resi Kendalisada, turun dan rasakan amarah kera putih wahai Indra..” teriak sang Resi memecah heningnya malam, membuat gagak terbang, dan rusa berjingkat pergi menjauhi hutan.

“Duh Resi, ulun cuma di utus Batara Guru, tidak usah kau ikut campur kalau tidak mau ekormu tersambar Bajramusti..” muka Batara Indra menghitam kejam menatap Resi Maruti

“tidak peduli kau dewa, batara atau hanya anak bodoh tidak tahu baik dan benar, Indra, aku kirim kau ke Suralaya babak belur..” ancam Resi dengan menggeram dan mengepalkan tangannya, terbang melancarkan pukulan kepada Batara Indra.

Sementara itu, ketika sang Resi bertarung dengan Batara Indra, Dewi Durga dan Dewasrani mendekati Dresanala yang tidak sadarkan diri. Memanfaatkan kesempatan itu, Dewi Durga dengan cekatan merapalkan ajian dan meletakkan tangannya ke arah perut Dewi Dresanala. Taringnya mengkilap diantara kegelapan bayangan pohon randu diterpa bayu.

Teriakan Dresanala mengejutkan sang Resi dan Batara Indra, pun Batara Narada yang akan kembali ke khayangan kembali terbang menyusul suara itu. Teriakan yang membuat hilir semilir angir berhenti. Sejenak setelah jeritan Dewi Dresanala, sebuah cahaya keemasan yang dibalut dengan jilatan-jilatan api yang membakar sekitarnya. Membuat Dewi Durga dan Dewasrani mundur beberapa langkah.

Lidah-lidah api itu liar membakar yang ada di dekatnya kecuali Dewi Dresanala. Batara Indra dan Resi Anoman yang tersilaukan dengan cahaya keemasan itu segera berhenti hendak turun ke bumi. Dewi Dresanala yang beberapa waktu lalu tersadar kembali pingsan dan tersandar di atas dedaunan pohon mahoni yang berserakan.

Dalam sekejap cahaya keemasan itu dibungkus selendang oleh Dewi Durga kemudian terbang menjauhi hutan. Sementara Dewasrani mengangkat Dewi Dresanala kemudian membawanya terbang ke arah yang berlawanan. Sang Resi yang ingin mengejar, bingung siapa yang harus dikejar. Bahkan Indra kemudian linglung tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Sang Resi berlari di atas dahan pohon pohon rindang nan tinggi memutuskan mengejar sang Dewi Dresanala. Indra yang sedari tadi termenung kembali melesat menuju awang-awang kemudian tidak terlihat.

Di tengah perjalanan Dewasrani berpapasan dengan Batara Narada yang berusaha sekencang mungkin mengejar arah jeritan Dresanala. Sekelebat penglihatan Narada bahwa Dresanala dibawa terbang menuju arah Suralaya.

Belum habis Narada terkejut, Resi Maruti terlihat meloncat-loncat cepat penuh kekhawatiran. Batara Narada kemudian terbang merendah menemui sang Resi. Suasana yang ribut dan kalut membuat Narada  bingung tetapi tidak ingin ceroboh memutuskan apa yang harus dilakukan. Setelah mendengarkan cerita dari Resi Maruti, Batara Narada mengambil keputusan.

Sang Narada menyuruh Resi Maruti menuju Amarta untuk melaporkan kejadian ini kepada Ismaya, sementara ia akan mengejar Dewi Durga yang mengarah menuju Kawah Api Candradimuka. Dengan pertimbangan bahwa Dresanala tidak akan kenapa-kenapa apabila hanya dibawa ke Suralaya.

Dengan sekejap keduanya terpisah menuju tempat tujuan masing-masing. Batara Narada berusaha memangkas waktu karena sudah dapat dipastikan Dewi Durga akan membuang sang jabang bayi ke Kawah Candradimuka. Keyakinan itu muncul karena apabila hanya orang biasa yang menuju Kawah Candradimuka pasti sudah kehilangan nyawanya meskipun baru sekali melangkahkan kaki.

Dalam sekejap, Batara Narada sudah sampai di lereng Kawah Candradimuka. Sepanjang jalan yang dia lihat berisi tulang belulang dan mayat para raksasa yang terkapar antara hidup dan mati. Seperti melihat pintu neraka yang menyeramkan. Di ujung jurang kawah Candradimuka, samar-sama Sang Batara melihat sosok perempuan yang tinggi besar bermata merah dengan rigma acak-acakan. Sorot matanya memerah menandakan bahwa Batara Narada tidak salah, disanalah Dewi Durga.

“hooo..bojleng..bojleng hentikan kelakuanmu yang tidak sesuai dengan pangarsamu sebagai Dewi Setragandamayit Dewi Uma..” batara Narada memanggil Dewi Durga yang juga istri Batara Guru.

“Bocah ini lahir bukan kehendak dewa Patih Narada, ingsun hanya ingin meluruskan darah keturunan khayangan, Patih tidak perlu ikut campur, jabang bayi ini akan patigeni dengan lahar Candradimuka..” tanpa melihat ke arah Batara Narada yang mencoba bernafas diantara menyengatnya bau belerang Kawah Candradimuka.

Tidak membutuhkan waktu lama, Dewi Durga melemparkan jabang bayi yang sedari tadi berada dalam selendangnya ke dalam Kawah Candradimuka. Batara Narada terkesiap, terkejut karena tidak siap menghadapi. Berusaha terbang meraih sang jabang bayi yang meluncur deras menuju kawah Candradimuka. Meskipun Batara Narada juga manusia sakti, namun aura panas kawah yang begitu dahsyat seakan-akan menghilangkan kekuatan sang batara. Maka tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan sang jabang bayi jatuh dalam kawah api yang menganga.

Candradimuka menelan bocah keemasan itu meleleh tenggelam dalam panas yang tidak terhingga. Tiada tangisan maupun jeritan kecuali suasana yang kelam mencekam, langit yang seketika padam menutup bulan purnama malam itu. Gemuruh kobaran api membumbung tinggi menaungi lereng-lereng kawah. Jalan setapak Balagadewa seperti riang gembira mendapatkan tawur bayi suci yang dilemparkan oleh Batari Durga.

Durga yang tertawa puas meninggalkan Batara Narada yang tidak hentinya tertegun karena tidak mampu menyelamatkan sang jabang bayi. Tertunduk dengan kedua kakinya penuh penyesalan yang luar biasa. Apa yang akan dikatakannya nanti pada Arjuna.

Namun.

Kesedihan Batara Narada berhenti seketika ketika sebuah gempa dahsyat mengguncang Candradimuka, kobaran api menggulung liar seorah ingin membakar apapun yang dilewatinya. Lebih dari itu dari dalam kawah muncul sosok yang diselubungi api yang menari-nari di sekitarnya. Batara Narada berusaha memundurkan langkah menghindari panas yang dirasa sangat luar biasa.

Dari selubung api itu Batara Narada dapat melihat sosok lelaki telanjang yang gagah dan tampan. Dengan mata yang menyala tajam seperti bara api yang panas, rambutnya berkibar seperti api di sekitarnya, percikan nyala api yang meronta layaknya ingin melampiaskan amarah tiada terkira.

Kilatan dan gemuruh petir serasa menaungi Kawah Candradimuka. Gelap yang sedari tadi menutupi Balagadewa menghilang, jeritan para raksasa seketika menghilang, hanya suara gemuruh kawah Candradimuka yang riang menuju awang-awang. Layaknya sangat ketakutan dengan sosok yang lahir dari kobaran api mengerikan Kawah Candradimuka.

Dari dalam kobaran api, lelaki itu melesat menuju Batara Narada dengan pukulan tangan kosong yang mencoba ditahan Batara Narada. Pertempuran tidak bisa dihindari, gelegar suara pukulan yang beradu mengejutkan seluruh jagad.

Siapakah lelaki ini?

-prajnaparamita-

Img Source : Google Images

Posted in Story, Wayang Kulit and tagged , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *